Ternyata Orang Jerman Kalau Masak Pakai Silit!

mereknya silit

Tadi pagi ada yang nge-tag saya di Facebook tentang Silit. Ya, Silit. Dia tertawa karena banyak orang di Jerman kalau masak pake Silit!

Hayo! Ojo ngeres-ngeres pikirane!

Waktu bulan-bulan pertama tinggal di Jerman dan baca iklan, saya pun tertawa. Panci, wajan, dan presto yang ada di gambar ternyata ber merek Silit.

Lhadalah, iki bokong kok digawe masak? Hahahaha.

Silit itu merek yang cukup terkenal lho di sini. Sejak tahun 1920 berdirinya. Sepertinya Amerika juga punya Silit. Monggo di cek di sini Silitcookware.

Saya sih nggak tahu Silit Jerman atau USA yang hadir lebih dulu. Pengucapannya memang sedikit berbeda sih. Disini ya /silit/, kalau di Jawakan /silét/.

Nah, karena Silit ini lah ada beberapa percakapan yang bikin geli. Percakapan ini bukan hanya terjadi pada saya dan suami, namun juga terjadi di antara orang-orang Jawa yang sama-sama tinggal disini. Berikut ini contoh percakapan tersebut. Nggak plek ketiplek, tapi intinya sama.

Percakapan dengan suami

Saya : Beb, aku lho gak pernah pake Pfanne (wajan) ini.
Suami : Baru?
Saya : Iya, Silit dari mama
Suami : Apa?
Saya : Lho Pfanne ini mereknya Silit.
Suami : Bohong.
Saya : Lho kamu gak tahu ada merk Silit?
Suami : Nggak.

*ternyata mas Bojo sudah tahu arti silit dalam bahasa Jawa (saya yang ngasih tahu, hehehe…). Tapi, dia gak pernah tahu ada merek Silit. Maklum, gak pernah beli wajan dan panci sendiri.

Percakapan teman sesama orang Jawa

A : Mbak, di Toko A ono WMF (ini merek perkakas dapur juga dan satu grup sama Silit, Red.) gak?
B : Ada kayaknya. Mau beli panci ta?
A : Gak, mau beli karet panci. Iku lho Silitku dhol!

*Sepintas percakapan ini biasa saja. Namun, saat diingat lagi, si mbak bilang Silitku dhol itu bikin ngakak. Silit dhol iku lak ambeien seh?

Percakapan teman dan suaminya yang sudah tahu arti Silit dalam bahasa Jawa

Istri : Sayang, mein Silit ist kaputt (Sayang, Silitku rusak).
Suami : Was? Dein Silit? (Apa? Silitmu?)
Istri : Ne, ich meine mein schnelltopf (Nggak, maksudku panci prestoku).
Suami : Oh, ich habe gedacht dein Silit (Oh, tak pikir silitmu).

Percakapan sama mama mertua yang asli Jawa Barat

Mama : Nurul, wok yang saya belikan bagus lho itu. Dari Silit itu.
Saya : Iya ma. Makasih ya.

*Batinku, memang yang dari silit bagus (sambil bayangin gimana tersiksanya kalau lagi pas gak bisa ke belakang). Hehehe.

Percakapan-percakapan ini semua terjadi karena kami multilingual. Rata-rata, kami menguasai lebih dari 3 bahasa disini. Banyak sekali kosa-kata yang bercampur di kepala.

Memang, budaya dan bahasa berbeda. Kadang belajar bahasa baru memang bikin stres. Tapi, kalau ada yang seperti ini jadi lucu. Beda bangsa, beda budaya, beda bahasa.

Trus teman tadi tanya: Yung, kowe masak karo opo?
Tak jawab: Dino iki masak karo Silit! Sayange mung duwe Silit siji.
Wkwkwkwkw…

Lalu teman saya bilang: Aku mbayangne ngobrol karo tonggomu mbahas “Silit” karo ngempet ngguyu… *Pada saat itulah hidup terasa lebih sulit
Jawab saya: Wong kene yo santai kok ngomonge, silat silit bolak balik yo biasaaaa…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here