Ngaso #8: Rindu Ramadan

tenaga kerja asing

Malam begitu syahdu. Gerimis turun dengan santai. Jojo yang tadi siang begitu rewel sudah tidur sejak habis maghrib di ruang tengah. Beralaskan kasur tebal. Cak Ri duduk di teras dengan lesehan pakai kloso daun pandan, didampingi istri kesayangannya, Ning Tin.

“Aku kok tiba-tiba kangen posoan, yo,” celetuk Cak Ri. Di hadapan lelaki yang bekerja serabutan itu, secangkir kopi hitam tersaji. “Kangen bagaimana, tho?” tanya istrinya. “Ya, pas posoan itu, aku kan jadi rajin taraweh, kadang ikut tadarusan. Lalu, suara speaker orang mengaji yang bersesahutan itu, lho, magis benar. Marem mendengarnya,” ujar Cak Ri lantas menyeruput kopinya yang hangat.

Ning Tin tersenyum. Naga-naganya sih, senyum kecut dan menyindir. Benar saja, dia langsung berseloroh. “Gombal, samean iku. Kangenmu abang-abang lambe,” ujarnya lalu terkekeh sebentar. “Lha, gombal bagaimana, maksudmu?!” Cak Ri agak menegas.

Angin bertiup membawa hawa dingin. Tapi, dua sedjoli itu sudah sedia jaket sebelum dingin. Mereka memang sudah niat untuk bersantai melihat hujan rintik-rintik di muka rumah.

Setelah menghela nafas, Ning Tin lalu menjelaskan maksud tudingannya pada Cak Ri. Dia mengatakan, tingkah Cak Ri selepas Ramadan, tidak menunjukkan kerinduan pada bulan yang dianggap paling mulia oleh orang Islam itu. Betapa tidak, Cak Ri tidak kelihatan sedang mencoba mendekatkan diri dengan bulan puasa.

Ning Tin membuat analogi, seorang lelaki yang rindu dengan kekasihnya, akan melakukan banyak hal untuk selalu mendekatkan diri dengan pujaan hati. Dia mencoba mengsms gadis tersebut, menelepon, bahkan mungkin foto perempuan itu selalu ada di kantong dan dilihatnya terus menerus.

Lhah dalah, Cak Ri dewe yok opo? Dia mengaku rindu Ramadan, tapi kok tidak melakukan apapun yang bisa mendekatkan diri pada Ramadan. Ramadan tidak dikenangnya kecuali lewat celetukan lambe belaka.

Nek samean pancen kangen Ramadan, seharusnya melakukan hal-hal yang identik dengan bulan Ramadan. Taraweh memang sudah tidak ada. Tapi, samean kan bisa sholat sunah lain. Buat bilangannya sampai 23 raka’at. Lanjut tadarus. Jangan lupa, perbanyak puasa. Lhah samean, puasa syawal satu biji hari saja belum. Kalau begitu, bagaimana bisa aku percaya kalau samean rindu Ramadan,” kata Ning Tin yang langsung meraih cangkir kopi Cak Ri dan mereguk minuman tersebut.

Cak Ri terdiam. Di satu sisi, dia beranggapan istrinya kementhus. Di sisi lain, dia merasa istrinya tidak keliru. Jangan-jangan, dirinya hanya ikut-ikutan ustadz-ustadz yang bilang kalau Ramadan harus dirindukan. Namun, sebenarnya dia sendiri tidak benar-benar rindu. “Mungkin aku hanya latah,” kata dia lirih.

“Tapi asline ya gak apa-apa juga sih. Siapa tahu, kerinduan yang hanya di bibir itu, lama-lama bisa merasuk ke hati, dan tercermin dalam perbuatan,” sahut Ning Tin, yang didengar Cak Ri seperti petuah seorang ahli tasawuf saja.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here