Suroboyo.id – Rekomendasi Buku Cerita Rakyat terbaru. Cerita rakyat memang memiliki kisah yang sangat menarik untuk didengarkan, terutama bagi anak-anak.

Dalam cerita rakyat mengandung banyak pesan moral dan dapat membangun imajinasi. Ceritanya juga membantu pembentukan karakter untuk anak-anak.

Sehingga ada baiknya jika Anda mulai memberikan buku cerita rakyat sebagai bahan bacaan untuk anak sejak dini. Untuk itu, dalam artikel ini, akan membantu Anda dalam memilih cerita rakyat terbaik.

Baca juga: Cerita Fiksi: 3 Contoh Cerita Fiksi Beserta Jenis dan Unsur-Unsurya

 1. Lutung Kasarung, Jawa Barat

Pertama adalah cerita rakyat yang berasal dari Jawa Barat, yaitu lutung kasarung. Cerita ini berasal dari Pasundan atau daerah Sunda.

Menceritakan tentang seorang raja bernama Prabu Tapak Agung yang memiliki dua orang putri bernama Purbasari dan Purbararang.

Sang raja berniat untuk turun tahta dan menjadikan Purbasari sebagai penerus pemimpin kerajaan. Namun, Purbararang merasa kesal dengan keputusan ayahnya dan berniat menyelakai Purbasari.

Purbararang pun kemudian pergi ke nenek sihir dan mengutuk Purbasari sehingga menjadi buruk rupa, kulitnya dipenuhi bintik hitam. Purbasari pun kemudian diasingkan ke hutan dan Purbararang yang menjadi pemimpin penerus ayahnya.

Pada suatu ketika, Purbasari ditemani oleh seekor lutung dan menyuruh Purbasari untuk berendam di dalam telaga, seketika Purbasari pun sembuh dan kembali menjadi cantik jelita.

Purbasari pun mendatangi kerajaan dan bertemu dengan kakaknya Purbararang. Untuk menentukan penerus tahta, mereka berdua pun beradu, mulai dari beradu panjang rambut hingga beradu tampan pasangan.

Purbasari pun menyodorkan lutung temannya di hutan sebagai pasangan. Seketika lutung tersebut berubah menjadi pemuda yang sangat tampan, melebihi ketampanan pasangan Purbararang.

Purbararang pun mengalah dan mengakui kesalahannya. Purbasari kemudian diangkat menjadi Ratu dan hidup bahagia bersama kekasihnya, Lutung Kasarung.

Baca juga: Buku Sirah Nabawiyah Karya Dr Ramadhan Al Buthi: Resensi dan Link Download PDF

2. Rawa Pening – Jawa Tengah

Bagi masyarakat Jawa Tengah tentu sudah tidak asing lagi dengan cerita rakyat Rawa Pening. Cerita ini merupakan asal-usul terbentuknya daerah Rawa Pening.

Diceritakan, seorang wanita bernama Endang melahirkan seekor naga besar yang diberi nama Baru Klinting. Baru Klinting merupakan seekor naga yang bisa berbicara seperti manusia biasanya.

Suatu ketika, masyarakat sedang mencari hewan yang cocok untuk dijadikan sebagai santapan pesta. Masyarakat pun ingin menjadikan Baru Klinting sebagai santapan, di tengah kegiatan Baru Klinting yang sedang bertapa, Baru Klinting pun berubah menjadi seorang bocah kecil dan mencari tahu tentang pesat rakyat tersebut.

Bocah kecil tersebut pun kelaparan dan meminta makan, tidak ada yang mau memberi makan kecuali seorang nenek tua.

Nenek tua tersebut diberi pesan untuk mengambil sebuah lisung ketika mendengar suara gemuruh yang besar. Tidak lama, suara gemuruh pun terdengar dan muncul air dari tanah dan menenggelamkan semua masyarakat yang ada di desa tersebut yang sedang berpesta. Kecuali nenek yang baik hati. Mulai dari itu, daerah tersebut diberi nama Rawa Pening.

Baca juga: Rekomendasi 5 Buku Motivasi Paling Menginspirasi: Ada The Power of Habit Hingga Big Magic

3. Sangkuriang – Jawa Barat

Selanjutnya adalah cerita rakyat Sangkuriang, yang memuat kisah bagaimana Gunung Tangkuban Perahu tercipta. Cerita bermula ketika seorang perempuan bernama Dayang Sumbi yang mempunyai seorang anak bernama Sangkuriang.

Tanpa sepengetahuan anaknya, mereka berdua memiliki seekor anjing yang bernama si Tumang. Anjing tersebut adalah jelmaan ayah Sangkurian atau suami dari Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk mengambilkan benang Dayang Sumbi yang tertinggal, sekembalinya Sangkuriang sendirian tidak bersama Tumang. Ternyata Tumang ditinggalkan oleh Sangkuriang dengan sengaja. Mendengar hal tersebut Dayang Sumbi geram dan mengusir Sangkuriang.

Cerita rakyat Jawa Barat ini berlanjut ketika Sangkuriang mengembara sendirian meninggalkan kampung halamannya, dan melupakan segalanya, termasuk tentang ibunya.

Setelah bertahun-tahun lamanya, Sangkuriang kembali ke kampung halaman dan tidak mengenali apapun, termasuk ibunya. Dia pun jatuh hati pada Dayang Sumbi dan tidak mengetahui bahwa Dayang Sumbi adalah ibunya.

Dayang Sumbi pun tidak mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya. Sangkuriang pun melamar Dayang Sumbi, Dayang Sumbi pun menerimanya.

Sampai suatu ketika, Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya dan berusaha membatalkan pernikahannya. Sangkuriang pun mengamuk dan menendang sampan atau perahu, sehingga kemudian perahu tersebut membentuk gunung yang saat ini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu.