Sinopsis Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata: Kisah Perjuangan dalam Menggapai Impian

Novel Laskar Pelangi
Novel Laskar Pelangi

Suroboyo.id – Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang berkisah tentang 10 anak yang berasal dari keluarga miskin, berjuang dalam menempuh pendidikannya di sekolahan sederhana yang berada di Belitong.

Novel Laskar Pelangi ini karya dari Andrea Hirata dan termasuk salah satu novel terpopuler di Indonesia. Bahkan pernah dijadikan sebuah film Indonesia yang sukses mendapat banyak penonton.

Novel Laskar Pelangi ini adalah karya pertama yang diluncurkan oleh penulis Andrea Hirata dan berhasil menembus royalti hingga Rp 4 Miliar dan sukses diterima dikalangan masyarakat baik anak-anak maupun dewasa.

Baca juga: Filosofi Teras, Sinopsis, dan Kutipan Motivasi: Buku Pengantar Filsafat Panduan Moral Anak Muda,

Dan berikut ini review dari novel Laskar Pelangi.

Judul: Laskar Pelangi

Penulis: Andrea Hirata

Halaman: 529

Tanggal publikasi: 2008

Penerbit: Bentang Pustaka

Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka.

Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan padamu negeri di akhir jam sekolah atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus, dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita.

Baca juga:Bacaan Ayat Seribu Dinar Serta Keutamaannya: Diyakini Dapat Membuka Kelimpahan dan Rizki

Sinopsis Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi menceritakan kisah kehdiuoan 10 anak hebat yang memiliki semangat juang untuk tetap bersekolah di kampung Gantung, Kepulauan Bangka Belitung.

Kesepuluh anak itu dinamai Laskar Pelangi, dan diantarnya bernama Ikal, Lintang, Sahara Aulia Fadillah, Mahar Ahlan, Syahdan Noor Aziz, Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman atau A kiong, Samson atau Borek, Mukharam Kudai Khairani, Trapani Ihsan Jamari, dan Harun Ardhili Ramadhan.

Mereka semua bersekolah di SD Muhammadiyah Gantung dan dibimbing oleh Bu Muslimah dan Pak Harfan.

Selama mereka bersekolah, mereka juga mendapatkan teman baru, seorang pindahan dari SD PN Timah bernama Flo.

Cerita dimulai dari penerimaan siswa dan siswi baru di SD Muhammadiyah Gantung dimana hanya ada 9 orang murid yang mendaftat. Hal ini membuat Bu Muslimah, Pak Harfan, serta seluruh orang tua murid merasa cemas.

Baca juga: 3 Jenis Bacaan Sholawat Nabi Serta Keutamaan Membacanya

Ini dikarenakan Pemerinta daerah setempat akan telah mengunumkan bahwa sekolah dasar Ini harus memiliki minmal 10 murid baru agar kegatan sekolah tetap berjalan.

Karena murid ke 10 yang ditunggu tidak datang-datang juga, Dengan kekecewaan yang mendalam, Pak Harfan harus menetapkan keputusan yang berat.

Namun, di tengah situasi tersebut, datanglah seorang murid baru yang menjadi penyelamat bagi sekolah, para murid baru, serta para orang tua atau wali.

Murid ini bernama Harun Ardhli Ramadhan, seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental namun memilki semangat yang tinggi untuk bersekolah. Kebersamaan mereka pun dimulai sejak saat itu.

Selama menempuh pendidikan, Bu Muslimah dan Pak Harfan mengajar dan membimbing mereka dengan penuh semangat dan dedikasi.

Para murid pun juga belajar dengan penuh semangat. Karena kekompakan dan semangat mereka, Bu Muslimah pun menjuluki mereka “Laskar Pelangi”.

Tidak hanya Bu Muslimah dan Pak Harfan, SD Muhammadiyah Gantung juga memilki guru yang juga merangkap sebagai kepala sekolah bernama Pak Harfan Effendi Noor.

Sama seperti kedua guru lainnya, beliau juga megajar dengan penuh semangat. Bahkan, beliau juga kerap kali menyelippkan kisah teladan nabi dan rasul.

Di tengah keterbatasan yang ada, para anggota “Laskar Pelangi” harus menghadapi berbagai rintangan untuk menggapai mimpi mereka.

Kisah perjalanan mereka akan diwarnai dengan berbagai macam pengalaman emosional baik itu yang membahagaikan maupun yang mengharukan.