Yuk Kenalan Sama La Llorona, Mbak Kunti Versi Meksiko

sumber: http://keywordsuggest.org/gallery/500253.html

Ngomong-ngomong soal Meksiko, baru-baru ini negara tetangga US ini menjadi topik hangat pembicaraan kerena dua isu. Yang pertama karena rencana pembangunan tembok pembatas negara US-Meksiko oleh kebijakan pembatasan imigran presiden US terpilih Donald J. Trump. Iki karepe wong-wong Meksikone cek kangelan melbu dan megawe nang US, tapi mbagun temboke yo gak gratis, Meksiko dikon melok mbayar.

Yang kedua adalah kontoversi cover majalah Vanity Fair Meksiko yang merilis foto keglamoran sang FLOTUS (ibu negara Amerika Serikat) dengan pose memlintir perhiasan dengan garpu ala-ala pasta atau Indomie. Nek iki ancen bulek e bakulan perhiasan loh rek, palengo sekalian promosi ya. Yowes gak usa dilebokno ati, kita mbahas hantune ae lah ya mosok persidangane Ahok tok seng jarene berhantu, Meksiko yo nduwe rek.

Dalam hal budaya, selain terkenal dengan kuliner tequila, tacos dan nachos, Meksiko juga mempunyai tradisi lisan tentang hantu perempuan yang disebut La Llorona. Layaknya cerita tentang kuntilanak, sundel bolong di negara kita, kisah tentang La Llorona (dalam Bahasa Spanyol berarti perempuan yang menangis) juga diceritakan secara oral dan disampaikan turun temurun di setiap generasi orang-orang Meksiko baik yang tinggal di US maupun di dalam negara Meksiko.

Dalam bukunya yang berjudul There Was a Woman: La Llorona from Folklore to Popular Culture (2008), Perez menuliskan bahwa orang Meksiko pada umumnya mengenal La Llorona sebagai hantu perempuan yang berkeliaran di tepi sungai dan danau. La Llorona adalah perempuan yang ditinggalkan oleh kekasihnya. Sori loh mblo, La Llorona wes gak single ternyata.

Dia memiliki beberapa anak dan karena kepedihan hidup yang mendalam dia kemudian membunuh anak-anaknya sendiri dan membuang jasad mereke ke sungai. Pada akhirnya hidup tanpa harapan membuat dia meninggal dunia. Namun kematian bukanlah akhir dari kisah pedih kehidupan La Llorona. Dia tidak bisa masuk surga dan harus bergentayangan di bumi sampai menemukan jasad anak-anaknya yang telah ia buang ke sungai. Ckckckck, ternyata bulek e mempunyai misi tertentu gak sekedar gentayangan.

Sebagai dongeng sebelum tidur, anak-anak Meksiko, baik perempuan maupun laki-laki, memahami bahwa La Llorona merupakan contoh yang tidak baik dan menyalahi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Yang perlu dicatat di sini adalah karena merupakan budaya lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut, kisah La Llorona sangatlah beragam dan dinamis di masyarakat Meksiko. Hal ini dipengaruhi oleh ingatan pencerita dan perkembangannya menyesuaikan konteks. Lha terus opo ae emange versine? Secara general kisah La LloronaI terbagi menjadi dua: versi pencerita laki-laki dan versi pencerita perempuan.

La Llorona versi pencerita laki-laki tidak jauh beda dengan gambaran La Llorona seperti tersebut di atas. Kisah La Llorona seringnya disampaikan oleh seorang paman kepada keponakannya atau seorang kakek kepada cucu-cucunya. Versi lain La Llorona dalam perspektif laki-laki seperti yang ada di novel Bless Me, Ultima (1972) karya Rudolfo Anaya digambarkan sebagai seorang hantu perempuan yang menangis di sekitaran sungai dan mencari mangsa anak laki-laki maupun pria dewasa untuk diminum darahnya. Bulek e nyambi drakula tibake rek.

