Srikandi Baruna, Sebuah Cermin Kesetaraan Gender di Surabaya

Pasukan srikandi baruna

 

Berita Surabaya – Pemadam Kebakaran (Damkar) yang mengemban tugas penuh resiko kerap digambarkan dengan sosok gagah berani menerjang bahaya. Umumnya, identik dengan tugas yang dilaksanakan oleh laki-laki. Meski demikian, dalam perjalanannya, personel Damkar tak hanya bertanggungjawab terhadap persoalan teknis di lapangan. Sebab, permasalahan non teknis kerap “membumbui” pekerjaan instansi yang berjargon Pantang Pulang Sebelum Padam ini.

Hal non teknis yang dimaksud antara lain, evakuasi korban dalam batasan ring #1, penanganan dan pendampingan khusus serta persuasif pada korban yang cenderung shock dan emosional. Termasuk, inovasi petugas penyuluh pencegahan dan penanggulan bahaya kebakaran secara dini.

Bila ditelaah, para korban kebakaran, baik laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak, membutuhkan petugas evakuasi yang bukan hanya berani, terampil dan cekatan. Namun juga,  membutuhkan sosok petugas yang lembut dan melindungi. Sebagaimana sosok seorang ibu yang mengayomi anak-anaknya dari bahaya yang menghadang. Proses pemadaman kebakaran pada suatu daerah, sering kali terganggu oleh aksi warga yang panik dan emosional karena rumah mereka ikut dilalap api. Di aspek pra kejadian, masyarakat seperti kurang memahami pencegahan dan penanggulangan bahaya si jago merah secara dini.

Bertolak dari fakta di atas, Pemkot menilai perlunya  supporting system untuk mengemban tugas-tugas tersebut. Baik yang bersifat teknis di lapangan, maupun non teknis. Sebagai salah satu solusi permasalahan, Kepala Dinas Kebakaran Kota Surabaya beserta jajarannya mengambil kebijakan membentuk kelompok Srikandi Baruna yang beranggotakan 16 petugas Damkar putri (dibagi menjadi dua regu). Keputusan untuk memberi tanggungjawab besar pada petugas dengan jenis kelamin perempuan, juga menjadi bukti, kesetaraan gender di Surabaya sudah terimplementasi dengan baik.

Keberadaan Srikandi Baruna memberi banyak efek positif. Berdasarkan data 2013-2014, permasalahan non teknis (yang penjelasannya disinggung di atas) teratasi dengan baik. Sementara itu, diakui atau tidak, tugas non teknis tersebut sejatinya tidak kalah berat dengan kewajiban yang harus dilaksanakan petugas berjenis kelamin laki-laki. Kesimpulannya, Srikandi Baruna memiliki peran sentral dalam kelancaran kerja Damkar di Kota Pahlawan.

Pelatihan Khusus

Strategi tahapan pembentukan dan implementasi program Srikandi Baruna adalah Perekrutan Keanggotaan, Pelatihan dan Pengembangan Keahlian, Penempatan Keanggotaan, Sarana dan Prasarana, Komitmen Keluarga Anggota, Dasar Pelaksanaan Tugas, Proses Monitoring dan Evaluasi, serta Promosi Pelayanan Publik Srikandi Baruna.

Secara umum, perekrutan anggota harus berdasarkan objektifitas dan melalui rangkaian tes kemampuan. Penempatan mereka pasca diterima sebagai petugas pun melalui kebijakan instansi. Demikian pula, terkait dasar dan mekanisme pelaksanaan tugas yang pastinya sudah ditentukan. Yang jelas, mereka wajib siap on call 24 jam untuk melayani masyarakat. Khususnya, di ranah strategis lokasi kebakaran.

Adapun terkait sarana dan prasarana, mereka mendapat apa yang didapatkan petugas Damkar putra. Seperti jaket, sepatu, dan helm khusus, HT atau alat komunikasi, serta lain sebagainya. Nah, bagaimana soal komitmen dari keluarga?

Secara kodrati, tugas strategis yang diemban setiap anggota Srikandi Baruna akan sangat berpengaruh terhadap posisinya di keluarga. Baik sebagai Ibu ataupun istri. Untuk itu, diperlukan komitmen dari keluarga untuk merelakan yang bersangkutan bertugas kapanpun dan di manapun. Toh, apa yang dikerjakan merupakan wujud pengabdian pada bangsa dan Negara. Tepatnya, pada masyarakat luas di lingkup Surabaya.

Di aspek pelatihan dan pengembangan keahlian, para Srikandi Baruna digembleng sedemikian rupa. Sebab, mereka wajib memiliki keahlian pokok/main skill petugas Damkar dalam melakukan pemadaman kebakaran. Mereka wajib sanggup melakukan persiapan alat-alat pemadam kebakaran, menguasai strategi pemadaman kebakaran baik teori maupun praktek, dan menguasai keahlian evakuasi bencana. Misalnya, refling (turun dari ketinggian dengan menggunakan tali), fisik dan mental yang kuat, serta penguasaan PPGD (Penanganan Pertama pada Gawat Darurat).

Bagian Diklat Dinas Kebakaran secara rutin melakukan pendidikan dan pelatihan rutin agar keterampilan mereka terus berkembang. Kemampuan lain yang ikut dilatih adalah skill interaksi sosial, komunikasi dalam tim maupun di depan umum. Pengasahan rasa empati dengan melakukan kunjungan sosial ke panti anak yatim, penyandang cacat, serta kegiatan sosial lain, dibutuhkan untuk menjaga paradigma positif mereka.

Pada bagian lain, promosi program Srikandi Baruna melalui aneka media selalu dilakukan. Sebagai wujud tanggungjawab Pemkot untuk menghadirkan pelayanan prima di Dinas Kebakaran. Dengan demikian, simpati masyarakat dapat diraih dan ini bermanfaat melancarkan tugas. Sementara tugas pokok instansi ini pun dapat terlaksana secara lebih efektif dan efisien.

Adapun monitoring dan evaluasi Srikandi Baruna dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Kebakaran. Pemegang pucuk pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bermarkas di bilangan Pasar Turi ini juga tak henti memberikan penyuluhan atau suntikan semangat. Yang jelas, komunikasi yang terjalin antara pemimpin dan anggota mesti selalu dilaksanakan dengan baik. Sehingga kritik, saran, dan masukan dari pimpinan dapat sampai dengan optimal di level bawah.

Berkelanjutan

Pelaksanaan program inisiatif ini telah terlaksana secara berkelanjutan. Awal mulanya, dicetuskan pada 2012 dan terus berlangsung hingga saat ini. Mesti diakui, tiap tahun ada sejumlah pembenahan demi maksimalisasi peran Srikandi Baruna di masyarakat. Namun secara prinsip, pelayanan prima yang mereka suguhkan ke hadapan publik selama ini merupakan persembahan terbaik yang dapat diberikan.

Keahlian Srikandi Baruna terus ditingkatkan kualitasnya. Mereka difasilitasi dan dituntut untuk terus belajar. Khususnya, soal bagaimana cara memahami psikologis warga. Rasa empati dan kepedulian mesti terus diasah. Tujuannya, biar mereka lebih mudah untuk menyelami perasaan korban dan menenangkan mereka.

Di sisi lain, jumlah personel Srikandi Baruna direncanakan bakal terus ditambah. Sebab, peran strategis mereka selama ini sudah membuah hasil yang terukur. Dengan demikian, pelayanan terbaik untuk warga Surabaya di bidang pemadaman kebakaran dapat dijalankan. (*)

 

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

BACA JUGA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here