Suroboyo.id – Apakah kamu salah satu penikmat cerita fiksi? Jika iya, kamu berada pada artiket yang tepat.

Cerita fiksi memiliki sifat yang unik sebagai karya sastra, salah satunya yaitu menghibur para pembacanya. Selain itu juga memiliki wadah imajinasi yang lebih besar untuk para penikmatnya.

Dari sifat yang imajinatif tersebut memiliki bentuk dan jenis yang sangat luas. Mulai dari cerita fiksi ilmiah, sejarah, pendidikan, yang memang berdasarkan pada kefaktualan.

Baca juga: Ciri-Ciri Cerita Non Fiksi Beserta Jenis dan Contohnya

Jenis-Jenis Cerita Fiksi

Fiksi historis

Contohnya novel fiksi historis yaitu Darji Zaidan seperti Bendera Hitam dari Khurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia, dapat dipandang sebagai fiksi historis.

Novel historis berkaitan dengan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh penulis. Melalui sumber akurat, maka penulis bisa memberi kisah fiksi melalui pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan.

Fiksi biografis

Fiksi biografi merupakan karya sastra imajinasi dari penulis. Teks fiksi ini memunculkan bentuk dialog yang dibuat oleh penulis.

Contohnya yaitu Kuantar Kau ke Gerbang (Ramadhan K. H.), Tahta untuk Rakyat (Mochtar Lubis), dan Sang Pencerah (Akmal Nasery Basral).

Fiksi sains

Berbeda dengan historis dan biografis, fiksi sains berhubungan dengan fakta ilmu pengetahuan. Contohnya novel George Orwell berjudul 1984.

Cerita pendek atau cerpen

Teks fiksi terdiri dari prosa pendek atau cerita pendek.

Baca juga: Filosofi Teras, Sinopsis, dan Kutipan Motivasi: Buku Pengantar Filsafat Panduan Moral Anak Muda,

Novelet

Novelet merupakan teks fiksi yang lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. Segmentasi novel bisa beragam, ada novel remaja (teenlit), novel dewasa, dan novel untuk anak-anak.

Novel

Novel adalah cerita berbentuk prosa yang memiliki unsur-unsur teks fiksi lebih luas dan rinci. Konflik yang dibuat oleh penulis lebih rumit.

Cerita anak

Cerita anak bisa berbentuk prosa. Rentang pembaca adalah anak-anak dibawah 14 tahun.

Dongeng

Dongeng merupakan hasil khayalan dari penulis yang unik dan tidak nyata.

Fabel

Fabel adalah cerita rekaan binatang. Teks fiksi ini menceritakan tokoh binatang yang bisa bicara seperti manusia. Contoh fabel yaitu si Kancil yang Cerdik.

Hikayat

Hikayat adalah cerita, cerita sejarah, dan cerita romantis fiksi. Tujuan hikayat ini untuk membangkitkan semangat, pelipur lara, dan meramaikan pesta. Contoh hikayat yaitu Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Seribu Satu Malam.

Legenda

Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian, bisa berupa asal usul daerah. Contoh legenda adalah Malin Kundang, asal mula Candi Prambanan, dan Tangkuban Perahu.

Mite

Mite berhubungan dengan kepercayaan masyarakat yang mengandung kisah gaib dan kekuatan. Contoh mite yaitu Nyi Roro Kidul.

Cerita Perumpamaan

Merupakan sebuah dongeng yang berisi tentang nasihat dan mendidik. Contoh cerita perumpamaan tentang Haji Bakhil.

Cerita Penggeli Hati

Teks fiksi ini menceritakan unsur komedi dan kritikan yang ditujukan pada perilaku manusia atau masyarakat. Contoh cerita penggeli hati yaitu si Kabayan.

Baca juga: Review Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson

Unsur dalam Cerita Fiksi

Ada lima unsur cerita fiksi, yakni tema yang akan menjadi gagasan utama dalam membuat karya.

Kemudian, tokoh atau pelaku yang ada di dalam karya sastra tersebut. Adapun, tokoh dibedakan menjadi dua, protagonis atau tokoh positif dan antagonis atau memiliki nilai-nilai negatif.

Selanjutnya, ada alur yakni kejadian yang ada di dalam cerita.

Lalu, latar sebagai tempat, lingkungan, dan waktu kejadian di mana cerita tersebut dikisahkan.

Terakhir adalah amanat sebagai pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca, biasanya berupa nilai yang bisa dicontoh atau teladan.

Contoh Cerita Fiksi

1. Rawa Pening

Pada suatu masa di zaman dahulu hiduplah seorang anak yang sakti yang dengan kesaktian tersebut membuat seorang penyihir jahat menjadi iri kepadanya.

Karena merasa tersaingi, penyihir jahat itu dengan teganya melakukan sihir kepada anak itu, efek dari sihir itu membuat badan anak tersebut badannya penuh luka dengan bau yang sangat menyengat dan akhirnya tidak ada seorang pun yang mau mendekat kepadanya.

