Inilah Profil Mohammad Yamin, Tokoh yang Merumuskan Ikrar Sumpah Pemuda

suroboyo.id – Sumpah Pemuda adalah hasil dari perjuangan para pemuda Indonesia yang berjuang keras untuk mempertahankan persatuan bangsa. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam merumuskan ikrar Sumpah Pemuda adalah Mohammad Yamin.

Mohammad Yamin, seperti yang dijelaskan dalam situs resmi Badan Bahasa Kemdikbud, adalah seorang penyair yang memiliki jasa besar di bidang kesusastraan Indonesia modern.

Dengan pemahaman luasnya tentang sastra, ia ditunjuk sebagai sekretaris dalam Kongres Pemuda II. Di Kongres tersebut, dia menyampaikan usulan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda.

Profil Mohammad Yamin dapat kita gali lebih dalam untuk lebih memahami tokoh ini. Simak Profilnya Disini

Profil Mohammad Yamin

Dikutip dari Buku Ajar Geografi dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori Untuk Ilmu Bantu Sejarah) oleh Rusdi Effendi (2020), Mohammad Yamin lahir pada tanggal 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia merupakan anak dari seorang mantri kopi yang kedudukannya cukup terpandang.

Dengan latar belakang keluarga yang berkecukupan membuat Yamin mampu mengenyam pendidikan menengah dan tinggi. Tercatat, pendidikan yang sempat diterima Yamin yaitu Hollands Inlands School (HIS) di Palembang, peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, serta Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta.

Lewat pendidikannya tersebut, Yamin belajar tentang sastra yang kemudian membuatnya menguasai beberapa bahasa, antara lain bahasa Yunani, bahasa Latin, dan bahasa Kaei. Selain itu, ia juga belajar tentang sejarah purbakala.

Yamin menempuh pendidikan di AMS dengan tujuan mempersiapkan studinya lebih lanjut di Leiden. Sayangnya, mimpi tersebut harus terhenti karena ayahnya meninggal dunia.

Baca Juga :   Rayakan Bulan K3, Peserta Pelatihan Mutiara Mutu Sertifikasi Berkontribusi dalam Aksi Sosial

Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

Ia kemudian menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Pernikahannya tersebut dikaruniai anak, dimana salah satu nama anaknya yang cukup terkenal bernama Rahadijan Yamin. Mohammad Yamin wafat pada tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta.

Peran Mohammad Yamin Dalam Ikrar Sumpah Pemuda

Masih mengutip dari sumber yang sama, Mohammad Yamin diketahui aktif mengikuti organisasi kepemudaan saat mengenyam pendidikan tinggi, salah satunya Jong Sumatranen Bond. Keterlibatannya dalam organisasi tersebut membuat dirinya dipertemukan dengan sosok Muhammad Hatta.

Keilmuannya dalam bidang sastra mulai dikenal luas sehingga kemudian ia ditunjuk sebagai sekretaris dalam Kongres Pemuda II.

Kontribusinya dalam Sumpah Pemuda adalah sebagai perumus teks Sumpah Pemuda tahun 1928. Kebetulan saat itu Yamin juga sedang menyusun tesis tentang munculnya bahasa persatuan yang berasal dari bahasa Melayu.

Karir Politik dan Organisasi Mohammad Yamin

Dikutip dari Buku Ajar Geografi dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori Untuk Ilmu Bantu Sejarah) oleh Rusdi Effendi (2020), selain tergabung dalam Kongres Pemuda II, Yamin juga pernah terlibat dalam sebuah organisasi Partindo (1932-1938). Setelah bubarnya Partindo, ia kemudian bergabung dalam Volksraad (Dewan Rakyat) tahun 1938-1942.

Di masa pendudukan Jepang, ia merupakan anggota Dewan penasehat Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan pegawai tinggi Sendenbu (Jawatan Penerangan dan Propaganda Jepang).

Selain itu, Yamin juga merupakan tokoh aktif Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menjelang proklamasi.

Mohammad Yamin terlibat dalam Panitia Kecil yang bertugas menyusun dokumen yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. Menurut catatan sejarah, Yamin pernah dipenjara selama 4 tahun atas tuduhan melakukan gerakan perebutan kekuasaan. Namun, ia kemudian mendapat pengampunan dari Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1948.

Baca Juga :   Kondisi Ekonomi Indonesia Sekarang

Sejak saat itu, karir politiknya semakin melejit. Tercatat bahwa Mohammad Yamin pernah menduduki jabatan anggota kabinet maupun legislatif, antara lain Menteri Kehakiman pada tahun 1951, Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1953-1955, Ketua Dewan Perancang Nasional pada tahun 1962, dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara pada tahun 1961-1962.

Karya-Karya Mohammad Yamin

Dikutip dari Buku Ajar Geografi dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori Untuk Ilmu Bantu Sejarah) oleh Rusdi Effendi (2020), berikut beberapa karya sastra yang dihasilkan Mohammad Yamin:

– Kumpulan sajak Tanah Airku (1922)
– Puisi: Indonesia Tumpah Darahku (1928)
– Drama: Kalau Dewa Tara Sudah Berkata (1932)
– Roman: sejarah Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
– Buku Gadjah Mada (1945)
– Sedjarah Pangeran Diponegoro (1945)
– Terjemahan Julius Caesar karya Shakspeare, (1952)
– Terjemahan Menantikan Surat dari Raja karya R. Tangore, (1928)
– Terjemahan Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga karya R. Tigore
– Terjemahan Tan Malaka. Jakarta: Balai Pustaka,(1945)
– Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951)
– Kebudajaan Asia Afrika (1955)
– Atlas Sejarah dan Lukisan Sejarah (kedua buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Djambatan Jakarta tanggal 17 Agustus 1956)

Itulah Profil Dari Tokoh Indonesia Mohammad Yamin, Semoga Bermanfaat!