Sego Kucing Wes Mainstream, Iki Lho: SEGO MACAN! Aum aum

Saya tidak tahu apakah ini sudah umum atau tidak. Mungkin karena sego kucing sudah terlalu mainstream, terciptalah sego macan alias sgmcn. Porsine, tentu lebih banyak dari sego kucing. Anggap saja, ini porsi mbokne kucing #meong.

Saya belum lama tahu akan kenyataan ini. Namun mungkin, karena saya kuper belaka.

Sgmcn yang saya maksud berada di Jalan Wiyung. Depan Mitra 10 pas, tapi rodok ngetan sithik.

Kalau saya tidak salah ingat, lokasi itu sebelumnya ditempati bisnis cucian motor. Tapi, mungkin orang-orang sekitar lebih suka cuci sendiri, sehingga bisnis itu tutup atau pindah tempat. Wallahu a’lam.

Sebelumnya lagi, di lokasi sgmcn itu, ada warung soto lamongan Jempol. Sotonya enak. Harga… ya biasa-biasa saja, tidak mahal. Sekarang, soto lamongan Jempol itu pindah sekitar 300 meter ke arah timur. Kenapa pindah? Saya juga tidak paham.

Kembali soal sgmcn, harganya relatif terjangkau. Tadi malam, 5 September 2017, saya makan di sana, satu sgmcn Rp 6 ribu iwak sambel goreng teri, satu sate berutu kiro-kiro telungewu, satu sate kulit kiro-kiro telungewu pisan, karo segelas jeruk anget senilai patangewuan.

Saya pun membayar Rp 16 ribu dengan kenyamanan yang menurut saya optimal. Saya pengen nambah. Pengen bianget. Tapi, saya tahu, nikmat dunia itu fana.

Kalau saya nambah, belum tentu seenak saat saya kelaparan sebelumnya. Lagipula, kalau saya nambah, nanti saya tambah buncit.

Hal ini berbeda dengan saat kali pertama saya menyantap sgmcn. Waktu itu bareng pemuda-pemuda dekat rumah yang baru main bulu tangkis di Pratama.

Waktu itu saya nambah. Dengan lauk yang lebih banyak. Rasanya, olahraga saya malam itu muspro. Baru saja lemak dibakar, sudah ditambah lagi. Wassalam!

Menu sgmc, selain teri, adalah oseng-oseng tempe dan ayam geprek. Lauknya, banyak sekali. Sate usus, tempe, ayam, telor puyuh, dan lain sebagainya.

Sebelum disajikan, dibakar dulu. Mbok! Nyam nyam aduhai citarasanya.

Apalagi, sgmcn dibungkus kertas kado, eh maaf, maksud saya dibungkus daun pisang. Barakallah! Bakarane tambah suedep poll!

Yang menarik, tempat parkir sgmcn cukup memadai. Tampaknya, manajemen warung ini melakukan komunikasi intensif dengan bengkel mobil sebelah. Maka itu, sedikit sisa pelataran parkir bengkel yang tidak tercakup pagar bengkel, bisa dipakai warung sgmcn. Tidak lebar, tapi memanjang. Nyaman buat parkir sepeda motor. Untuk mobil? Ehm, cukuplah, mudah-mudahan.

Interior dan pencahayaannya pun amboi, lho. Asyik dibuat cangkruk, ataupun makan malam. Di hari pertama saya datang, ada sekelompok pemuda yang nyambi main remi “24-an”. Sekelompok pemuda itu, setelah saya amati, ternyata kawan-kawan saya sendiri, yang datang bareng habis main bulu tangkis di Pratama.

Saya gak ikut main, karena mau fokus makan. Alhamdulillah.

Oh iya, selain makanan berat, warung sgmcn juga menyediakan aneka minuman hangat. Koyoke, aku lali seh asline, dodolan wedhang jahe pisan. Koyoke lho ya.

Juga, jual roti bakar. Jenenge roti bakar Joni.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here