Suatu hari anak sakti ini mendapatkan mimpi, bahwa sebenarnya ada seseorang wanita yang bisa mengobati penyakitnya tersebut. Lalu anak itu pergi mendatangi setiap kampung untuk mencari perempuan tersebut.

Tapi karena luka dan baunya yang keluar sangat mengganggu anak ini senantiasa di usir oleh masyarakat. Mereka merasa jijik dan mengusirnya dengan kejam.

Tiba pada suatu waktu ada pesta, dan anak ini dapat masuk dalam pesta tersebut, tapi beberapa orang mengusir dan mencaci maki. Kemudian diseret keluar, ketika diseret ia berpesan kepada orang yang ada di pesta tersebut.

“Dengan menancapkan satu lidi di atas tanah dan hanya dirinya yang dapat mencabutnya”

Anak tersebut melakukan hal itu karena merasa kesal atas perlakuan mereka kepadanya. Beberapa orang mengabaikan perkataan anak tersebut tapi mereka juga penasaran dengan ucapannya dan mencoba mencabut lidi itu, namun tidak seorang pun yang dapat mencabutnya.

Hingga tanpa orang sadari anak itu mencabut lidi tersebut dan keluarlah air dan menjadi mata air, semakin lama air yang keluar semakin deras hingga menenggelamkan daerah itu, hingga menjadi telaga yang di beri nama rawa pening.

Tidak ada satu orang pun yang selamat kecuali wanita yang telah menolongnya, serta memberikan rumah dan merawatnya.

Baca juga: Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer: Sinopsis, Sejarah dan Penghargaan Bumi Manusia

2. Bos yang Berwibawa

Seorang bos di sebuah perusahaan besar tiba-tiba melakukan inspeksi mendadak ke pabriknya untuk melihat kinerja para karyawannya. Di pabrik keempat, ia menemukan seorang pria muda yang tengah bersandar di dekat pintu, tampaknya ia tengah bersantai.

Semua pekerja yang ada di ruangan itu tengah sibuk bekerja, kecuali dirinya. Si bos segera menghampir pemuda tersebut dan bertanya, “Berapa gajimu seminggu?”

Dengan sedikit terkejut, pemuda itu melihat ke arah si bos dan berkata, “Hm.. sekitar 100.000 per minggu, kenapa memangnya?”

Si bos mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar uang 100 ribu-an. Ia mengulurkannya pada si pemuda, “Ini gajimu untuk dua minggu dan cepat pergi dari sana. Aku tak mau melihatmu lagi!”

Dengan keterkejutan luar biasa dan juga takut, si pemuda segera meninggalkan tempat tersebut tanpa banyak bicara.

Lalu dengan muka berwibawa si bos melihat para stafnya yang sedari tadi memperhatikan adegan itu. “Adakah yang tahu, dari divisi manakah pemuda pemalas tersebut?” tanya si bos.

Suasana menjadi hening sampai akhirnya seorang staf menjawab dengan sedikit ketakutan, “Ia tak bekerja di sini. Ia adalah pengantar pizza yang mengantar pesanan.”

Baca juga: Review The Secret: Buku Best Seller Karya Rhonda Byrne

3. Si Kancil dan Buaya

Suatu hari Si Kancil sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar dan melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap karena pohon-pohon sangat lebat.

Si Kancil ingin berjemur di bawah terik matahari. Di sana ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa ada yang berbunyi di perutnya.

Wah, rupanya Si Kancil sudah lapar. Si Kancil membayangkan betapa nikmatnya kalau ada makanan kesukaannya yaitu metimun.

Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Si Kancil berfikir sejenak. Tiba-tiba Si Kancil melompat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluaaaaar….. Aku punya makanan untukmu…!!” seperti itulah si Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sungai yang dalam itu. Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air, “Bruaaar… siapa yang teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.” “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang muncul bersamaan.

“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
“Begini buaya, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,” makanya kalian harus keluar semua untuk menghabiskan daging-daging segar ini.

Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua.

Baca juga: Sinopsis Novel Hujan Karya Tere Liye: Jangan Pernah Jatuh Cinta Saat Hujan

“Hei, teman-teman semua, ada makanan gratis nih! Ayo kita keluaaaar….!” pemimpin dari buaya itu berteriak memberikan komando.

Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya segera baris berjajar hingga ke tepi sungai di sebelah sana,”

“Nanti aku akan menghitung satu persatu.”

Lalu tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.

“Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata si Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil berteriak,

“Satuuu….. duaaaa….. tigaaaa…..” begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya yang satu ke buaya lainnya.

Hingga akhirnya si Kancil sampai di seberang sungai. Dan di dalam Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”
Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya, “Hai buaya-buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan.

Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak membawa sepotong daging pun?” “Sebenarnya aku hanya ingin menyeberangi sungai ini, dan aku butuh jembatan untuk lewat,” kata si Kancil.

“Haaaa!….huaaaaaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Awas kau kancil ya.. kalau ketemu lagi saya makan kamu,” kata buaya-buaya itu geram.

Si Kancil segera berlari menghilang di balik pepohonan dan menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun makanan kesukaannya.