SWAT, Solid Waste Transportation, Efisiensi Pengangkutan Sampah

Alat angkut sampah milik DKP dilengkapi dengan piranti yang tersambung ke aplikasi SWAT

BERITA SURABAYA – Salah satu probem kota besar yang harus ditangani dengan baik adalah soal persampahan. Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya memandang, terobosan atau inovasi untuk mengelola sampah di Kota Pahlawan mesti terus menerus tercetus. Jamak diketahui, volume sampah di Surabaya selalu bertambah. Berbanding lurus dengan laju pertambahan penduduk. Hingga 2015, dengan jumlah penduduk sekitar 3,1 juta jiwa, jumlah sampah yang dihasilkan warga mencapai 1.300 ton per hari.

Sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Pemda setempat wajib menggunakan kewenangannya untuk menangani dan mengurangi sampah. Sudah barang tentu, semua aspek persampahan harus diberi atensi. Tidak hanya soal implementasi program 3R (Recycle, Reuse, Reduce). Namun juga, di bidang manajemen pengangkutan dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampai Tempat Pengolahan Akhir (TPA).

Selama ini, pengangkutan sampah yang dilakukan oleh DKP menggunakan armada dengan jumlah terbatas. Karena memang, sarana dan anggaran yang dimiliki Pemkot Surabaya tidak terfokus ke instansi ini saja. Di Surabaya, terdapat satu TPA (Benowo) yang menjadi jujukan sekitar 184 TPS di 154 kelurahan. Sementara jumlah armada pengangkutan sampah sekitar 130 unit. Terdiri atas truk arm-roll, dump truk dan compactor, yang beroperasi rata-rata 1-2 ritase/hari.

Berkaca dari keterbatasan itu, perlu dibentuk manajemen pengangkutan yang efektif serta pengawasan yang intensif. Supaya, proses pengangkutan sampah dapat berjalan dengan optimal dan terkendali. Juga, dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.

Selain jumlah armada pengangkutan yang terbatas, rute pengangkutan sampah yang belum efektif juga mempengaruhi manajemen penanganan sampah. Dalam manajemen pengangkutan sampah, apabila terjadi keterlambatan pengambilan sampah, dampaknya pada lingkungan sekitar TPS pasti negatif. Sampah menumpuk tinggi dan menimbulkan bau.

Area di sekitarnya menjadi kotor dan tidak sehat. Sehingga, rentan akan sarang penyakit. Kecerdasan dan kejelian dalam mencetuskan metode pengangkutan sampah inilah yang menjadi tantangan manajemen pengolahan sampah.

Optimalisasi teknologi

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah. Hal itu harus dimanfaatkan untuk menciptakan inovasi di segala lini di lingkup Pemkot Surabaya. Tak terkecuali, di bidang manajemen pengangkutan sampah yang menjadi domain DKP.

Setelah melalui sejumlah telaah akademik, DKP merumuskan sebuah sistem manajemen pengangkutan sampah secara online dan terintegrasi. Sistem ini diberi nama, SWAT. Kependekan dari Solid Waste Transportation. Teknologi ini dirangkai untuk memudahkan pengawasan dan maksimalisasi layanan pengangkutan sampah. Diharapkan pula, penghematan atau efisiensi di sejumlah pos anggaran dapat dicapai.

SWAT memudahkan DKP melakukan monitoring dan evaluasi segala hal terkait pengangkutan sampah. Mulai dari kinerja sopir, kondisi umum setiap armada, efisiensi bahan bakar/BBM, tonase jumlah sampah yang masuk TPA tiap hari, kondisi armada pengangkut, dan efektifitas jadwal pengangkutan dari seluruh TPS di Surabaya. Semua aspek tadi bisa dilihat melalui layar PC, tablet, maupun mobile phone.

Inovasi ini bersifat online 24 jam. Jadi, dapat diakses kapanpun dan di manapun oleh pemangku kepentingan (misalnya, pengawas dari DKP). Selain itu, aplikasi SWAT juga dapat menampilkan data secara realtime. Aplikasi ini bisa menampilkan data konsumsi bahan bakar dan berat tonase sampah dalam bentuk grafik dan statistik. Pengguna dapat melihat posisi seluruh kendaraan pengangkut sampah secara realtime (checkpoint-based), walaupun tanpa menggunakan GPS yang cenderung mahal.

