Berita  

Jutaan Penjual TikTok Shop Diharapkan Beralih ke Platform Lain, Kata Menteri Perdagangan

suroboyo.id – Sejumlah jutaan penjual yang aktif di platform TikTok Shop tengah menghadapi ancaman keberlanjutan bisnis mereka akibat larangan transaksi di ranah social-commerce.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, memberikan pandangan bahwa para penjual ini memiliki opsi untuk beralih ke platform lain.

Menurut data dari TikTok Indonesia, saat ini terdapat sekitar 6-7 juta penjual yang aktif beroperasi di TikTok Shop.

Meskipun TikTok Shop beroperasi dalam ranah social-commerce, namun hingga saat ini belum memperoleh izin yang sesuai dari pihak berwenang.

Saat ini, peraturan baru yang diatur dalam Permendag 31/2023 telah mengeluarkan larangan bagi platform social-commerce untuk menjalankan transaksi jual-beli. Sehingga, jutaan pedagang yang berbisnis di TikTok Shop menjadi terancam kesulitan.

Zulkifli Hasan memberikan solusi, “Para penjual dapat mencari alternatif platform lain, seperti e-commerce. Namun, jika TikTok Shop ingin tetap beroperasi, mereka perlu mengurus izin yang sesuai, karena seharusnya aktivitas social commerce hanya diperbolehkan untuk keperluan promosi dan iklan.” Demikian pernyataannya dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Rabu (27/9/2023).

Mendag Zulkifli Hasan menegaskan, kala kegiatan yang boleh dijalankan oleh platform dengan izin social-commerce nantinya adalah sebatas promosi dan mengiklankan produk. Sementara, proses transaksi bisa dilakukan oleh platform berizin e-commerce.

“Promosi, ya silahkan. Yang gaboleh transaksi, jualan, dagang, buka toko itu gak boleh,” tegasnya.

Opsi lainnya, untuk bisa menjalankan proses bisnis jual-beli, TikTok Shop harus mengubah izin yang dikantongi menjadi e-commerce.

Kementerian Perdagangan mengatur kembali soal jenis perdagangan di platform elektronik. Pada konteks ini, akan ada pembeda jenis social-commerce dan e-commerce atau marketplace.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Isy Karim menjelaskan, menindaklanjuti Permendag Nomor 31 Tahun 2023, akan diikuti dengan aturan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Izin ini masih dalam proses perumusan.

Baca Juga :   Manchester United Comeback Gemilang, Bekuk Aston Villa 3-2 Meski Kebobolan Lebih Dulu

“Nanti di kominfo akan dipecah jadi 3, sekarang sedang berproses. Jadi ada yang namanya media sosial, sosial commerce dan ada e-commerce,” kata dia di Kementerian Perdagangan, Rabu (27/9/2023).

Isy menjelaskan, contoh yang terkini adalah praktik social-commerce seperti TikTok Shop. Dia menyebut, saat ini TikTok Shop tak memiliki izin sebagai social-commerce lantaran belum ada aturan jelas mengenai hal itu.

Untuk bisa menjalankan kegiatan saat ini, termasuk adanya transaksi jual-beli di platform, TikTok Shop harus mengurus izin baru. Yakni izin sebagai e-commerce.

“TikTok Shop sudah memiliki izin SIUP 3A atau Kantor Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing sebagai sosial commerce. Tapi kalau dia ingin ada transaksi di dalam itu, maka dia harus jadi e-commerce,” jelasnya.

Sementara itu, kalau pun TikTok Shop mengurus izin sebagai social-commerce, akan ada batasan yang diberlakukan. Ini mengacu pada Pasal 21 Permendag 31/2023. Disana disebut, social-commerce seperti TikTok Shop tak boleh menjalankan proses transaksi jual-beli.

“Untuk jadi e-commerce dia harus punya entitas badan usaha. Jadi bukan berarti TikTok Shop dilarang, tidak. Tapi diatur kembali,” kata dia.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan resmi menerbitkan aturan mengenai lingkup kerja dari social-commerce. Ini menegaskan kalau platform seperti TikTok Shop Cs akan dibatasi lingkup kerjanya.

Hal ini tertuang dalam Permendag 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Aturan ini hsil revisi dari Permendag 50/2020 yang sebelumnya berlaku.

Mendag mengatakan, terbitnya aturan ini bukan melarang aplikasi media sosial sebagai sarana dagang seperti TikTok Shop. Namun, mengatur kembali sesuai dengan ketentuan yang baru.

“Nah ini kita tata, kita atur. Kalau ada beberapa negara lain kan melarang, kita tidak. Kita mengatur, agar bukan persaingan bebas, tetapi persaingan yang fair dan adil. Bukan bebas tapi fair dan adil. Itu titik garis besarnya,” jelas dia dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Rabu (27/9/2023).

Baca Juga :   Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan Merespons Penyelidikan Korupsi Impor Gula: Tantangan Berlanjut

Perlu dicatat, dalam Permendag 50/2020, belum ada aturan soal model platform social-commerce. Namun, dalam Permendag 31/2023, akan membedakan tiga kategori, yakni media sosial, e-commerce, hingga social-commerce.

Sementara, saat TikTok Shop belum mengantongi izin sebagai social-commerce. Dengan demikian, TikTok Shop perlu memperbarui izinnya untuk menjalankan kegiatan saat ini. Dengan catatan perubahannya adalah ke izin sebagai e-commerce. Jika peralihan izin ke social-commerce, maka kegiatan transaksi tetap akan dilarang dan hanya untuk promosi.

“Social commerce, dia boleh iklan seperti TV, TV itu dia iklan, boleh promosi, boleh silahkan tapi, tidak boleh transaksional gak boleh buka toko, gak boleh buka barung gak boleh jualan langsung kreditnya apa gak boleh disitu ya, promosi boleh seperti media TV ya,” tuturnya.

“Artinya tidak diperkenakan transaksi pada sisi elektroniknya dan hanya dapat melakukan penawaran atau promosi barang dan jasa, transaksi langsung gak bisa tidak diizinkan dalam permendag yang diatur permendag 31 tahun 2023 ini,” sambung dia.