La Llorona menurut pencerita perempuan digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai suaminya dan pencemburu. Dia cemburu karena sang suami setiap hari memandikan ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang (njaluk diadusi pisan opoya?). Sesekali dia pernah mengutarakan perasaannya terhadap suaminya itu, namun tidak ada perubahan. Dan sampailah pada suatu hari dia berkata “Oyes, hombre. Un dia vas a perder lo que quieres más en este mundo” (kurang lebih translatenya: “Yowes lah mas bojo, titenono maringene koen lak ngrasakno dewe rasane kilangan sesuatu seng paleng mbok sayangi”).

Ketika suaminya terlambat pulang kerja, Llorona membawa ketiga anaknya ke sungai, dia kemudian menenggelamkan mereka karena berpikir bahwa dengan menyingkirkan anak-anak tersebut, sang suami akan lebih perhatian kepadanya. Namun, suaminya malah murka mendapati anak-anaknya dibunuh oleh sang istri. Sang suami sangat kesal dan meninggalkan Llorona seorang diri. Depresi karena hidup sebatang kara, Llorona akhirnya meninggal dunia dan tidak diperbolehkan masuk surga sampai dia berhasil menemukan roh ketiga anak yang dia tenggelamkan di sungai.

Domino Rene Perez, seorang akademisi folklore, dalam studinya berspekulasi bahwa karakter La Llorona yang dikenal di masyarakat Meksiko pada umumnya berasal dari perspektif pencerita laki-laki. Perez mencoba untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi La Llorona sebagai sosok legenda perempuan dari perspektif perempuan. Lak ngene se timbangane nyebar hoax mending nganalisa warisan budaya cek semakin kaya pikire.

Seperti yang sekilas terlihat di dua versi tersebut di atas, pencerita perempuan menyuguhkan alasan kenapa Llorona membunuh anak-anaknya. Sedangkan di versi pencerita laki-laki, karakter Llorona mengambang, kurang jelas mengapa dia bertidak demikian. Hal ini disebabkan juga oleh politik gender dimana laki-laki dalam masyarakat Meksiko yang cukup dominan dalam menentukan standar sifat-sifat positif yang di harapkan dari kaum hawa. Seperti yang dilanggengkan oleh masyarakat patriarkal pada umumnya perempuan diasosiasikan sebagai pendosa, tidak rasional, lemah, cengeng dsb.

Analisa lain menyebutkan bahwa Llorona merupakan representasi ibu pertiwi Meksiko yang meratapi kekalahannya atas penaklukan Spanyol. Di sinilah peran legenda dan mitos sebagai sarana penyampaian nilai-nilai agama, budaya dan sosial di suatu negara. Dimana cerita yang disampaikan turun-temurun diharapkan bisa menyampaikan pesan moral agar masyarakat mematuhi norma-norma tertentu serta merepresentasikan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah.

Gampangane ngene, mbasio cerito horore Indonesia iku yo asline mengandung pesan moral jugak mbasio kadang-kadang kesane gak rasional. Misale lah gak oleh gawe kaos ijo/biru nek lagi nang pantai soale warna paporite nyai. Lhaiyo gak oleh soale nek keseret ombak ngko gak ketok wujudmu. Lha werno klambimu podo mbek laute. Tapi berubung wong jaman bien tiap kali ditakoni “opo’o?” jawabe mesti “pokoke gak oleh” “yo ancen gak ilok” kesane dadi gak logis yo.

Dewasa ini sifat horror La Llorona mulai bergeser menjadi komersil dan ikonik Meksiko. La Llorona mulai muncul di beberapa barang dagangan seperti lukisan, stiker, kaos film, buku, novel, bungkus makanan bahkan pakaian dalam (saingane Kolor Ijo iki rek). Sama halnya dengan nama-nama setan di Indonesia yang menjadi judul film seperti Kuntilanak (2006), Suster Ngesot, nama makanan seperti Es Buto Ijo, Rawon Setan dll. Dan tentu saja narasi yang disertakan oleh produk-produk tersebut juga ikut berubah menyesuaikan tujuan komersialisme yang dimaksudkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here