SWAT memudahkan evaluasi beberapa hal terkait penanganan persampahan. Termasuk, identifikasi sumber sampah. Kalau sumber sampah diketahui secara detail, evaluasi retribusi persampahan bisa diaktualisasikan. Selain itu, aplikasi ini juga menciptakan acuan rute perjalanan armada pengangkut sampah. Sehingga, BBM dapat diefisiensikan. Ini memudahkan sopir memilih jalur pengangkutan sampah paling tepat dari TPS menuju TPA.

Yang tak kalah menarik, SWAT memungkinkan DKP mengkaji skala prioritas. Karena sudah mengetahui sumber sampah dan tonase harian yang ada di tiap TPS, DKP bisa lebih pasti dalam menentukan kapan tepatnya pengangkutan dilaksanakan. Misalnya, salah satu TPS kapasitasnya selalu penuh setiap hari. Artinya, armada wajib menyambanginya saban hari. Bahkan, mungkin saja hingga dua kali sehari. Nah, ada pula TPS yang cukup didatangi sehari satu kali.

Berdasarkan data yang sudah masuk ke sistem, bisa diketahui skala prioritas secara pasti. Intinya, semua hal ihwal persampahan bisa terintegrasi melalui SWAT. Tak terkecuali, komunikasi dan koordinasi dengan jembatan timbang di TPA Benowo. Semua masuk sistem dengan barcode khusus. Sehingga, keakuratan data persampahan bisa lebih terpercaya.

Tak hanya itu, bila sistem “mengendus” ada sesuatu yang tidak wajar, misalnya, jumlah tonase di armada yang terlalu sedikit atau terlampau banyak, pemegang otoritas (pengawas dari DKP) akan menerima sms gateway atau email. Dengan demikian, monitoring akan lebih optimal. Terlebih, di sejumlah lokasi strategis juga dipasang CCTV yang terintegrasi dengan program ini. Otomatis, pemantauan pihak-pihak yang berwenang di DKP bisa lebih gampang dilaksanakan.

Masyarakat dilibatkan

Apa yang dilakukan DKP melalui aplikasi SWAT pastilah bertujuan meningkatkan pelayanan pada warga Surabaya. Diharapkan, anggaran dari uang rakyat di pos pengangkutan sampah bisa dihemat sedemikian rupa dengan upaya efisiensi. Di sisi lain, jadwal pengangkutan yang transparan membuat masyarakat bisa tahu pasti kapan TPS di daerahnya penuh ataupun kosong. Bila menurut jadwal TPS tersebut harusnya sudah kosong, tapi ternyata masih penuh, masyarakat bisa komplain ke DKP.

Fitur SWAT menyiapkan jadwal pengangkutan sampah dari semua TPS ke TPA. DKP siap bila sewaktu-waktu masyarakat ingin menanyakan atau meminta jadwal itu untuk kemudian mengkonfirmasikannya dengan kondisi di lapangan. Ke depan, DKP akan membuat fitur-fitur lain yang membuat warga bisa memberi saran, kritik, maupun komentar melalui aplikasi tersebut.

Pada tahun 2015, sudah banyak dinas kebersihan dari daerah lain yang datang ke Surabaya. Mereka mengaku ingin belajar banyak tentang SWAT. Di antaranya, dari DKI Jakarta, Kota Samarinda dan Kota Banjar Baru. Pemkot Samarinda mengaku siap menduplikasi aplikasi ini di daerahnya.

DKP Surabaya akan terus mempromosikan aplikasi SWAT ini ke daerah lain. dengan harapan, manfaatnya dapat dirasakan untuk masyarakat yang lebih luas. Makin banyak yang memakainya, makin banyak pula yang memikirkan cara melengkapi fitur-fitur yang ada. Dengan demikian, aplikasi yang berguna untuk pengawasan pengangkutan sampah ini bakal makin sempurna.

SWAT adalah bukti bahwa optimalisasi pengangkutan sampah tidak hanya berkutat pada penambahan armada dan Sumber Daya Manusia. Sebab, bisa juga dengan melakukan pembenahan manajemen berbasis teknologi informasi. Sehingga, efisiensi pemakaian fasilitas, sarana dan prasarana dapat terwujud. Tak lupa, pengawasan pada semua unsur dalam rantai pekerjaan ini juga mesti dilakukan dengan teliti.

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here