Suroboyo.id – Buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap adalah karya dari Mark Manson.

Buku ini diterbitkan pertama kali dalam versi aslinya oleh percetakan HarperOne, sebuah divisi dari HarperCollins Publishers, dan dirilis pada 13 September 2016. Pada Januari 2019, lebih dari 3 juta salinan buku telah terjual.

Sedangkan versi terjemahan Bahasa Indonesia rilis sejak Februari 2018, diterbitkan pertama kali oleh penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Dalam satu tahun pertama (2018) buku ini telah cetak ulang sebanyak 14 kali.

Baca juga: Review The Secret: Buku Best Seller Karya Rhonda Byrne

Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson melalui blognya yang sangat populer telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia.

Ia kini menuangkan buah pikirnya yang keren itu di dalam buku hebat ini.

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.”

Manson menciptakan momen perbincangan yang serius dan mendalam, dibungkus dengan cerita-cerita yang menghibur dan “kekinian”, serta humor yang cadas.

Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya.

Baca juga: Filosofi Teras, Sinopsis, dan Kutipan Motivasi: Buku Pengantar Filsafat Panduan Moral Anak Muda,

Review Singkat Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoh Amat

  • Judul Asli : The Subtle Art of Not Giving a F*ck
  • Penulis : Mark Manson
  • Penerbit : Grasindo
  • ISBN : 978-602-452-698-6

“Apapun masalah Anda, konsepnya sama: selesaikan masalah, lalu berbahagialah. Sayangnya bagi banyak orang, rasanya hidup tidak sesederhana itu. Itu karena mereka menghadapi masalah dengan paling tidak satu dari dua cara berikut: penyangkalan atau mentalitas korban (hal. 37)”

Buku ini merupakan karya terjemahan atas “The Subtle Art of Not Giving F*ck”. Saking populernya buku ini, New York Times dan Globe and Mail sempat menganugerahinya sebagai buku terlaris.

Gaya bahasa Mark Manson pada buku bergenre pengembangan diri atau self-motivation ini terbilang cukup nyeleneh.

Baca juga: Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer: Sinopsis, Sejarah dan Penghargaan Bumi Manusia

Bagaimana tidak, sang penulis asli mampu untuk memberikan “wejangan” mengenai cara pandang kita dalam melihat kelemahan, makna kebahagiaan, cara bangkit dari kegagalan, dan sebagainya dengan diksi yang menyebalkan dan menyakitkan namun straightforward.

Ditambah lagi versi terjemahan ini sangat dapat menyampaikan pesan yang sama dengan versi Bahasa Inggrisnya.

Beberapa hal yang membuat Admin tertarik dengan buku ini yaitu pesan moralnya yang enteng tapi ngena banget. Misalnya, kita sebagai manusia harus mampu untuk mengakui kekurangan.

Ada kalanya kita mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu, bisa jadi karena kurangnya usaha atau skill kita dalam menjalaninya.

Baca juga: Sinopsis Novel Hujan Karya Tere Liye: Jangan Pernah Jatuh Cinta Saat Hujan

Akan tetapi, dengan mengakui kekurangan dan berdamai dengan diri sendiri lah cara kita untuk dapat selangkah lebih maju dan meraih kesuksesan itu.

Lalu, bersikap positif. Mungkin Anda sudah tidak asing dengan frasa “positive thinking”. Tapi, apakah kita mengetahui apa itu berpikir positif? Atau mampukah kita berpikir positif?

Nah, Manson dala tulisannya juga mengajak para pembaca untuk mengenali dan memulai berpikir positif, karena menyalurkan emosi negatif dengan berperilaku negatif justru tidak akan menyelesaikan masalah. Toh, dengan usaha dan doa yang tulus, everything’s gonna be ok, kan Rekan ASN? Hehehe.

Sesuai dengan judul bukunya, kita juga harus mulai menerapkan sikap “bodo amat”. Eits, bodo amat di sini jangan diartikan sebagai cuek ya, tapi kenyamanan menjadi sesuatu yang berbeda. Ini karena pada dasarnya semua manusia diciptakan dengan karakter yang unik dan bakat yang dapat diasah serta passion akan suatu hal.