Nyangkruk Bareng Drs Mudjianto MM: Konten Lokal Punya Nilai Tawar Tinggi di Media Massa

Kartolo cs saat ludrukan di Batu. Foto: Humas Batu

Berita Surabaya – Baru-baru ini, tim SUROBOYO.id berkenalan dengan Kabid Pemberitaan TVRI Jatim Bapak Drs Mudjianto MM. Beliau sudah memiliki pengalaman yang banyak di bidang media massa.

Pernah berkiprah di Ngayugyokarto pisan, Rek. Termasuk, sempat belajar (semacam training atau kuliah singkat, bek e yo) di Tokyo. Artinya, beliau berkompeten bila diajak ngobrol soal media massa.

Nah, kalau sudah ngobrol tentang media massa masa kini, kita pasti tergerak untuk mengaitkannya dengan konten lokal. Sebab, nyaris semua media massa memang lagi hangat-hangatnya melirik konten lokal. Meski memang, karena cuma dilirik, untuk menjamahnya masih malu-malu kucing (Yok opo, kalimatku mbulet ae yo?! Baba po o…)

Website yang sedang saudara-saudari sekalian baca ini juga menjadikan konten lokal sebagai kiblat, lho. Tapi, portal ini jelas tidak malu-malu kucing. Ehm… ngisin-ngisini, mungkin…

Baik, dulur, berikut hasil percakapan dengan Bapak Mudjianto.

Seberapa penting konten lokal dimiliki sebuah media massa, Pak?

Sangat penting. Konten lokal dalam segala lingkup, fundamental sifatnya untuk dimiliki sebuah media massa. Baik media elektronik, cetak, dan lain sebagainya. Sebab, lokalitas erat dengan kaidah proximity atau kedekatan.

Bila nilai-nilai atau berita lokal yang diangkat, orang-orang di daerah tersebut pasti lebih antusias menyimak.

Apa bisa dibilang, publik suka konten lokal karena bermanfaat langsung pada hidupnya?

Kabid Pemberitaan TVRI Jatim Bapak Drs Mudjianto MM.
Kabid Pemberitaan TVRI Jatim Bapak Drs Mudjianto MM.

Benar, Mas. Saya contohkan pengalaman saya di Tokyo. Waktu itu, saya ada acara di suatu gedung yang berjarak sekitar satu kilometer dari penginapan. Saya memutuskan jalan kaki. Nah, saya tidak tahu, kalau di televisi lokal hari itu, disiarkan prakiraan cuaca yang bunyinya: pukul 10.00, hujan.

Di tengah perjalan menuju gedung, pas pukul 10.00, hujan turun. Saya langsung kocar-kacir nyari tempat berteduh. Ngiyup di salah satu rumah warga. Pada waktu itu, di jalanan banyak orang jalan kaki. Tapi, mereka sudah sedia payung atau jas hujan.

Maknanya, mereka sudah tahu kalau pukul 10.00 akan hujan. Dari mana? Dari media massa. Jadi, manfaat siaran berkonten lokal langsung kena pada masyarakat.

Kalau dari sisi ekonomi, apa konten lokal ini menguntungkan media massa?

Ulang tahun ke-35 TVRI Jawa Timur dirayakan dengan campursari.
Ulang tahun ke-35 TVRI Jawa Timur dirayakan dengan campursari.

Ya, jelas sangat menguntungkan. Saya pernah buat inovasi iklan kecil di televisi. Isinya, penjualan barang dan jasa di kota yang sama dengan lokasi stasiun televisi itu.

Yang antri iklan banyak sekali. Space dijual tidak mahal, tapi laku keras. Jadi, dari aspek ekonomi pemilik media, konten lokal itu laba besar.

Apakah bisa mengerek ekonomi masyarakat juga?

Sangat bisa. Contohnya, saya pernah buat program tentang beternak jangkrik. Kenapa program itu dibuat? Karena jangkrik memang lagi booming. Program itu banyak yang nonton.

Setelah nonton, orang-orang ternak jangkrik. Banyak yang jadi pengusaha dadakan. Meski memang, imbas lanjutannya, harga jangkrik jadi murah.

Soalnya, di pasaran jangkrik terlalu banyak. Tapi paling tidak, ini menjadi bukti, konten lokal bisa mempengaruhi kekuatan ekonomi warga setempat.

Kira-kira, apa yang harus diperhatikan agar konten lokal bisa membawa efek positif bagi pemilik media massa maupun masyarakat?

Pandai-pandai saja melihat peluang dan mengemasnya. Carilah apa kebutuhan dan kesenangan masyarakat setempat. Kalau dianalogikan, usaha Gojek itu sukses di Jakarta karena pemilik usaha tersebut tahu, ojek online memang dibutuhkan di Ibu Kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here