Saudara Seperdebatan

Sabtu lalu (3/12), tulisan Rio F. Rachman, penulis di www.suroboyo.id, dimuat di harian Duta Masyarakat. Monggo disimak, yang mau nyimak. Yang gak mau, ya gak apa-apa. Yang penting, jangan lupa banyak berdo’a.

—-

Saudara Seperdebatan

Di era sekarang ini, media sosial kerap berisi hal yang bombastis. Kontroversial. Adu argumen terjadi antar manusia-manusia berilmu dangkal yang sok tahu. Bahkan, antar pemikir, seniman, budayawan, akademisi, dan kaum intelektual yang meluncurkan pendapat berbasis ilmu pengetahuan. Sayangnya, seperti yang disebutkan tadi, fenomena pintar-pintaran berdalil (nyetatus, ngetwit, Red) tetap merupakan pola utama.

Bisa jadi, demikianlah imbas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada perspektif keinginan narsis seseorang. Semua ingin dipuji, mau dikomentari status fesbuknya, di-retweet ocehannya, yang muara semua itu sekadar pemuas dahaga eksistensi dan egoisme: pendapat saya dan golongan saya adalah paling logis.

Perdebatan sudah jadi barang lumrah. Meski pangkalnya jelas, yakni hal-hal hiperbolis yang diumbar media massa, ujungnya tak terlihat. Sebagai contoh, perdebatan tentang golongan tertentu yang dinilai sesat dalam berkeyakinan. Yang berdebat adalah dua orang beragama sama. Mereka saling hujat satu sama lain.

Yang satu membela golongan tadi atas dasar HAM dan mengklaim diri toleran. Yang lain mengkafirkannya dengan dalil kitab suci dan mengaku sebagai penjaga ideologi. Mereka, para saudara seiman itu, bertukar kritikan bahkan cemoohan. Sementara golongan yang jadi sumber persoalan, mungkin sedang sembahyang dengan santai di ruang tengah rumahnya.

Misal lain yang belakangan muncul adalah soal pro dan kontra penghapusan perda yang disebut-sebut bernuansa syariah pada Ramadan tahun hijriyah silam. Hal itu menyeruak seiring isu pemilik warteg peraup jutaan rupiah sumbangan netizen sehabis dirazia Satpol PP. Perselisihan opini tentang ini membuat gaduh media sosial. Jangankan antar mereka yang berbeda agama. Mereka yang memiliki agama sama pun perang urat leher.

Ada lagi satu aksi massal, malah memunculkan aksi tandingan. Dilengkapi argumen yang sedemikian kuat satu sama lain. Bertabrakan. Sesama saudara debat kusir, seagama maupun sebangsa. Di media sosial, semua orang seperti masuk dalam lingkungan saudara seperdebatan. Manfaatnya? Yang paling jelas, pengisi waktu luang nan penuh emosional.

Masing-masing seperti memendam kebencian pada pendebatnya. Namun diam-diam, mereka rindu didebat. Mereka mengeluarkan statement yang rentan diperselisihkan. Bukan hanya untuk mencari kawan satu pandangan. Lebih dari itu, mungkin saja, karena ingin dan berharap ada teman seperdebatan yang melancarkan bantahan. Perdebatan adalah sesuatu yang diidam-idamkan dalam kehidupan media sosial.

Kadang, dua orang yang bekerja dalam satu kantor yang sama, berdebat sengit tentang agama. Tentang mana yang sesuai ajaran nabi, dan yang dianggap kreasi ulama belaka. Tak jarang, cercaan dan makian keluar dari tuts keyboard atau keypad masing-masing. Paling tidak, lontaran pesan nyinyir berhamburan. Padahal, pada jam beribadah, mereka berjalan untuk sembahyang di tempat yang sama. Dalam suasana yang berat untuk saling bertegur sapa.

Bayangkan, hanya karena pro pada capres nomor satu, seseorang hingga kini begitu suka menyindir dan membuat meme yang menyudutkan capres nomor dua. Kedua pendukung masih sering tukar-menukar kebobrokan masing-masing jago.

Lha, untuk apa? Pilpres sudah berlalu, situ masih ngurus jago masing-masing. Lha wong¸ orangnya tidak kenal antum. Kok, ente urusi? Sedangkan lawan debatmu itu adalah kawan satu sekolah SD saat kamu masih kecil. Bukankah tidak lebih baik, kamu mencintai orang di dekatmu saja, daripada gara-gara orang yang jauh, kamu dan kawanmu bersitegang?

Menahan diri

Saya tidak tahu secara detail ajaran agama lain. Bahkan, saya tidak mau mengklaim bahwa sudah paham benar dengan agama yang saya anut. Namun paling tidak, sependek pengetahuan saya yang dangkal ini, Islam yang saya khidmati mati-matian hingga kini, mengajarkan umat untuk pandai menahan diri.

Terdapat banyak arahan agar orang-orang Islam menghindari perdebatan. Bahkan saat dia benar! Konon, Imam Syafi’i, semoga Allah SWT meridhoinya, pernah berkali-kali menghindari debat, padahal dia yakin benar. Pertimbangannya adalah seberapa penting perdebatan itu (seberapa besar manfaat dan mudharat yang dimunculkan dari perdebatan tersebut). Anjuran untuk lebih baik diam dari pada berkata tanpa manfaat, seperti digigitnya kuat-kuat. Bahkan, dalam beberapa kisah terkait pasal adu argumen, lelaki kelahiran Palestina itu dikabarkan pernah berkata, “Saya berharap kebenaran itu keluar dari lidah lawan bicara saya,”.

Kalau sudah paham akan pentingnya menahan diri, sepatutnya umat manusia berhenti nyinyir terhadap orang lain. Minimal, bagi orang Islam yang percaya bahwa tidak asal ngomong itu adalah kebaikan. Obyektif saja, karena Islam adalah agama mayoritas di tanah air, bisa dibilang, penganutnya merupakan kaum yang paling banyak update di media sosial.

Dalam perkembangannya, perdebatan di media sosial diindikasikan oleh golongan tertentu sebagai upaya konspiratif untuk menggalakkan proxy war. Prinsipnya, apa yang terjadi saat ini merupakan usaha memecah-belah eksponen bangsa melalui kebencian. Memang, silang perspektif seperti ini tidak akan langsung berakhir pada perang saudara. Namun, benih perbedaan pendapat yang disulut saban hari melalui perdebatan tetaplah kontraproduktif bagi kekompakan.

Di sisi lain, untuk bersikap dewasa dan tidak larut dalam isu media massa, bangsa Indonesia tidak perlu terlalu paham tentang konspirasi dan proxy war. Tak ada jeleknya untuk berkontemplasi. Biar tidak selalu kosong bunyi status dan tweet di media sosial. Biar tidak tampak dungu meski sebenarnya memang surut pengetahuan. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here