Suroboyo.id – Cerita fiksi merupakan sebuah karangan yang bersifat tidak nyata. Dalam membuat sebuah cerita fiksi tidaklah sulit jika Anda mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam cerita fiksi.

Jenis cerita fiksi sendiri terbagi menjadi beberapa genre yaitu cerita fantasi dan anekdot fiksi. Tujuan pembuatan cerita fiksi adalah untuk menghibur para penikmat cerita khayalan tersebut.

Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam cerita fiksi antara lain:

1. Tema yaitu gagasan dasar umum dalam sebuah karya.

2. Tokoh yaitu pelaku yang ada dalam karya tersebut.

3. Alur yaitu urutan kejadian yang ada dalam cerita.

4. Konflik yaitu permasalahan-permasalahan yang dihadapi para tokoh dalam cerita.

5. Klimaks yaitu akhir dari konflik saat konflik sudah mencapai intensitas tinggi dan merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari.

Baca juga: Cerita Fiksi: 3 Contoh Cerita Fiksi Beserta Jenis dan Unsur-Unsurya

6. Latar yaitu tempat, suasana, dan waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan.

7. Amanat yaitu pemecahan solusi dari penulis atas persoalan dalam cerita tersebut. Amanat biasanya mengandung pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis.

8. Sudut pandang yaitu pandangan penulis dalam menyampaikan sebuah cerita sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembacanya.

9. Penokohan yaitu cara penulis dalam menampilkan tokoh.

Berikut ini contoh Cerita Fiksi Pendek yang menarik dan inspiratif

1. Kebaikan Seorang Sahabat

Di suatu siang yang cerah, dua orang gadis bernama Rara dan Tina tengah mengerjakan tugas sekolah di rumah Rara. Mereka mengerjakan dengan serius dan suasana nampak hening.

Kemudian, seorang perempuan yang tidak lain adalah teman mereka berdua bernama Sinta datang. Namun, Rara seolah tidak mempedulikan kehadiran Sinta tersebut.

“Ra, itu di depan ada Sinta sedang nyariin kamu. Buruan kamu temui dia. Sudah sejak tadi dia nungguin kami di sana,” ujar Tina yang tengah mengerjakan tugas di rumah Rara.

“Bi, bilang saja ke Sinta yang ada di depan rumah kalau aku sedang pergi ke mana atau enggak ada gitu ya,” pinta Rara kepada Bibi yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya.

“Iya Non, Bibi sampaikan.”

“Ra, kenapa kamu seperti itu sama Sinta. Dia pastinya sudah datang jauh-jauh. Kenapa kamu usir. Enggak enak kan. Kasihan dia. Dia juga anak yang baik Ra,” ujar Tina menasihati Rara.

“Dari luarnya dia memang orang yang baik, ramah dan juga manis. Tapi, masa kamu mengukur sifat seseorang hanya dengan itu saja. Dia itu manis di luar namun di dalamnya pahit tahu,” jawab Rara setengah sinis.

“Pahit gimana Ra?” ujar Tina kembali bertanya.

“Dia itu sering membicarakan keburukan orang lain. Bahkan di belakang ia sering membicarakan temannya sendiri. Pokoknya banyak yang tidak dapat aku jelaskan, Tin.

Lihat saja diri kamu. Kamu memang judes, ceplas ceplos denganku. Namun, setidaknya kamu memiliki hati yang tulus, Tin. Bukan sahabat yang dari luarnya baik, tapi dalamnya busuk. Dalam berteman, aku tidak membutuhkan tampilan luar seseorang Tin,” jelas Rara kepada Tina.

Baca juga: Ciri-Ciri Cerita Non Fiksi Beserta Jenis dan Contohnya

2. Rajin Belajar

Ini merupakan hari senin yang sangat cerah. Sesudah melaksanakan upacara bendera, para siswa memasuki kelas mereka masing-masing dan mendapatkan pelajaran dari guru mereka. Di hari ini, ada beberapa pelajaran yang harus didapatkan oleh siswa, yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, PPKN, dan Matematika.

Mata pelajaran yang pertama adalah matematika. Bapak guru meminta kepada para murid untuk mengerjakan halaman 5 dan 6. Ketika para siswa tengah mengerjakan tugas tersebut, suasana kelaspun menjadi sangat hening.

