Perjuangan Mobil Sapu Angin ITS: Juara di Filipina, Terbakar di London, Pahlawan di Indonesia

Mobil Sapu Angin ITS. Foto: Joss Today

Berita Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) mengikuti ajang EcoShell Marathon Drivers World Championship (DWC) di London, Inggris. Mereka membawa mobil bernama Sapu Angin.

Ajang tersebut melombakan mobil hemat energi. Dengan bahan bakar dibatasi dalam jumlah tertentu, mereka melombakan mobil paling efisien, baik dalam jarak tempuh maupun kecepatan.

Sayang, di ajang tersebut, Sapu Angin terbakar saat dipindahkan ke lokasi lomba dari gudang panitia di London. Tim Sapu Angin sempat membangun kembali mobil tersebut mulai dari nol namun panitia akhirnya mendiskualifikasi mereka.

Berikut ini timeline perjuangan mereka.

Maret 2016

Sapu Angin menjuarai Shell Eco Marathon Challenge Asia 2016 di Filipina. Hasil tersebut membuat mereka berhak mengikuti ajang yang sama tingkat dunia di London, Inggris.

Ada insiden saat di Filipina. Sapu Angin meluncur dengan kecepatan fantastis, 301 kilometer per liter bahan bakar. Kecepatan tersebut melampaui rekor kejuaraan serupa di Eropa.

Namun, hasil tersebut ternyata tak membuat gembira wakil Eropa. Mereka sempat menyatakan mobil Sapu Angin ITS menggunakan ban ilegal. Padahal, menurut anggota tim, persyaratan hanya didasarkan pada ukuran ban dengan diameter 1,6 meter. Tim pun dipaksa mengulang lomba dari awal.

“Dengan dongkol Tim berusaha kesana-sini mencari ban pengganti, karena mereka hanya mempunyai 2 ban cadangan, itupun ban bekas ex Solar Car ITS yang diikutkan dalam lomba di Australia bulan sebelumnya. Beruntung Tim ITB yang sudah gugur saat itu bersedia meminjamkan dua ban-nya sehingga genaplah keempat ban diganti,” kata Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD.

Mei 2016

Tim Sapu Angin memperbaiki mesin sebelum pemberangkatan ke London. Di antaranya pengaturan mesin, penyesuaian transimisi, dan peningkatan kinerja sistem pengereman. Tujuannya, bisa lolos pada technical inspection sebagai syarat wajib untuk terjun ke sirkuit.

27 Juni 2016

Rombongan berangkat ke London setelah sebelumnya mobil Sapu Angin dikirim ke London dengan peti kemas.

28 Juni 2016

Rombongan tim baru transit di Doha tapi mendapat kabar bahwa mobil terbakar. “Kami menerima kabar dari pihak pengirim bahwa boks atau peti kemas yang berisi mobil dan perlengkapan tim Sapu Angin ITS terbakar saat anggota tim masih transit di Doha, Qatar dalam perjalanan menuju London,” kata Dosen Pembimbing Tim Sapu Angin ITS Surabaya Ir Witantyo yang ikut bersama rombongan seperti dikutip Tribun News.

“Kami hanya menerima kabar bahwa peti kemas itu terbakar saat pengiriman dari gudang di London menuju lokasi lomba yaitu Olympic Park London. Pada saat akan diturunkan itulah, terlihat asap dari boks atau peti kemas,” katanya, 28 Juni 2016.

29 Juni-1 Juli

Tim Mobil Sapu Angin ITS membangun ulang agar tetap bisa berlaga dalam ajang bergengsi tersebut. Hingga Jumat, 1 Juli, tujuh mahasiswa dan dosen pembimbing berusaha mengembalikan wujud mobil Sapu Angin agar layak ikut lomba. Mereka bekerja siang dan malam menyelesaikan pembangunan ulang mobil meski harus berpuasa selama 19 jam.

“Pihak panitia juga memberikan kesempatan untuk bisa tetap ikut lomba,” kata Witantyo M.Eng.Sc.

Kata Witantyo, chasis dan sebagian body mobil serta beberapa mesin masih bisa digunakan. “Kami desain ulang wujud Sapu Angin dari sisa-sisa bahan yang telah hangus terbakar. Memang bentuknya jelek, tapi kami berharap performance dan endurance-nya masih bisa seperti hasil latihan terakhir saat latihan menjelang keberangkatan ke Inggris,” katanya seperti dikutip Lensa Indonesia.

3 Juli 2016

Perjuangan tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membangun ulang Mobil Sapu Angin ITS kandas. Panitia Shell Eco Marathon Challenge Divers World Championship (DWC) mendiskualifikasi juara Asia Pasifik itu karena mengalami banyak perubahan. (major challenge).

Padahal sehari sebelumnya, mobil yang telah mengalami banyak perubahan setelah sebelumnya terbakar, dinyatakan lolos dalam pemeriksaan teknis dan mendapatkan kesempatan untuk layak jalan (valid run).

“Kami telah melaporkannya kenyataan ini ke Pak Rektor dan Rektor telah mengirim surat untuk meminta penjelasan detail terhadap kasus ini,” kata Witantyo seperti dikutip Lensa Indonesia.

Setelah Sapu Angin didiskualifikasi, tim Bumi Siliwangi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung justru juara di kategori urban listrik.

4 Juli 2016

Pernyataan Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD:

Bukan berprasangka, namun logika untuk menghentikan kiprah Sapu Angin sangat aneh dalam lomba SEM DWC 2016 ini. Awalnya, tim diperbolehkan ikut inspeksi teknikal dan dinyatakan lolos, serta kemudian diperbolehkan mengikuti kualifikasi untuk menentukan apakah bisa mengikuti lomba apakah tidak.

Syaratnya adalah harus mampu menempuh 90% dari record capaian rata-atanya saat dulu menjadi juara Asia-Pasific, yaitu 90% × 249.8 km/l = 225 km/l.

Saat dicoba sehari sebelumnya, tim Sapuangin sudah berhasil mencapai 183 km/l. Namun belum lagi dicoba untuk tahap akhir, langsung dikeluar vonis melarang ITS untuk ikut serta.

Mungkin mereka khawatir juga ya membiarkan Tim Bonek ini terus mencoba, jangan-jangan bisa benar-benar lolos ikut lomba..he…hee..

Yang tidak mereka perhitungkan kemudian adalah adanya kenyataan bahwa dari 5 Tim yang mewakili Asia (3 dari indonesia, yaitu ITS, UI dan UPI, serta masing-masing 1 Tim dari Filipina dan Singapura untuk kelas yang berbeda), hanya Singapura saja satu-satunya tim yang dinyatakan lolos lomba.

Tim UI dan Filipina tidak punya valid race, jadi otomatis tidak dapat ijin lomba, sementara ITS dilarang.

Karena itu, UPI yang sebenarnya tidak masuk kriteria 90%, akhirnya malah diijinkan ikut lomba, karena selain kepatutan Asia masa hanya diwakili satu tim saja, boleh jadi juga, mereka tidak menganggap UPI sebagai ancaman.

Perhitungan mereka ternyata kembali meleset, UPI ternyata mampu menjungkirbalikkan perkiraan banyak orang dengan menjadi Juara Dunia di Kelas Urban Listrik!

Luar biasa, marwah bangsa Indonesia akhirnya tetap terjaga berkat prestasi ini, dan merah-putih pun berkibar di udara Inggris Raya. Bravo!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here