Nyangkruk dengan Novelis Eka Kurniawan: Penulis Butuh Waktu untuk “Bertapa”

Eka Kurniawan

Nama novelis dan cerpenis Eka Kurniawan menjadi pembicaraan. Tak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

Penulis lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mampu masuk dalam nominasi Man Booker Prize Award, sebuah penghargaan bergengsi bagi penulis dunia. Beberapa waktu lalu, dia bahkan meraih World Readers Award.

Di sela-sela kesibukannya, SUROBOYO.id sempat nyangkruk bareng penulis buku Cantik Itu Luka di Angkringan Mbah Cokro, Jalan Prapen, Surabaya, Maret lalu, bersama teman-teman pecinta buku dari komunitas Dead Poets Society.

Penulis kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, 40 tahun silam itu juga diundang Jawa Pos untuk membahas novel terbarunya, O, di Graha Pena, Surabaya, Jalan Ahmad Yani, bersama sastrawan Budi Darma pada 20 April lalu.

Berikut ini kutipan obrolan ngalor ngidul di Mbah Cokro dan di Graha Pena.

Hai, Mas Eka. Selamat datang di Surabaya. Tulisan Mas Eka termasuk yang enak dibaca. Kalimatnya pendek. Tidak melip-melip. Tapi idenya menarik. Apakah gaya itu memang disengaja?

Kurang lebih begitu. Saya ingin agar ada alur dalam tulisan saya. Kadang panjang, kemudian jeda, pendek, dan seterusnya. Agar ada iramanya.

Mas Eka adalah lulusan Jurusan Filsafat UGM. Mengapa memilih jurusan itu?

Saya dulu mengira Jurusan Filsafat itu nanti kerjaannya menulis kata-kata indah. Seperti di kartu ucapan atau di brosur. Ternyata, sama sekali bukan. Hahaha.

Bagaimana cara Mas Eka untuk menjaga agar ide menulis itu tetap ada?

Saya biasa mengkliping berita. Tidak semuanya, tentu saja. Apa yang bagi saya menarik.

Misalnya, ada sebuah sepeda motor yang diparkir bertahun-tahun. Pemiliknya tidak ada. Itu kan menimbulkan pertanyaan.

Ke mana pemiliknya? Apa masih hidup? Apa sudah mati? Apa dia korban pembunuhan? Dan seterusnya.

Berita-berita seperti itu saya simpan untuk kemudian kadang-kadang saya buka kembali.

Mas Eka tidak tertarik untuk punya sosial media seperti Twitter atau Facebook?

Saya sempat punya Facebook. Tapi itu malah membuat saya lebih sbuk dengan media sosial dibanding sisi kreatif. Lagi pula, nama Eka Kurniawan nama pasaran. Banyak dipakai orang.

Saya lebih suka membuat blog. Orang membaca tulisan saya dan meninggalkan komentar. Di situ kita bisa saling bertukar pendapat.

Lantas, bagaimana Mas Eka memantau perkembangan di dunia maya? Apalagi, katanya Mas Eka juga tidak punya Whatsapp dan BBM?

Saya tetap bisa browsing membaca situasi setiap hari. Beberapa teman juga kerap saling bercerita dengan SMS atau telepon. Dan, oiya, email.

Tapi, memang lebih baik begitu, Mas. Daripada marah-marah seperti Tere Liye? Hehehehe.

Ya, mungkin dia adalah potret penulis kita yang kurang baca sejarah. Tapi, rasanya justru banyak penulis kita yang seperti itu.

Beberapa wartawan yang saya kenal, kerap mengeluh tidak bisa menulis atau membaca di luar pekerjaannya. Bahkan untuk menulis blog pun rasanya sudah capek. Apalagi membaca. Bagaimana menurut Mas Eka?

Menulis kadang memang bikin capek. Jenuh. Dan sepertinya sama sekali tidak ada ide. Itu saya juga mengalami. Biasanya saya mengalihkannya dengan membaca. Tapi, kadang-kadang membaca juga buntu.

