Nyangkruk Bareng Prof Syahrani: Memahami Kembali Nilai Pendidikan Jawa

Pendidikan Jawa
Prof. Achmad Syahrani. Foto: Rio F Rachman

Pendidikan Jawa menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal Tut Wuri Handayani. Pendidik, tidak cuma mendorong dari belakang murid. Pendidik, dosen, atau guru, wajib berada di depan, di samping, dan di belakang.

Berita Surabaya – Beberapa hari silam, tim SUROBOYO.id berjumpa dengan salah satu guru besar Unair di laboratorium sintesis. Nama beliau, Prof Dr Ahmad Syahrani Apt MS. Memang, wakil rektor Unair 2010-2015 ini kelahiran Kalimantan Selatan.

Namun, sejak 1973, yang bersangkutan menetap, kuliah, dan berkarya di Surabaya. Jadi, ente-ente yang lahir sebelum 1973, tidak berhak menganggap diri lebih Suroboyo dari pakar farmasi ini.

Bisa dibilang, Pak Syahrani ini asli “produk” Unair. Pemilik 31 publikasi internasional ini menempuh pendidikan S1, S2, dan S3 di kampus yang beralamat di Dharmawangsa tersebut.

SUROBOYO.id sejatinya mengobrol tentang banyak hal dengan beliau. Mulai dari soal pergeseran perspektif religiusitas di Jawa pada era 70-an sampai sekarang, silsilah wali songo, dan seberapa penting Indonesia bergerak go international.

Namun, yang akan dibahas dalam kesempatan ini adalah soal betapa luhur nilai-nilai pendidikan berbasis kearifan lokal jawa. Harapannya, kita semua-mua, tidak nggumunan terhadap metode pabrikan luar negeri. Sebab, terdapat konsep-konsep lokal yang brilian.

Berikut obrolan yang dimaksud. Kurang lebihnya, mohon maaf.

Selamat siang, Pak. Bapak terlihat lebih segar, sejak terakhir kita jumpa dua tahunan yang lalu.

Alhamdulillah. Mudah-mudahan, kamu sehat selalu. Dan bisa melanjutkan S3.

Aamiin. Semoga Allah SWT mengabulkan do’a kita semua. Pak, saya punya beberapa pertanyaan. Seputar perbedaan atmosfer pendidikan zaman dulu dan sekarang. Menurut Bapak, beda gak pak?

Ya, pasti beda. Dulu, tidak semudah sekarang. Dulu itu belum musim internet. Semua serba dihapal. Semua serba dicatat. Bahkan, zaman saya kuliah S1, fotokopi pun belum ada.

Belajarnya lebih sulit ya, Pak?

Yang jelas, sekarang serba gampang. Kalau mau tahu struktur rumus klorofil yang tergolong gampang itu saja (padahal itu sudah ruwet, Red), tinggal klik. Dulu, kami bisa tahu struktur itu kalau lihat dosen mengajar. Makanya, kita harus masuk terus, nyatat terus, menghafal terus.

Jadi, sekarang tidak perlu banyak menghafal?

Menghafal itu penting. Namun, di zaman sekarang, hafalannya tidak perlu sekuat di masa lampau. Buat apa dihafal? Tinggal klik semua sudah kelihatan.

pendidikan Jawa
Prof. Syahrani. Foto: Rio F Rachman

Kalau sekarang, lebih pas kalau pakai metode apa, Pak?

Begini, di dunia psikologi atau pendidikan ada yang namanya teori Bloom. Kamu tahu kan?

Maaf, Pak. Saya tidak paham. Maklum, Pak, saya juga masih belajar.

Teori itu, lho, yang tentang kognitif, afektif, psikomotorik. Nah, di Jawa, ada konsep yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Istilahnya: Ngerti, Ngeroso, Ngelakoni. Menurut saya, teori Ki Hajar Dewantara itu cocok dengan pendidikan kita. Tidak kalah dengan falsafah Bloom.

Rinciannya bagaimana, Pak?

Belajar itu tidak hanya sampai tahap ngerti. Dan ngerti itu, sekadar bisa dicapai dengan hafalan. Nah, belajar itu perlu ngeroso sehingga bisa ngelakoni dengan baik.

Bagaimana bisa ngeroso? Terjunlah untuk praktek. Turunlah ke lapangan. Kalau di eksakta, kamu bisa ke laboratorium. Kalau di ilmu sosial, kamu bisa langsung ke masyarakat.

Pendidikan saat ini, harus mengedepankan praktek langsung. Kalau sudah ngerti dan ngeroso, Insya Allah bisa ngelakoni pekerjaan apapun dengan baik. Itulah gol pendidikan.

Wah, pelajaran dari Jawa yang dikemas Ki Hajar, pas banget dengan kondisi negeri ini.

Benar. Satu lagi, kamu pernah lihat tulisan di emblem (badge, Red) anak sekolah? Bunyinya apa?

Tut Wuri Handayani

SD? SMP? SMA?

Kayaknya, seingat saya, sama semua, Pak.

Padahal kan ajaran Ki Hajar itu tiga aspek. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang mendorong serta memberi kekuatan).

Dari kenyataan tersebut, kita seharusnya selalu sadar, bahwa pendidikan bukan hanya soal Tut Wuri Handayani. Pendidik, tidak cuma mendorong dari belakang murid. Ajaran Ki Hajar mesti diserap menyeluruh. Pendidik, dosen, atau guru, wajib berada di depan, di samping, dan di belakang.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here