Nyangkruk Bareng Sirikit Syah: Boso Suroboyoan Simbol Sikap Terus Terang

boso Suroboyoan
Sirikit Syah. Foto: Sirikitsyah.wordpress.com

Saat lagi sambang Stikosa AWS tempo hari, saya berjumpa dengan Ibu Sirikit Syah. Saya pun ingin berbincang dengan beliau terkait boso Suroboyoan.

Beliau adalah dosen di Stikosa AWS. Dulu, pernah jadi wartawan di mana-mana. Juga, pernah ke banyak negara dalam rangka seminar, kuliah, belajar, dan lain-lain.

Intine, Bu Dosen yang saat ini bedomisili di bilangan Rungkut itu punya banyak pengalaman di bidang jurnalistik, media dan komunikasi. Termasuk, kajian budaya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, saya menyempatkan diri tanya-tanya tentang Boso Suroboyoan pada beliau.

“Ngkuk tak posting neng SUROBOYO.id, Bu,” kata saya waktu itu.

Selamat menyimak, dulur!

Bu, ada yang bilang, Boso Suroboyoan itu kasar. Menurut Ibu bagaimana?

Saya lahir di Surabaya. Tetapi, orang tua saya Madiun dan Kediri. Suami saya, orang Surabaya asli. Nenek moyangnya dari Dinoyo. Kalau dibandingkan, memang, bahasa saya dan suami itu beda banget. Bahasa saya lebih halus.

Namun menurut saya, ini bukan soal kasar atau tidak. Boso Suroboyoan itu sebenarnya menyimbolkan sikap terus terang. Bahasa inggrisnya: Frank. Bahasa orang Surabaya itu mencerminkan sikap terus terang, tanpa basa-basi, dan apa adanya.

Berarti, maknanya baik ya, Bu?

Yang jelas, orang Surabaya tidak suka basa-basi atau kamuflase. Orang-orang kulonan, mataraman, kadang masih suka pura-pura sopan. Orang Surabaya asli, tidak suka yang begitu.

Di salah satu televisi lokal, terdapat program (Pojok Kampung JTV, Red.) yang memakai bahasa kasar Suroboyoan. Ada istilah: Bongko dan Matek.

Orang Surabaya asli seperti suami saya tidak sepakat dengan pola bahasa itu.

Iya, itu memang bahasa Surabaya. Tapi, bahasa yang digunakan saat pertengkaran. Bukan bahasa keguyuban mereka sehari-hari. Jadi, bahasa yang dipakai dalam program itu sebenarnya bukan representasi Boso Suroboyoan.

Ditinjau dari bahasanya yang menyimbolkan keterusterangan, apa ada sisi positif dan negatif orang Surabaya?

Ehm, mungkin lebih tepat bukan soal positif dan negatif. Karena ini soal perbandingan kultur.

Contohnya, begini: dalam beberapa kesempatan, karena jiwa terus terang yang dimilikinya, suami saya kadang terkesan kurang memiliki empati.

Pernah, saat ada jamuan makan dengan keluarga, dia tidak makan sama sekali. Alasannya, karena dia tidak suka.

Untuk sebagian orang, itu terlihat tidak sopan. Saya bilang, makan saja sedikit, sebagai bentuk penghormatan. “Lebih baik sehat (karena tidak memakan makanan tersebut, Red) daripada sopan,” malah begitu katanya.

Dia mengatakan, buat apa sopan-sopan, tapi, perut sakit.

Di sisi lain, mereka akan mengatakan kebenaran meski tidak menyenangkan. Kalau ada yang pakai baju jelek, ya dibilang jelek atau tidak pantes. Tidak ada kemunafikan untuk membahagiakan orang lain.

Menariknya, mereka umumnya tidak suka rasan-rasan. Kalau tidak sepakat atau tidak suka dengan sesuatu, langsung bilang di depan, tidak ngerasani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here