Serba-Serbi Manusia Frilen: Mulai Melekan di Warkop sampai di-PHP Konco

sumber: pixabay

Berita Surabaya – Sejak “pensiun dini” dari perusahaan koran yang tergolong besar di negeri ini, saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Tawaran demi tawaran (asline yo gak nok sing jelas, mung supoyo aku kethok payu, tak tulis ngono) saya tolak dengan halus. Saya merasa mantap memilih dunia freelance (baca: frilen).

Frilen adalah gaya hidup dalam dunia kerja. Bidangnya bermacam-macam. Bisa bidang tulis menulis dan industri kreatif ndek-ndekan seperti yang saya geluti, bidang pekerjaan kasar/serabutan seperti yang digeluti oleh Cak Ri dalam sketsa Ngaso di portal SUROBOYO.id, bidang konsultan politik seperti para pengabab Pilkada DKI sing lamis-lamis dan asline drijiku keri nulis wong-wong iku maeng, atau di bidang lainnya.

Dalam kesempatan ini, saya akan berbagi tentang serba-serbi dunia frilen di industri kreatif yang selama ini saya jadikan ruang ekspresi lan sandaran nggolek upo. Selain aktif sebagai editor di sejumlah portal dan pengajar di beberapa sentra pendidikan, sejatinya saya lebih aktif bekerja frilen.

Oh iyes, ada sedikit desclaimer: bidang industri kreatif yang saya tuliskan di sini tidak luas. Hanya sebatas yang tercatat di artikel saja.

Padahal industri kreatif, bagi saya, memiliki cakupan yang luar biasa panjang kali lebar. Ombo! Tak terbatas waktu! #halah

Mau Resign, Awas PHP

Kawan-kawan jurnalis, penulis, tukang desain, potograper maupun video maker, umumnya sudah punya pekerjaan tetap. Tapi, karena jiwa seni dan idealisme mereka membuncah-buncah kayak birahi bujang tanggung sing kudune rabi tapi gak rabi-rabi, kerap kali mereka ingin nekat resign!

Tapi eits, tunggu dulu. Atur nafas, rapikan logika, kuatkan mental. Mungkin saat peno ape resign, banyak kawan-kawan sing bakal ndukung. Dalihnya: Pokoke, nek koen ape resign, njupuk frilenan, aku bakal ndukung. Aku akeh garapan, ngkuk tak bagi neng awakmu!

Yakinlah, tidak semua dari mereka yang berdalih dan berjanji manis seperti itu akan menepatinya. Sering kali, wong-wong iku ngabab mung gegoro timbang gak ngomong. Maka itu, sekali lagi, sebelum ente mau resign dan memutuskan frilen: atur nafas, rapikan logika, kuatkan mental.

Konon, kawan yang suka mem-PHP tentang pekerjaan, lebih banyak jumlahnya dari calon kepala daerah yang suka obral janji koyok bakul jamu nok prapatan. Sik mulyo bakul jamu, masio ngobral janji, jamune jelas-jelas diwekno neng awak dewe.  

Bayaran Gede

Jare bung Agung Putu Iskandar, bayaran wong frilen untuk mengerjakan hal yang sama dengan orang yang tidak frilen, sudah sepantasnya lebih besar.

Dia berdalil, “Kita ini bekerja khusus untuk klien. Eksklusif untuk mereka. Meluangkan waktu sefokus-fokusnya. Jelas perspektif seperti ini berbeda dengan pekerja di perusahaan,”

Nah, hal ini memberi garis pada peno-peno sing ape nggawe jasa konco-konco sing frilen. Ojok mok tarif banting-bantingan, Rek.

Ojok medit koyok qorun, ojok sumbung koyok pir’aun!

Melekan di Warkop Wi-Fi

Saya sering heran. Beberapa kawan copywriter, web developer, desainer grafis, kerap suka melekan di Warkop sing nggawe wifi banter. Padahal, biasanya mereka juga punya rumah, yang juga pasang internet.

“Suasananya berbeda. Lebih inspiratif,” kata salah satu kawan.

Sekali lagi, warkop atau kafe dengan wifi ekstra cepat, baik pada jam-jam tertentu maupun pada sepenuh hari. Soale, nek warkop biasa, iku jenenge ape ngopi. Bukan ape wifi-an garap frilenan.

Garapan “Lumintu”

Kalaupun tidak minta bayaran besar, sering kali kawan-kawan frilenan konsentrasi pada proyek-proyek “lumintu”.

Apa itu Lumintu? Kalau kamu mencari arti kata Lumintu dengan membuka internet, akan muncul beberapa makna. Tapi ada benang merahnya, yakni: rezeki berkesinambungan, tidak banyak, tapi cukup.

Kawan-kawan frilen biasanya suka pula menggarap proyek yang bayarane cilik, dengan catatan, pekerjaannya tidak sulit. Sedikit asal berkesinambungan, tentu tidak mengapa. Sedikit asal banyak, pasti membahagiakan. Sambil menunggu, garapan atau proyek besar-besar lain yang akan datang.

Sik-sik, koyok ada yang ganjil. Maeng koyoke onok tulisan “Sedikit asal banyak, pasti membahagiakan”. Sedikit asal banyak? Maksude opo?

Aku yo bingung…

Oh iyes, Rek. Nek koen ape nambahi serba-serbi liyane, monggo. Dalam pikiranku, yo mek ngunu thok. Maklum, Rek, apalah hamba ini. Banyak khilaf, dungu, dan penuh noda.

hiks hiks hiks

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here