Suroboyo.id – Menanggapi keluhan para nelayan lantaran tumpukan sampah yang menyebabkan penyempitan aliran sungai mangrove Wonorejo, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lakukan normalisasi.

Melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), pihaknya melakukan normalisasi saluran serta pelebaran sungai di kawasan Mangrove Wonorejo.

Petugas BSDABM melakukan normalisasi dengan jalan mengeruk endapan lumpur sekaligus pembersihan sampah di sepanjang sungai tersebut.

Dilansir dari laman Surabaya.go.id Mu’minin selaku Pengurus Kelompok Nelayan Rukun Makmur, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya, mendukung langkah pemkot dalam melakukan normaliasi sungai.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Terus Berbenah Sambut AFF U-20, Bau Sampah tak Tercium di GBT

“Menurut saya normalisasi sungai memang bagus dan setiap tahun memang harus ada normalisasi. Karena sungai juga butuh perawatan. Karena kalau tidak dirawat, maka sungai itu akan bertambah dangkal,” kata Mu’minin seperti dilansir dari Suroboyo.go.id.

Lebih lanjut, Mu’minin juga menilai bahwa banyak masyarakat yang kerap menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Ia juga berharap kedepan agar terbangun kesadarahn masyarakat untuk menjaga lingkungan sungai.

“Karena mereka masih menganggap sungai itu tempat sampah raksasa. Jadi yang bermasalah itu bukan hanya sungai dangkal, tapi juga sampah,” ujarnya.

Sebagai nelayan, tentu saja Mu’minin sangat terganggu dengan adanya sampah-sampah tersebut. Terlebih lagi, sampah akan sangat mengganggu kehidupan biota sungai dan pesisir pantai.

“Dengan adanya sampah itu kami pasti sangat terganggu. Karena kalau sungai banyak sampah, maka ikan-ikan di pesisir pantai akan hilang sendirinya,” tuturnya.

Oleh karenanya, Mu’minin mengapresiasi upaya pemkot melakukan normalisasi Sungai Mangrove Wonorejo. Meski demikian, kata dia, alangkah baiknya lagi ketika warga yang tinggal berdekatan dengan sungai tak lagi membuang sampah sembarangan.

“Tapi saya sangat bersyukur sekali kalau ada normalisasi. Artinya, sungai bisa dalam lagi tidak dangkal dan alirannya lancar lagi. Karena biasanya dalam satu tahun sungai dangkal lagi, dan sampah menumpuk di pinggir-pinggir sungai,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Eko Juli Prasetya sebelumnya mengatakan, bahwa pengerjaan normalisasi saluran rutin dilakukan sejak Mei 2022 dan berakhir mendekati musim penghujan. Tujuannya tak lain, yakni untuk mengembalikan lebar sungai seperti keadaan awal.

Baca Juga: Persiapan Kualifikasi Piala AFC U-20, Stadion GBT Pasang 15 Titik WIFI untuk Perkuat Sinyal

“Pengerukan memang untuk saluran sungai. Artinya, mengembalikan lebar sungai seperti semula. Dulu lebarnya 30 meter, di lapangan sekarang tinggal 20 meter dan yang 10 meter itu ditanami mangrove,” kata Eko.

Eko mengungkapkan, bahwa endapan lumpur hasil pengerukan diletakkan di jalan inspeksi sungai yang berada di sisi bagian samping sungai. Namun, jalur inspeksi tersebut ditanami mangrove oleh pegiat lingkungan. Nah, karena sungai dilakukan pelebaran, maka jalur inspeksi seharusnya juga dilebarkan.

“Semakin lebar sungai, maka jalur inspeksi juga akan semakin lebar. Nah, itu ada jalur inspeksi yang ditanami oleh tanaman mangrove. Ketika kita melakukan normalisasi, maka tumbuhan (di jalur inspeksi) tertimbun hasil pengerukan,” ujarnya.

Sungai yang dilakukan normalisasi ini, disebutkan Eko, bermuara menuju Mangrove Wonorejo dan Mangrove Kebon Agung Surabaya. Panjang sungai yang bermuara ke Mangrove Kebon Agung, dilakukan normalisasi mulai dari bozem Medokan Sawah hingga ke arah laut.

“Sedangkan dari Wonorejo, juga dari Pompa Air Medokan Ayu hingga ke arah laut. Itu yang dilakukan normalisasi karena ada pendangkalan dan penyempitan. Ketika musim hujan, kita berharap outletnya lancar ke arah laut,” tandasnya.