Statistik “Tiki-Taka” Risma yang Bisa Mengalahkan Ahok

sumber: www.surabaya.go.id/suasana Festival Tunjungan di salah satu sudut Surabaya. Surabaya dianggap berkembang baik saat dipimpin Bu Risma

Sebelum tulisan ecek-ecek ini saya lanjutkan, perlu disampaikan disklemer. Bahwa, saya tidak mendukung cagub DKI Jakarta siapapun  dia. Lha wong eyke di Surabaya.

Apa yang saya sampaikan sekadar upaya untuk bergembira. Menyemarakkan perputingbeliungan #oposeh! wacana dan opini tentang Bu Risma yang dicalonkan eksponen masyarakat tertentu untuk menjadi DKI Satu.

Kalau nanti ada tulisan yang terkesan Rasis, itu tidak disengaja. Lha wong saya yakin, perbedaan itu ciptaan tuhan. Kalau saya Rasis, nanti dimarahi tuhan. Dan, aku emoh diseneni karo Sing Nggawe Urip. Soro, Rek!

Baiklah, jadi begini, ada beberapa poin yang membuat saya yakin, hanya Risma yang berpeluang mengalahkan Ahok. Silakan baca Bismillah, lalu teruskan membaca artikel ini.

Beking Politik

Kemarin kawan saya ngeshare tentang potensi Anies Baswedan jadi gubernur DKI. Okelah, beliau memang pintar. Visioner sih. Hebat dan gaya komunikasinya itu tenang dan terukur.

Tapi, partai mana yang mau mencalonkan do’i. Kecuali, beliyaunya buat Partai Indonesia Mengajar. Dan itu sudah terlambat kalau mau buat sekarang.

Secara pribadi, saya suka dengan Pak Anies. Bahkan, seandainya tempo hari dia lolos konvensi partai yang menyebut namanya saja saya males, lalu diperjuangkan/dicalonkan oleh partai yang mengingat lambangnya saja lebih pahit daripada mengingat kenangan memalukan di masa lampau, saya tidak akan golput dalam pilpres 2014 lalu.

Nah, Bu Risma lain cerita. Dia punya beking dahsyat: partai yang sukses mengusung calonnya jadi presiden, sekaligus partai yang mengetik huruf-hurufnya saja membuat jari saya geli. Apapun itu, Bu Risma tergolong anak kesayangan “pemilik” partai tersebut.

Kalau ada orang yang bilang, Anies lebih punya modal “akademik”, ingat wahai sodara-sodara, Bu Risma ini tercatat sebagai Doktor Honoris Causa dari ITS. Terlepas ada isu politis dari penetapannya waktu itu, kalau ditilik-tilik, beliyaunya memang layak, kok.

Bahwa tata kota yang baik sudah ada sejak zaman Wali Kota Bambang DH , memang tidak dapat dimungkiri. Namun, beliyau sanggup mempertahankan dan melanjutkannya dengan brilian, kan?!

Di sisi lain, ada yang bilang Ridwan Kamil berpeluang dan memiliki elektabilitas duwur. Lhah, terus, partaine opo? Konon beliyau dekat dengan partai Pak Eks Danjen Kopassus yang terhormat. Tapi, entah bagaimana bisa, partai itu akhirnya memproklamasikan nama cagub pengusaha muda sukses yang gambarnya di metromini justru mengundang rasan-rasan di medsos. Ai don now lah yau.

Ada sih nama lain: Pak Yusril, Pak Adhiayksa Dault, dan bla-bla-bla. Saya tidak tahu menahu isu kepartaian atau beking politik mereka. Dan mungkin, parpol juga tidak tahu cara menyikapi keberadaan mereka. Ehm, kira-kira apa untungnya bagi partai?!

Citra Sosial

Bu Risma ini kerap menang momentum. Dia tampil di TV, eh pas mbahas hal-hal sensitif, lalu beliyaunya mewek. Jadi trending topic.

Dia lagi marah-marah sama bakul es krim ndik Bungkul, ngamuk suroboyoan, eh ketangkep kamera. Jadi trending topic maneh yang seandainya saya punya twitter, akan saya beri hestek #pahlawantamanasiatenggara

Ini berbeda dengan kabar yang berembus soal Pak Ahok, yang isunya, “mengkondisikan” wartawan kalau mau marah-marah sama anak buah. Benar tidaknya berita itu, silakan konfirmasi dengan para jurnalis yang ngepos di Balai Kota Jakarta sambil bilang, “Ini off the record kok mas/mbak. Saya gak nyebarin info ini kok,” #ngok.

Citra sosial Bu Risma menguat pas dheweke nutup ndolly. Terus wong-wong apatis nggacor, “Dolly tutup, prostitusi online berkembang pesat”.

Mbuh wong-wong iku mbiyen sekolah TPA nduk ndi. Kok analisise isis banget anale. Prostitusi online itu berkembang seiring progresifitas teknologi! Gak onok hubungane dengan penutupan lokalisasi iku! Dolly gak tutup lho, sing online-online sudah jalan dan bakal terus berkembang.

Bagi orang Jakarta yang masih menganggap prostitusi itu fitnah dunya wal akhirot, pasti ini faktor pemikat khusus layaknya buluh perindu. Bagi yang tidak menganggap begitu, ya mbuh, Rek. Wong koyok ngono iku seneng seks bebas bek’e?! Mbuh, gak pengen ngerasani!

Di aspek agama, Bu Risma juga punya nilai tawar. Tolong dipahami, saya tidak sedang Rasis. Karena, saiki usume sithik-sithik diwara Rasis, sithik-sithik diwara Rasis. Rasis kok sithik-sithik #guyonlawas.

Kelompok Islam yang resisten dengan kenonislaman Ahok bisa berpaling pada ibuk-ibuk yang satu ini. Sudahlah, lupakan dalil: perempuan haram memimpin. Karena dalil itu tidak relevan. Selama ini, Bu Risma sudah memimpin Surabaya dan semua relatif aman terkendali.

Problemnya hanyalah, terkait sebagian orang-orang Islam dari partai atau golongan tertentu yang sumpek dengan Jokowi. Jadi, mungkin saja, karena Bu Risma separtai dengan presiden, mereka pun jadi ogah-ogahan ndukung.

Padiahal, kalau dirunut, Risma di partainya tergolong anak bandel. Brosingo, dulu, Risma kerap berselisih ambek partai pendukung. Meski akhirnya, saat sudah resmi jadi petugas partai, dia malah jadi kesayangan mama.

Didukung Musuh Politik di Jatim

Ini sebenarnya asumsi penulis SUROBOYO.id Agung Putu Iskandar. Dia bilang, musuh politik di Jawa Timur senang karena Risma pindah kawasan. Mereka pun sok memberi support.

Meski memang, sejumlah status facebook kawan yang dulu bludrek ambek Risma, saiki malah sok ndukung “Kami Ikhlas Bu Risma Hijrah”, “Kami rela untuk kepentingan yang lebih besar”, dan lain sebangsanya.

Yang kadang, orang-orang seperti itu justru nggarai ngakak. Sengakak pas kali pertama dengar, KPK mengungkap kasus Bang Ipul. Alamak!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here