Kemudian sesudah selesai, Bapak guru memberikan pesan kepada para siswa untuk mempelajari materi pembagian dan perkalian dengan soal cerita karena tes dadakan akan dilakukan sewaktu-waktu.

Pada siswa pun pulang setelah pembelajaran hari ini usai. Dwi, Rahma dan juga Tika pulang dengan jalan kaki bersama karena sekolah mereka tidak jauh dari rumah.

“Nanti bermain di rumahku yuk habis makan siang. Aku punya boneka baru hasil olah-oleh ibuku dari Bandung kemarin,” pinta Rahma kepada dua temannya.

“Asyiikk,” ungkap Dwi senang.

“Bagaimana Tika, apakah kamu bisa ikutan?”

“Aku tidak usah ikut saja. Aku ingin belajar di rumah karena pesan dari Bapak guru tadi kan kita harus belajar sendiri karena tes dadakan akan dilakukan sewaktu-waktu,” jawab Tika dengan wajah polos.

Setiba di rumah masing-masing. Tika langsung mengganti bajunya, kemudian makan siang, salat dan istirahat siang supaya nanti malam dia bisa belajar dengan baik dan konsentrasi. Mengenai materi buku yang kurang dipahami, sesekali ia bertanya kepada kakaknya.

Sementara Dwi dan juga Rahma asyik bermain hingga larut sehingga mereka pun tidak sempat mendalami materi. Keesokan harinya mereka pun berangkat bersama-sama. Sesampainya di kelas, ternyata Bapak guru benar-benar melakukan tes dadakan. Dwi dan Juga Rahma merasa sangat kebingungan mengerjakan soal. Alhasil, mereka pun mendapat nilai jelek. Mereka berdua akhirnya harus mengulang tes susulan.

Berbeda dengan Tika. Ia memperoleh nilai paling baik di kelas karena sudah belajar dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Dan Bapak guru pun meminta Dwi dan Rahma belajar kepada Tika.

“Wah, selamat ya Tika. Nilaimu maksimal. Besok-besok kita ikut belajar sama kamu ya.”

Baca juga: Sinopsis Novel Hujan Karya Tere Liye: Jangan Pernah Jatuh Cinta Saat Hujan

Penyihir Sombong

Di suatu desa yang damai dan tenteram hiduplah sepasang saudara kembar yang bernama Maman dan Momon. Keduanya memiliki kemampuan istimewa yaitu memiliki ilmu sihir.

Tapi sifat keduanya sangat jauh berbeda, Maman memiliki sifat yang sangat sombong dan kasar. Sedangkan Momon mempunyai sifat yang baik dan juga penyabar.

Momon adalah kakak dari Maman yang selalu melarang adiknya untuk menunjukkan kemampuan sihirnya pada teman-temannya.

Tapi karena Maman memiliki kemampuan yang lebih besar dari pada sang kakak, Maman akhirnya malah semakin menjadi-jadi dan tidak mengindahkan himbauan dari sang kakak.

Ia mengubah semua benda di rumahnya menjadi batu. Bahkan ia juga mengubah hewan peliharaan orang tuanya menjadi batu.

Sudah tidak terhitung berapa banyak nasihat dari Momon untuk tidak melakukan hal tersebut, namun maman tak pernah mendengarkan nasihat dari kakaknya tersebut.

Terdapat satu benda di rumahnya yang belum ia ubah menjadi batu, yaitu sebuah cermin. Ia mencoba membacakan mantra di depan cermin untuk mengubahnya menjadi batu.

Akan tetapi, nhas bagi maman karena bacaan mantra tersebut malah berbalik ke arahnya dan ia pun menjadi batu. Momon sangat bingung dan sedih lalu mengunjungi guru sihir hebat untuk mengubah kembali sang adik.

Namun, penyihir tersebut tidak bisa mengubahnya karena ternyata mantra tersebut bersifat abadi.

Dan yang bisa mengubahnya hanyalah orang yang membacakan mantra untuk mengubah benda menjadi batu atau Maman sendiri. Karena Ia telah berubah menjadi batu maka Ia tidak bisa mengucapkan mantra itu kembali.

Mamanpun sangat menyesal karena telah menyalahgunakan sihirnya dengan sombong dan tidak bisa kembali menjadi manusia.