Suroboyo.id – Cara menghadapi anak yang memiliki kepribadian hiperaktif. Hiperaktif pada anak merupakan sifat anak-anak yang selalu aktif secara konstan, bahkan terkadang disruptif.

Dilansir dari laman DP3APPKB Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, perilaku anak yang hiperaktif dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu kurang bisa memperhatikan (inatensi) dan tidak bisa diam (hiperaktif immpulsif).

Gejala anak hiperaktif pada kategori inatensi adalah sebagai berikut ini:

Baca juga: 5 Ciri-Ciri Anak Cerdas yang Wajib Diketahui oleh Orang Tua: Adakah Tanda pada Anak Anda?

  • Mudah teralihkan dan memiliki jangka perhatian yang pendek
  • Sering ceroboh dalam mengerjakan sesuatu
  • Mudah lupa atau kehilangan sesuatu
  • Selalu tidak tepat dalam menjalankan sebuah intruksi
  • Sulit mengikuti aktivitas yang menghabiskan terlalu banyak waktu
  • Kesulitan dalam mengatur tugas

Sedangkan untuk gejala anak hiperaktif pada kategoriImplusif adalah sebagai berikut:

  • Tidak bisa duduk diam, terutama dalam lingkungan yang tenang
  • Sellau merasa gelisah
  • Sulit berkonsentrasi saat mengerjakan tugas
  • Sering atau banyak bicara
  • Suka menggerakkan tubuhnya secara berlebihan
  • Sering atau banyak bicara
  • Tidak bisa menunggu giliran
  • Sering bertindak tanpa berpikir
  • Tidak memiliki rasa takut

Gejala-gejala di atas dapat berdampak pada aspek-aspek kehidupan anak seperti prestasi yang rendah di sekolah, interaksi sosial yang buru, dan tingkat disiplin yang tinggi.

Akan tetapi, hiperaktif pada anak-anak masih dapat diatasiĀ  dan dihadapi dengan dukungan dan pendampingan yang tepat. Dan berikut ini ulasannya.

Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

1. Jauhkan dari hal yang mengganggu konsentrasi

Anak hiperaktif sangat sulit berkonsentrasi. Maka, sangat penting untuk orangtua mengatur suasana yang nyaman saat si Kecil mengerjakan PR atau tugas harian di rumah.

Hindari untuk memaksanya untuk duduk tenang, karena hal ini justru akan membuat ia semakin gelisah.

Untuk mengurangi distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi, tempatkan anak jauh dari jendela, pintu, atau segala hal yang bisa menjadi sumber kebisingan.

Baca juga: 5 Penyebab Gangguan Tantrum pada Anak Usia Balita: Belum Bisa Merasakan Emosi yang Dirasakannya

2. Jadwalkan olahraga

Aktivitas fisik atau berolahraga bisa menjadi cara untuk menjaga keseimbangan konsentrasi anak hiperaktif. Olahraga yang bisa menjadi pilihan yaitu, bersepeda, berlari, atau karate.

Ini membantu anak untuk belajar mengatur energi, belajar disiplin, dan kontrol diri.

Orangtua juga bisa mengajaknya masuk ke tim sepak bola atau basket yang membuat anak belajar berinteraksi dengan anak lain. Kegiatan ini baik untuk mengasah keterampilan sosial si Kecil.

3. Buat jadwal yang terstruktur

Anak hiperaktif membutuhkan arahan yang jelas dan pola terstruktur untuk ia ikuti. Mengapa demikian?

Alasannya yaitu karena anak memiliki kecenderungan cepat cemas ketika tidak melakukan apa-apa.

Oleh karena itu, buatlah jadwal kegiatan yang sederhana dan terstruktur di rumah. Sebagai contoh, menentukan waktu untuk mandi, makan, bermain, belajar, sampai tidur dan sikat gigi.

Dengan adanya jadwal yang tersusun dan terencana dengan baik, otak si Kecil akan belajar menerima sesuatu yang lebih terstruktur.

Hal ini diharapkan dapat membuat anak lebih tenang dan fokus untuk melakukan sesuatu.

4. Membuat peraturan yang jelas dan konsisten

Beberapa orang tua memang memiliki caranya sendiri untuk mendisiplinkan anak. Ada yang mungkin menetapkan banyak peraturan, tapi ada pula yang lebih santai.

Namun sayangnya, anak hiperaktif tidak bisa dididik dengan cara yang santai. Mereka umumnya membutuhkan peraturan yang jelas dan konsisten.

Itu sebabnya, penting untuk menerapkan disiplin positif dan sederhana di rumah.

Berikan pujian ketika si Kecil memahami dan menuruti peraturan dan arahan yang diberikan.

Namun, ketika anak melanggar aturan tersebut, jangan lupa berikan konsekuensi dengan alasan yang jelas.

5. Bermain di luar rumah

Menghirup udara segar dan melakukan aktivitas fisik di luar ruangan membantu anak menggunakan energinya untuk kegiatan positif.

Kegiatan yang bisa dilakukan seperti berkemah, berjalan-jalan santai, atau hiking.

Baca juga: Berikut Gejala Gagal Ginjal Akut pada Anak yang Perlu Diwaspadai oleh Para Orang Tua

6. Redam amarah dan rasa kesal

Anak hiperaktif sering membuat orangtua kesal. Ia bisa menunjukkan perasaan dengan sangat jelas dan gamblang, entah itu kegembiraan atau ledakan kemarahan secara tiba-tiba saat suasana hatinya memburuk.

Meski begitu, orangtua disarankan untuk tetap tenang dan sabar. Hindari membentak anak dan memberikan hukuman fisik padanya.

Ingat, Anda ingin mengajarkan mereka untuk lebih tenang dan tidak agresif, bukan?

Jika Anda membentak atau memberikan hukuman fisik padanya, hal ini justru akan membuat kemarahan si Kecil semakin tidak terkendali.

Untuk membuat diri lebih rileks, coba ambil napas dalam-dalam lalu embuskan secara perlahan selama beberapa kali sampai merasa tenang.