Paris Photo Studio: Antara Keberanian, Risiko, dan Peluang

foto studio
Suasana Paris Photo Studio di Lidah Wetan gang IX, Jalan Menganti-Lidah Wetan, Surabaya. Foto: Rio F. Rachman

Berita Surabaya – Memulai usaha butuh keberanian. Bahkan, harus nekad!

Itulah yang dipegang teguh oleh Samsul Arifin. Perantau dari Bangkalan yang sejak 2005 berdomisili di Lidah Wetan gang IX. Tidak hanya berdomisili. Konon, Sams, begitu dia biasa disapa, adalah orang yang tak pernah berpindah kost sama sekali. Ketua RT, RW, Lurah, Camat, bahkan Wali Kota, boleh berganti. Namun, tempat kost Sams tidak pernah berubah.

Dia kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kegemarannya akan bahasa, membuat dia mengambil serta mata kuliah bahasa Jerman dan bahasa Jepang.

Baru-baru ini, lelaki yang dulu ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Aktifitas Fotografi Unesa (Afo) ini dapat sertifikat kemampuan Bahasa Perancis. Kurang mbois apa teretan medureh satu ini?

Tapi, tulisan ini belum akan membahas tentang kebolehan Sams berbicara bahasa asing. Melainkan, tentang sekelumit pengalamannya membangun studio foto.

“Saya melihat peluang. Hingga akhir 2013, belum ada studio foto di Lidah. Padahal, mahasiswa Unesa di tiga fakultas (FIP, FIK, FBS) membutuhkan itu,” ujar dia saat diajak cangkruk di warkop depan studionya yang berada di pojokan Lidah Wetan IX tempo hari.

Tidak hanya melihat peluang, pemuda yang sudah jenuh kerja ikut orang itu berani keluar modal. Cukup banyak. Dan, dia pun cukup banyak berhutang sana-sini. Tabungannya tidak mencukupi bila harus dipakai sewa tanah-bangunan dan beli alat studio.

Risiko dihitungnya. Tapi, berani dihadapinya.

Benar saja, beberapa bulan awal, studionya sepi pengunjung. Maklum, masih belum banyak yang familiar.

Namun, Sams tidak patah arang. Berbekal do’a orang tua, dan kesergepan ikut acara yasinan di kampung Lidah untuk bersilaturahmi, lambat laun studionya terkenal.

Tidak hanya populer di mata penduduk kampung. Namun juga, oleh para mahasiswa yang mau yudisium dan wisuda.

Kalau dihitung-hitung, yudisium dan wisuda mahasiswa Unesa Lidah berjalan tiga kali setahun. Itulah peak seasons bagi Paris Photo Studio milik Sams.

Hingga hari ini, terhitung tahun ketiga studionya berdiri, Sams mengaku bisnisnya berjalan dengan baik. Dia juga masih sering menerima order foto manten, foto dokumentasi, dan foto-foto lainnya.

“Alhamdulillah, pinjaman sudah lunas. Bisnis bergulir dan membahagiakan,” kata lelaki yang tidak suka merokok ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here