Stadion Tambaksari, Sebuah Ritus Kegembiraan

Tambaksari
Foto: stadion-nusantara.blogspot.com

Saya tidak tahu di mana dia sekarang: Soleh. Tapi, di hari ketika hari jadi Persebaya Surabaya diperingati kini, saya teringat kawan SMA saya itu lagi.

Soleh adalah “partner in crime” saya untuk urusan Persebaya. Kami selalu menjalani ritus ke Tambaksari, tempat Gelora 10 Nopember, markas Persebaya, berada, bersama-sama.

Tiap kali laga kandang Persebaya mana yang akan kami tonton telah dipilih, dengan segera kami akan saling mengingatkan untuk menabung.

Mojokerto, tempat kami tinggal dan bersekolah, memang tidak bisa dibilang jauh dari Surabaya. Tapi, untuk anak-anak SMA dengan sangu harian seterbatas kami, ke Surabaya adalah sebuah perjuangan.

Ya kira2 sebulanlah kami harus menahan diri untuk tidak ke warung tiap kali jam istirahat sekolah. Kalau pun tidak tahan, kami tetap ke warung. Tapi bukan untuk njajan, melainkan nunut nyruput kopinya si ini atau nyuwil makanan si itu.

Lumayan, tetap gaul tapi hemat hehehe.

Alternatif lainnya adalah puasa Senin-Kamis. Berat memang, tapi kami senang-senang saja melakukannya.

Dan, saya kira kami tidak sendirian yang rela melakukan semua itu demi Persebaya. Tidak hanya di Mojokerto, tapi juga di kota-kota lain di Jawa Timur kecuali Malang mungkin. Saya mendengar banyak sekali cerita tentang ragam perjuangan teman-teman dari berbagai kota untuk menonton Persebaya.

Ada teman dari Tuban, misalnya, yang bercerita bagaimana dia harus kucing-kucingan dengan petugas kereta tiap kali hendak ke Surabaya nonton Persebaya. Tak jarang memilih bersemayam di atap.

Persebaya memang identitas Jawa Timur ketika itu, di era ketika Liga Indonesia belum lahir dan bond-bond Perserikatan di Jawa Timur belum merebak seperti sekarang ini.
Ada rasa memiliki yang kuat kepada tim ini.Tak ubahnya Persib Bandung bagi Jawa Barat atau PSM Makassar bagi Sulawesi Selatan.

Memang ada semacam “perlawanan” dari Malang. Tapi kiprah Persema tak bergema dan Arema menjuarai Galatama saat reputasi kompetisi itu mulai memudar. Jadilah menonton Persebaya di Tambaksari adalah kebanggaan.

Naik bus antarkota,oper bus kota, dan membeli tiket di calo dengan uang hasil “tirakatan” sebulan adalah sebuah ritus kegembiraan.

Melihat langsung Ibnu Grahan, Yusuf Ekodono, atau Winnedy Purwito bermain, terbayar sudah semua kesusahan dan kelelahan. Meski kerap kali harus puas hanya kebagian tempat di sentelban.

Tagline “Persebaya Emosi Jiwaku” yang memenangi sebuah lomba saya Kira tepat sekali menggambarkan mengapa bersusah payah ke Tambaksari menjadi demikian penting.

Waktu bergulir, bangku SMA saya tinggal kan dan klub-klub baru bermunculan di Jawa Timur. Tapi saya masih ingat betul turut bersujud syukur saat Persebaya menjuarai Liga Indonesia untuk kali pertama.

Tapi kemudian sepakbola kita berjalan kian tak tentu arah. Persebaya yang merasa didzalimi melakukan perlawanan. Perpecahan pun terjadi, dan jadilah Tim berjuluk Green Force itu terus dihalangi untuk kembali ke kompetisi resmi.

Saya tak tahu sampai kapan. Tapi, badai ini semoga segera berlalu. Sebab, saya sudah rindu menjalani ritus kegembiraan seperti dulu lagi. Meski mungkin tak ke Tambaksari lagi.

Barangkali Soleh juga demikian. Kendati entah di mana dia sekarang.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here