Sambut MEA dengan Rumah Bahasa

Salah satu potret aktifitas pembelajaran di Rumah Bahasa dengan penutur asing

Berita Surabaya – Penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir 2015 menuntut Pemkot Surabaya untuk kreatif dan inovatif dalam segala bidang. Termasuk, di aspek penguatan sumber daya manusia (SDM). Betapa tidak, persaingan di level internasional akan tercipta. Bukan hanya soal pergeseran barang dan jasa yang menjadi lebih mudah di lingkup Asean. Perpindahan atau “impor” tenaga kerja dari negeri-negeri tetangga juga bakal lebih gampang. Kontestasi di antara tenaga kerja merupakan keniscayaan. Kompetisi meraih petak lapangan kerja di Indonesia, setidaknya diramaikan oleh sembilan negara Asean lain:   Malaysia, Philliphina, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.

Pelaksanaan Otonomi Daerah yang sudah berjalan memberi ruang kebebasan bagi Pemkot Surabaya untuk berinisiatif. Khususnya, terkait pengembangan kualitas dan kapasitas SDM di Kota Pahlawan. Sehubungan dengan semangat go internasional atau perluasan hubungan antar negara, eksekutif menilai, peningkatan kemampuan berkomunikasi bagi masyarakat mutlak diperlukan. Dalam konteks ini, kemampuan berbahasa asing.

Bertolak dari persepsi tersebut, tercetuslah gagasan untuk membangun sebuah wadah pembelajaran bahasa asing. Terutama, bahasa internasional yang paling kerap digunakan dalam komunikasi antar bangsa Asean. Meski kemudian, jenis bahasa yang dijadikan sasaran terus berkembang. Mengingat, dalam perjalanannya, batas geografis muka bumi semakin pudar. Orang dari belahan benua apapun, semakin mudah masuk atau keluar dari belahan benua yang lain.

Strategis

Melalui instansi Bagian Kerjasama, Pemkot Surabaya membuka layanan pembelajaran bahasa asing secara gratis. Program tersebut dikenal dengan sebutan Rumah Bahasa. Rumah Bahasa berada di komplek Balai Pemuda yang lokasinya strategi di tengah kota. Pada sudut yang menghubungkan Jalan Yos Sudarso dan Gubernur Suryo.

Program ini berjalan sejak Februari 2014. Dalam aktifitasnya, terdapat sejumlah pelajaran bahasa asing yang ditawarkan. Selain bahasa Inggris dan mandarin (yang umum dipakai antar warga di Asean), ada pula pelajaran bahasa Jepang, Korea, Arab, Thailand, Prancis, Jerman, Belanda, Rusia, dan Spanyol.

Rumah Bahasa tidak hanya menargetkan penguatan SDM atau masyarakat  di segi persaingan tenaga kerja lingkup Asean. Sebab, seiring waktu bergulir, Pemkot Surabaya  yakin, hubugan antar negara akan meluas di pelosok bumi yang lain. Hubungan yang dimaksud bisa di bidang tenaga kerja, pendidikan, sosial kebudayaan, dan lain sebagainya. Maka itu, sedapat mungkin, persiapan bahasa dilakukan sejak dini.

Pelajaran bahasa umumnya terdiri dari sejumlah tingkat/tahap. Mulai tingkat dasar, hingga tingkat mahir. Sesekali, ada pula kelas on the spot. Maksudnya, kelas yang membahas topik tertentu yang diskusinya dihabiskan dalam sekali pertemuan. Adapun durasi tiap pelajaran di Rumah Bahasa, berkisar selama tiga jam.

Uniknya, staf pengajar di Rumah Bahasa terdiri dari volunteer (sukarelawan). Mereka berasal dari kampus (dosen/mahasiswa), lembaga bimbingan belajar, perwakilan kantor negara asing, dan masyarakat umum. Artinya, program ini sudah memantik partisipasi masyarakat untuk berbagi wawasan dan pengetahuan berbahasa. Sejak masa sosialisasi awal pada akhir 2013 hingga pengoperasiannya saat ini, animo sukarelawan untuk urun serta tergolong besar. Berdasar data yang di lansir Bagian Kerjasama, hingga 2015, jumlah volunteer mencapai 150 orang.

