Pelajaran dari Pemakaman Muhammad Ali: Pidato Gak Sekadar Omong Tok

Dunia menangisi kepergian Muhammad "The Greatest" Ali. Foto: ABC7.Com

Berita Surabaya – Pagi ini latihan listening di CNN. Dengerin orang-orang pidato di pemakaman Muhammad Ali. Seperti zaman kuliah dulu, kemampuan listening saya memang masih payah. Seperti ada barrier atau noise yang menghalangi pendengaran.

Tapi, great speach has its own way to reach the audience.

Dan dengan kepayahan, saya pun masih bisa menangkap satu dua poin yg memang mean to listen.

Poin saya adalah, tradisi pidato yang lepas, cair, tapi berisi, itu hidup di Ameriki. Bayangin, di acara pemakaman saja pidato mereka bagus-bagus. Kata arek Suroboyo, tatag lek omong.

Mulai dari anak-anak Ali, penerima beasiswa Ali, teman, komedian, hingga gongnya Mbah Ganteng Bill Clinton. Mereka semua punya value untuk disampaikan dalam pidato-pidato mereka.

Bandingkan dengan tradisi pidato di NKRI. Pidato adalah previlege orang-orang berkursi. Hanya mereka yang punya jabatan yang sering dikasih kesempatan. Kalopun ada rakyat yang pidato, seringkali berakhir menjadi ajang curhat.

Saya pribadi suka dengar orang yang pidatonya menginspirasi, dan benci banget kalo ada orang pidato sudah lihat text dan semakin didengerin kok lempeng lempeng aja ga ada gagasan atau value yang nonjok dari pidatonya.

Tapi lebih nyebelin lagi mereka yg pidato ga pakai text trus mblarah omong ga jelas juntrungane. Hadeeh!

NKRI jelas krisis orator, Rek! Kalo kamu bilang halah pidato kan omong tok. Kamu pasti belum pernah lihat bagaimana seorang orator membakar semangat massa dan menggerakkan mereka.

Pidato is more than umbrus, kata orang Tegal.

Makanya, ketika setahun dipasrahi jabatan (halah opo ae) sebagai tukang bikin pidato untuk pejabat-pejabat di kantor (meskipun masih kosong setelah saya dipindah. Padahal, rencananya mau jadi bidang tersendiri) saya berusaha cari referensi orang-orang yg inspiring saat ini.

Mereka yang me-deliver value, dan merangkai kata yang easy listening. Mudah dicerna audiens. Sebab, saya sendiri ga suka pidato yg ndakik-ndakik melip tapi gak jelas parane.

Referensi saya di antaranya Anis Baswedan. Kenapa ga ngerujuk Si Bung Besar? Kejauhan lah. Dan saya sendiri lihat level pede bos-bos saya belum ada yang selevel Si Bung. 😀

Menurut saya, Anis Baswedan bisa jadi orator yang kedengarannya klemar-klemer. Tapi memang ucapannya ada isinya. Dan dia termasuk orang yang menjadikan kata-katanya aplikatif.

Ada daya gerak dari pidatonya. Kalau Pakde Jokowi sih, lbh cocok pidato gaya kyai kampung. Ringkas dan banyak joke. Karena dia man of work ga pinter omong tapi bisa kerja. 😀

Saya dulu diem-diem sempat iri dengan teman-teman saya yang jago debat dan orasi di kelas.

Tapi trus nyadar kemampuan speaking saya payah. Ga cocok melu tim debat (makane biyen semangat jadi tim hore arek-arek debat). Walaupun saya punya banyak stok ide tapi ga iso omonge mergo in english.

Hehe, saya memang arek English Literature palsu.

Levelnya baru berani orasi saat demo bbm naik di depan Grahadi. 😀

So, pidato iku yo penting, Rek. Kalian masa ga ngiri, capres-capres dan anggota dewan di luar sana itu keren-keren nek pidato.

Sementara anggota parlemen kita (yang kamar besar ato yang kamar kecil) saja hanya segelintir yang kemampuan orasinya tatag dan mean to listen.

Apalagi pidato capres kita dulu-dulu itu. Hadeeh. Isinya kok mung bocor bocor! Tapi ide KPU untuk menggelar debat capres perlu diapresiasi untuk menumbuhkan budaya pidato keren.

Wes, ndang latihan pidato disek kono!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here