Makanya, saya biasanya “detoks”. Jadi, berhenti dari semua aktivitas membaca dan menulis. Mungkin sekitar 2-3 minggu atau bahkan sebulan. Nanti bisa kembali membaca dan menulis dengan pikiran yang lebih segar.

Saya kira wartawan dan penulis juga harus melakukan detoks. Meskipun mungkin waktunya tidak bisa panjang karena terkait pekerjaan.

Dalam novel Lelaki Harimau, Mas Eka membuka paragraf yang langsung menyedot perhatian pembaca. Berikut ini kutipannya,

 “Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang-batang kelapa, dan bunyi falsetto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.”

Kok bisa bikin pembuka seperti itu gimana, Mas Eka?

Saya memang menginginkan sebuah lanskap yang dibarengkan kejadian untuk membuka cerita. Itu agar tak hanya kuat dari segi estetik, tapi juga kukuh secara fungsi.

Oya, Mas. Kenapa dulu novelnya diberi judul Cantik Itu Luka?

Oh, itu dulu saya pernah baca berita di koran soal Krisdayanti. Dia ditanya, gimana sih rasanya jadi orang cantik. Menurut dia, jadi orang cantik itu nggak enak. Banyak menderitanya. Perawatan ini lah, itu lah. Kemudian saya berpikir, cantik itu ternyata bisa menjadi luka.

Penulis Eka Kurniawan saat menerima kenang-kenangan berupa kaos dari komunitas buku Dead Poets Society di Ruang Semanggi, Graha Pena Jawa Pos, Surabaya, pada 20 April lalu. Foto: Istimewa
Penulis Eka Kurniawan (kiri) bersama redaktur Jawa Pos Tatang Mahardika (tengah). Eka mendapat kenang-kenangan berupa kaos dari komunitas buku Dead Poets Society di Ruang Semanggi, Graha Pena Jawa Pos, Surabaya, pada 20 April lalu. Foto: Istimewa

Mas Eka. Di novel O, kenapa sih ceritanya kok banyak dan kesannya lompat-lompat? Masing-masing karakter ada ceritanya sendiri-sendiri. 

Saya terinspirasi ini dari kisah 1001 malam. Karakternya banyak dan kisahnya juga banyak. Ada unsur ngasal dalam penceritaannya tapi sebenarnya saling berhubungan.

Bagaimana Mas Eka melihat aktivitas menulis?

Menurut saya, menulis itu ya main-main. Kita sedang bersenang-senang dengan kalimat-kalimat dan kata-kata. Tapi seperti anak kecil, kalau main-main kita diganggu ya bisa marah. Artinya, meski main-main tetap serius. Tapi saya tidak mau serius. Kalau terlalu serius, lebih baik saya bikin tesis S2. Hahaha.

Apakah semangat main-main itu juga ada dalam novel O?

Sebenarnya ada upaya meledek banyak hal di dalam novel tersebut. Seringkali manusia meyakini sesuatu tanpa pembuktian. Contohnya saat Rini Juwita langsung tertarik memelihara Kirik, seekor anjing yang penuh borok. Dia bahkan sampai rela meninggalkan suaminya demi bersama kirik.

Apa inspirasi dari menulis O? Tahun berapa mulai menuliskannya?

Saat itu 2012. Saya sedang bersama anak saya (Kidung Kinanti Kurniawan, Red.). Di sebuah perempatan, anak saya merengek minta saya memperlambat mobil. Dia ingin melihat topeng monyet.

Tapi dia nggak berani.

Hanya berani dari balik jendela. Saya akhirnya menciptakan topeng monyet itu ke anak saya. Dan akhirnya jadi sampai seperti sekarang.

Proses menuliskannya cukup lama. Sampai 4 tahunan. Sempat terpikir untuk meninggalkan proyek penulisan ini tapi akhirnya terus saya selesaikan.

Makasih, Mas Eka. Semoga semakin produktif. Kami tunggu tulisan selanjutnya.

Sama-sama, Mas.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here