Suroboyo.id – Cerita non fiksi merupakan cerita yang disajikan secara nyata, informatif, dan edukatif.

Dalam cerita nonfiksi penulis harus menyajikan cerita secara fakta dan peristiwa akurat sesuai dengan kebenarannya. Serta dilarang mencampuradukkan fakta dengan rekaan.

Beberapa jenis dari cerita non fiksi ini memuat beberapa elemen, yaitu deskripsi, informasi, peristiwa, tempat serta karakter yang memang benar terjadi.

Baca juga: Kitab Bulughul Maram PDF Versi Bahasa Arab dan Terjemahan Indonesia

 Ciri-ciri Bahasa Teks Cerita Non Fiksi

Membuat sebuah cerita baik fiksi maupun non fiksi harus memiliki alur dan aturan kaidah yang jelas. Hal ini bertujuan agar para pembaca bisa menjabarkan dan menangkap dengan jelas maksud dari pembahasan tersebut. Biasanya antara fiksi maupun non fiksi tidak berbeda jauh.

1. Menggunakan Kata Baku

Ya, ini merupakan salah satu kaidah yang biasa ada di buku-buku non fiksi. Cara penyampaiannya memang lebih kaku dan terkesan resmi formal sehingga tidak bisa sembarangan saja menambahkan kata-kata yang tidak termasuk dalam topik..

2. Gaya Bahasa yang Dipilih Formal

Walaupun gaya bahasa yang dipilih formal namun biasanya cerita non fiksi memang dituliskan dengan pembahasan santai sehingga tetap terkesan santai.

Hal ini dilakukan agar pembaca tetap menikmati jalannya pembahasan dalam cerita buku non fiksi tersebut.

3. Tidak Memasukkan Kata-kata Asing

Dalam karya ini, belum ada serapannya ke dalam pembahasan buku tersebut. Hal ini mungkin banyak tidak disadari oleh banyak orang, sekarang jika sedang membaca cerita non fiksi coba perhatikan dengan jelas semua bahasa yang digunakan.

Anda dapat mempelajari cara penulisan cerita non fiksi melalui buku 1 Jam Mahir Menulis: Panduan Belajar Menulis Fiksi & Nonfiksi sehingga dapat membedakan cara penulisan untuk cerita fiksi maupun non fiksi yang ada sehingga tidak terjadi kesalahan.

Baca juga: Filosofi Teras, Sinopsis, dan Kutipan Motivasi: Buku Pengantar Filsafat Panduan Moral Anak Muda,

Contoh Cerita Non Fiksi

Sejarah UNICEF

UNICEF adalah kependekan dari United Nations Children’s Fund atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa Bangsa.

UNICEF merupakan organisasi Internasional yang didirikan pada 11 Desember 1946 oleh Majelis Umum PBB.

Saat pertama didirikan pada 1946, organisasi ini diberi nama United Nations International Children’s Emergency Fund.

Kemudian pada 1953 kata “International” dan “Emergency” dihapus sehingga menjadi United Nations Children’s Fund.

Awalnya organisasi ini didirikan dengan tujuan memberikan bantuan kesehatan dan makanan darurat kepada negara–negara yang terdampak Perang Dunia ke-2.

Kemudian pada 1953 UNICEF ditetapkan menjadi bagian tetap sistem PBB, sekaligus memperluas tugasnya untuk membantu menangani kebutuhan anak–anak di negara berkembang.

Revolusi Rusia 1917

Revolusi pada Rusia dimulai pada tanggal 8 Maret 1917, di mana sekelompok perempuan ikut berkumpul di Petrograd karena terjadi kekurangan makanan serta semangat moral pendidikan, mulai terjadi penurunan dan tuntutan distribusi roti, yang diikuti dengan kasus pencurian di pabrik-pabrik roti.

Duma yang bertindak cepat dengan memproklamasikan sebuah pembentukan Pemerintahan yang Sementara pada tanggal 12 Maret 1917. Setelah tiga hari, Tsar Nicholas II menjadi turun tahta.

Revolusi Maret merupakan hasil dari kerusuhan dengan dipimpin oleh orang-orang yang telah mengalami kelaparan di daerah perkotaan yang terbukti dengan didukung oleh seluruh bagian negara.

Semua kelompok politik serta juga partai politik yang menginginkan terwujudnya suatu kemerdekaan serta demokratisasi.

Kemudian, pemerintah yang sementara memberikan sebuah pernyataan kedudukan yang sama di dalam hukum, pers, agama, parlemen, dan juga hak-hak dari para pekerja.

Revolusi Rusia ini memicu perubahan yang besar di negara Rusia, yang bermula dengan bentuk kerajaan absolut, kemudian berubah menjadi diktator proletariat dengan berdasarkan pada Doktrin Marxis.

Seluruh lembaga sosial, dengan bentuk negara sampai dengan keluarga batih, sudah mengalami perubahan dengan cara mendasar.

Baca juga: Review The Secret: Buku Best Seller Karya Rhonda Byrne

Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan pada tanggal 12 Mei 1998 terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya.

Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Mereka yang meninggal adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998).

Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti ini juga digambarkan dengan detail dan akurat oleh seorang penulis sastra dan jurnalis, Anggie D. Widowati dalam karyanya berjudul Langit Merah Jakarta.