Susahnya Jadi Blasteran, Punya Dua “Rumah” Tapi Tak Pernah Diterima

blasteran

Sering dengar kata “bule” kan? Pokoknya semua yang datang dari luar negeri, berkulit putih, kaukasia disebut bule. Bahkan pemakaian kata bule ini juga makin berkembang dengan sebutan bule Arab untuk orang-orang Timur Tengah dan bule Afrika untuk orang berkulit hitam.

Kita, sebagai orang Indonesia, terbiasa dengan kata ini. Asal putih, mata agak terang, rambut kemerahan atau coklat, pokoknya bule.

Kebo putih juga kita sebut kebo bule.

Saat mengatakan kata bule ini, buat kita tuh biasa saja. Tapi apakah pernah kita tahu perasaan orang yang kita panggil bule? Ada beberapa teman saya merasa wajar dipanggil bule. Senang-senang saja.

Tapi ada juga lho beberapa yang gak suka. Di Wikipedia malah disebut bahwa kadang orang asing salah mengartikan sehingga kata ini tuh terkesan ngenyek.

Seperti yang saya bilang tadi, asal agak bening, seorang biasanya dipanggil bule. Suami saya gak suka dipanggil bule. Pernah saya tanya kenapa. Jawabnya, “Karena aku bukan bule. Aku itu Indo.”

Indo disini juga bukan Indonesia. Kebetulan suami saya itu blasteran Indonesia-Jerman.

Hmmm. Kalo dipikir ya benar juga.

Sepertinya kata Indo ini sudah mengalami pergeseran makna. Kata lain dari Indo ini sebenernya “blasteran”. Namun, akhir-akhir ini, Indo ini dipakai sebagai singkatan untuk Indonesia.

Namun ketidaksukaan suami tentang panggilan “bule” lebih dari itu. Dia ternyata punya pengalaman yang agak menyakitkan tentang ini.

Menjadi blasteran itu saya pikir punya keuntungan ganda. Bahwa seseorang bisa diterima di dua lingkungan yang berbeda. Yang terjadi sama si Mas Bojo malah kebalikannya.

Waktu dia di Indonesia, dia dibule-bulekan, disuruh pulang ke Jerman. Waktu dia di Jerman juga gak mudah. Sama teman-teman sekolahnya disuruh pulang ke Asia.

Lha trus de’e kudu yok opo? Iso mbayangno gak rasane koyok opo? Iki ngunu semacam diskriminasi lho, Rek!

Mungkin ini jugalah yang dirasakan temen-temen saya yang “ampyang” (blasteran Cina-Jawa/suku lain di Indonesia). Dolan nang kene di-Cina-cinakan, dolan nang kunu di-Jowo-jowokan.

Saya tahu ini mungkin tidak terjadi kepada semua orang. Tapi dari sini saya tahu bahwa lahir sebagai blasteran itu ternyata ada gak enaknya. Ibaratnya, orang blasteran iku duwe omah loro, tapi selalu ditundung. Dua-duanya tidak mau menerima.

Nah, anak saya juga sering dipanggil bule. Padahal secara biologis, dia itu 75 persen Indonesia. (Aku lali yok opo hukume di pelajaran Biologi. Maklum ae, Biologi ku pas SMP-SMA antara 6-7 nilainya :p ).

Berdasar pengalaman pahit si Mas yang kucinta, kami gak mau dong ini terjadi pada si kecil. Jadi secara pribadi saya meminta pembaca semua untuk memanggil anak kami dengan nama saja, tanpa embel-embel.

Supaya Arjuna feel home dimanapun dia berada. Supaya Arjuna juga bisa belajar untuk mengormati siapapun tanpa memandang suku bangsa atau rasnya.

Biarkan dia menjadi Arjuna dengan pribadinya, bukan karena ber-Bapak Indo-Jerman, ber-Ibu Jawa.

Sudah, gitu aja sih.

Next articleNgaso #1: Rumah Baru
Nurul Merkle
Lahir di kotanya Pramoedya Ananta Toer (Blora), besar di kotanya Bung Tomo (Surabaya), dan sekarang sedang tinggal di dusun kecil di Jerman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here