Nyangkruk Bareng Prof M. Amin Alamsjah: Ramadan, Bulan Pemacu Kreativitas

Wakil Rektor III UNAIR bidang kerjasama akademik, pengabdian masyarakat, publikasi, penelitian, dan lain-lain Prof Ir Amin Alamsjah MSi PhD.

Alhamdulillah, Dulur! Akhirnya kita jumpa dengan bulan Ramadan. Tentu, saya tidak bermaksud rasis. Tapi, tolong pahami, kali ini perspektif yang dipakai memang agama Islam. Ya, karena lagi Ramadan. Sesederhana itu.

Jadi, tidak usah mengkritisi tulisan ini. Misalnya, dengan bilang: judulnya diskriminatif terhadap bulan selain Ramadan! Atau dengan bilang: Lho, ini tulisan khusus bagi yang merayakan Ramadan thok berarti!?

Wes ta lah, santai ae. Nggak usah kemrungsung. Mohon beri toleransi pada rubrik cangkruk yang bersifat religi ini.

Toh, di Indonesia, Ramadan memang selalu meriah. Jadi, tidak usah diperdebatkan layaknya topik segitiga semrawut “PKI-Syiah-Bid’ah”.

SUROBOYO.id adalah situs yang mbois dan guyub. Web ini tidak merasa paling benar, apalagi paling pintar. Sehingga, tidak merasa mampu membahas hal-hal dengan tensi layaknya segitiga ruwet itu.

Nah, dalam kesempatan kali ini, tim menemui Prof Ir Amin Alamsjah MSi PhD untuk ngobrol-ngobrol. Dengan tema sentral: Ramadan.

Lelaki yang di keluarganya punya panggilan A’ang ini adalah Wakil Rektor III UNAIR bidang kerjasama akademik, pengabdian masyarakat, publikasi, penelitian, dan lain-lain.
Menariknya, tatkala kuliah S3 di Nagasaki, pria yang menghabiskan masa kecil di Genteng ini pernah menjabat sebagai Ketua PPI dan komunitas mahasiswa Islam di sana.

“Sebenarnya, saya dipilih jadi pengurus di sana itu bukan karena saya pintar agama. Tapi, karena saya suka berteman dan guyub. Membaur dengan orang Turki, Syria, Malaysia, Afrika, dan lain-lain. Saya juga selalu antusias kalau menyiapkan perlengkapan untuk kebutuhan acara keislaman saat itu,” ujar lelaki yang sempat diece-ece sensei karena tiap mau praktikum menyempatkan waktu berdo’a tersebut.

Assalamualaikum, Pak Amin. Apa kabar puasa di hari pertama?

Alhamdulillah, baik. Semoga mas juga lancar puasanya.

Saya mau tanya-tanya soal Ramadan, Pak. Sebagai pembuka, saya ingin menyampaikan pandangan standar. Begini, di satu sisi, banyak pemuka agama yang bilang kalau puasa itu menyehatkan.

Tapi di sisi lain, puasa kan lapar dan haus. Pastilah ujung-ujungnya lemas dan ngantuk. Nah, idealnya, korelasi antara puasa dan kesehatan serta produktifitas manusia itu seperti apa?

Prof M. Amin Alamsjah kerap disepelekan saat kuliah di Jepang oleh senseinya karena sering berdoa sebelum kuliah dimulai. Foto: Rio F Rachman
Prof M. Amin Alamsjah kerap disepelekan saat kuliah di Jepang oleh senseinya karena sering berdoa sebelum kuliah dimulai. Foto: Rio F Rachman

Orang puasa itu ada tiga tingkatan. Pertama, awam. Dia puasa menahan makan, minum, dan hal lain yang membatalkan puasa.

Kedua, puasa khusus. Selain menahan dari dari yang membatalkan puasa, dia juga menjaga panca indera dari berbuat jelek. Mata tidak jelalatan, kuping tidak mendengar fitnah, mulut tidak ghibah, dan lain sebagainya. Sedangkan tubuh, digunakan khusus untuk beribadah.

Ketiga, puasa yang lebih tinggi dari yang khusus. Dalam tahap ini, seseorang berpuasa dengan seluruh jiwa raga dan hati tertuju pada Allah SWT.

Nah, meskipun ada tiga tingkatan, seyogyanya semua orang yang berpuasa tahu, bahwa tujuan berpuasa adalah menjadi orang bertakwa. Bukan hanya penggugur kewajiban.

Sedangkan definisi takwa itu, selain soal menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya, ada pula aspek kebermanfaatan pada sekitar. Sebab, ibadah itu tidak hanya vertikal (hablum minallah). Tapi juga, horizontal yang sifatnya sosial (hablum minannas).
Yang sosial di sini, termasuk, bekerja. Beraktifitas. Agar lebih produktif dan bermanfaat dalam hidup.

Kalau orang sudah tahu makna dan tujuan berpuasa adalah takwa, dia pasti bersemangat untuk bersumbangsih di masyarakat. Ramadan pasti memberi motivasi. Karena inilah momentum untuk menjalani sebelas bulan berikutnya. Artinya, Ramadan tidak boleh dijadikan alasan bermalas-malasan.

Persis! Ramadan justru merupakan pemantik produktifitas dan kreatifitas. Dan manusia, memang harus selalu berpikir dan berkembang untuk memberi manfaat bagi sekelilingnya.

Menyinggung tentang istilah kreatifitas, lekat dengan pemuda. Apa bisa dibilang, pemuda harus memacu kreatifitasnya di bulan ini, Pak?

Kejarlah barokah bulan Ramadan. Perbanyak beribadah. Sholat, puasa, baca al quran, dan lain sebagainya. Tapi, jangan lupakan aktifitas lain juga. Tidak boleh hablum minallah saja. Harus seimbang.

Kalau bicara soal pemuda, saya teringat pesan Imam Syafi’i sehubungan dengan generasi ini. Beliau bilang, pertama, kalau pemuda tidak mau mencicipi kerasnya belajar, bersiaplah mendapat kehinaan di sisa hidupnya.

Kedua, kalau pemuda malas atau tidak menyempatkan diri menuntut ilmu, ucapkanlah takbir empat kali di hadapannya (kiasan kata “disholati”, karena sholat jenazah terdiri dari empat kali takbir, Red).

Ketiga, kali ini Imam Syafii berkata dengan menyebut Demi Allah. Seorang pemuda dilihat dari sejauh mana dia belajar dan bertakwa.

Bila dia tidak punya keduanya, hilanglah eksistensi hidupnya.

Bertolak dari semua itu, mumpung masih muda, ide kreatf masih banyak, mari dimanfaatkan. Jadikan momentum Ramadan sebagai kesempatan meraih hikmah dan barokah dalam sisa umur kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here