Jumlah peserta pun tak kalah membeludak. Yakni, mencapai 15.000 orang. Latar belakangnya beraneka rupa. Ada sopir, pekerja pusat perbelanjaan, staf kampus, mahasiswa, bahkan siswa SMA dan masyarakat umum. Tidak ada syarat usia minimal peserta. Hanya, yang bersangkutan mesti sudah memiliki KTP atau sudah duduk di bangku SMA sederajat (ditunjukkan dengan kartu pelajar dan Kartu Susunan Keluarga).

Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan sosialisasi Rumah Bahasa lebih gampang. Mereka yang ingin mendapat informasi tak hanya bisa melalui front desk Rumah Bahasa. Namun juga, lewat media sosial facebook, surat elektronik, maupun sambungan telepon. Yang menarik, jam operasional Rumah Bahasa berbeda dengan jam kantor pada umumnya. Yakni, Senin – Jum’at, pukul 09.00 – 21.00 dan Sabtu – Minggu, pukul, 09.00-16.00. Jadi, setiap orang bisa memilih waktu yang cocok sesuai kelas bahasa yang diinginkan dengan lebih fleksibel.

Ditingkatkan

Di era globalisasi seperti sekarang ini, kebutuhan atas kemampuan bahasa asing tidak terelakkan. Analoginya, saat warga Surabaya memiliki produk aplikatif, pasar yang dijadikan sasaran pun harus luas. Tidak menutup kemungkian hingga luar negeri. Kalau sudah begitu, upaya promosi tidak mungkin dilakukan hanya dengan bahasa Indonesia. Contoh tadi hanya satu dari banyak studi kasus yang lain.

Prinsipnya, Pemkot Surabaya mesti mempersiapkan kemampuan bahasa asing warga secara berkelanjutan. Pelayanan di Rumah Bahasa mesti selalu ditingkatkan. Bahkan, pada 2015 lalu, Rumah Bahasa bisa dibilang kewalahan menerima pendaftaran peserta. Sampai-sampai, satu ruang kelas yang awalnya diperuntukkan bagi 15 peserta, mesti diisi oleh 25 peserta. Dari perspektif ini, dibutuhkan peningkatan di aspek jumlah pengajaran dan ruang belajar (paling tidak mesti dibuat penjadwalan yang mengakomodasi jumlah peserta).

Rumah Bahasa terus melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Termasuk, dengan lembaga ataupun komunitas/eksponen masyarakat yang memiliki SDM berkemampuan bahasa asing. Mereka, baik warga negera asing maupun orang lokal, dipersilakan untuk menjadi volunteer. Meski memang, tidak ada paksaan yang mengikat. Apa yang dilakukan Rumah Bahasa sekadar mensosialisasikan kegiatan positif ini.

Di sisi lain, screening terhadap peserta akan dilakukan secara rutin. Berdasarkan pengalaman, tidak semua peserta benar-benar serius mau belajar. Ada pula yang sekadar coba-coba. Memang, hal semacam ini tidak dilarang. Sebab, semua warga Surabaya, asalkan bersedia mendaftar dan memenuhi persyaratan, diperkenankan mengikuti pelajaran di sana. Namun, efesiensi jumlah peserta juga mesti dilakukan secara simultan. Supaya, pembelajaran tiap ruang kelas berjalan efektif.

Selama ini, Rumah Bahasa memberikan pula pengajaran di luar lokasi untuk beberapa profesi khusus. Di antaranya, pada Badan Diklat Angkatan Laut dan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkup Pemkot Surabaya. Komunikasi aktif dengan sejumlah pihak terus berlanjut. Misalnya, dengan bagian Security Tunjungan Plaza, Toko Buah Hoky, dan sejumlah rumah sakit di Surabaya, yang sudah menyatakan keinginannya untuk meminta pengajaran bahasa asing dari Rumah Bahasa.

Yang jelas, sinergitas antara sejumlah stake holder bakal terus ditingkatkan.  Kerjasama dengan berbagai kantor perwakilan negara asing (antara lain, Jepang, Prancis, Korea Selatan, Inggris, Tiongkok, dan lain-lain) selalu dibina dengan baik. Termasuk, dengan banyak volunteer dari beraneka rupa latar belakang. Harapannya, capaian dan usia Rumah Bahasa bisa selalu dalam tren positif.

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here