RESENSI BUKU: Sebentuk Pemicu Semangat

Berita Surabaya – Bila berjalan sesuai rencana, dan telah ditakdirkan Tuhan, Penerbit Suroboyo menjual buku Kumpulan Cerita Pendek berjudul Merantau, yang baru kemarin sore dapat ISBN, karya penulis tetap website www.suroboyo.id. Siapa lagi kalau bukan Cak Rio F. Rachman yang konon dimarahi istrinya saat mau menulis buku Poligami Kontemporer.

Tak hanya memarahi, istri tersebut juga menghapus kerangka buku (yang dilengkapi dengan poin-poin referensi buku/kitab), sebanyak delapan halaman yang ada di laptopnya sambil berkilah, “Ada banyak topik bagus di dunia yang luas ini, kenapa otak sempitmu selalu berpikir tentang topik poligami?!”. Yang menarik, perempuan yang baru punya satu anak itu bicara pakai bahasa Arab.

Baiklah, kembali ke tema awal, Merantau dibanderol Rp 50 ribu. Lha kok larang? Murah dan Mahal sekadar perspektif. Yang penting, barokah. Barokah?! Tik tok tik tok, opo hubungane? Mbuh! Bagi yang berminat, silakan kontak admin fanpage SUROBOYO.id

Isi buku ini 130 halaman, 19 cerita pendek. Yang menarik, ada ilustrasinya dari al habib Anam Gangnam aka Khoirul Anam. Ilustrasine uapik-uapik. Sedulur yang mau buat ilustrasi untuk buku, silakan hubungi lelaki yang konon bermukim di Probolinggo itu.

Berikut adalah pengantar dari Penerbit Suroboyo yang disertakan di bagian muka buku Merantau. 

Sebentuk Pemicu Semangat

“Saya akan menerbitkan buku kumpulan cerita pendek. Mungkin jelek. Tapi kalau menunggu bagus, saya pikir, selamanya saya tak akan pernah membuat cerita pendek,”

KALIMAT seperti ini kerap dilontarkan Rio F. Rachman pada kawan-kawannya. Baik saat berada dalam forum diskusi, maupun tatkala berbincang ringan dengan sejawat.

Penulis kumpulan esai Menyikapi Perang Informasi dan kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab ini mengaku gemar pula menulis cerita pendek atau cerpen. Meski dia selalu mengklaim, atau merendah, bahwa karya sastranya di ranah tersebut sangat lemah.

Kalaupun suatu saat diluncurkan buku cerpen, ujar dia lagi pada suatu waktu, itu sekadar bentuk pemicu semangat. Biar dia termotivasi untuk terus memproduksi karya, sebagaimanapun sifat dan hasilnya. Merantau adalah buku cerpen perdana lelaki kelahiran Kotawaringin Timur ini. Ada sembilan belas cerita di dalamnya. Sebagian, ada yang pernah dirilis di media online maupun koran lokal.

Cerpen-cerpen tersebut, kata dia, dibuat dalam rentang yang cukup lama. Diperkirakan, sejak sekitar sepuluh tahun silam. Kekurangrapian alumnus S1 Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya ini dalam mengarsip, membuat dia tidak sanggup memberi tanggal penulisan pada tiap cerita yang disuguhkan.

Aneka topik

Ada beragam corak dalam kumpulan ini. Terdapat yang realis, surealis, absurd, dan sebagainya. Sesekali landai, kadang membolak-balik logika umum, beberapa kesempatan berupaya keras membuat kejutan dengan mengutak-atik imajinasi. Meski sejumlah karya terkesan datar tanpa “punch line” yang menohok, menikmati semuanya satu demi satu cukup ampuh mengusir rasa bosan. Terlebih, terdapat beberapa cerita pendek yang berbau metafisik, atau dalam bahasa frontal bisa dibilang klenik. Hal yang kerap memiliki eksotisme atau menarik rasa ingin tahu pembaca.

Sebagai contoh, dalam “Kunang di Atas Lautan” yang menunjukkan keanehan salah satu tokoh nan berubah jadi kunang-kunang di akhirnya. Dalam “Lowongan”, penulis berkisah tentang sebuah rumah hantu. Sedangkan di “Pelor Mas”, terdapat tokoh yang jadi hebat karena bertemu dengan sosok misterius di dalam mimpi. Lelaki berwibawa yang diketahui bernama Ndoro Guru itu membuat tokoh utama menjelma jadi dukun tiban kenamaan. Tapi di ujung, jadi gila dia di kuburan!

Sementara dalam “Peri-Peri Mengambil Nyawa Kami”, alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga ini seperti bereksperimen dengan angan-angan. Dia seperti melamun kalau pada suatu ketika, ada makhluk ganjil yang bisa membawa manusia terbang ke angkasa. Lantas, sesukanya menghempaskan insan itu ke muka bumi.

Beberapa cerita mengambil topik tentang cinta atau romantisme. Misalnya, dalam ”Kuade” dan “Janur Kuning”, yang berusaha mengreasi tema poligami. Di “Pada Sebuah Taman”, dikisahkan tokoh yang frustrasi dengan asmara, sehingga berpindah orientasi seksual. Klise, memang. Karena alur semacam ini tidak begitu sulit pula ditemui di karya penulis lain.

Potret asmara lain dapat disesap melalui “Benteng Hati Pada Pertemuan Singkat”. Sepasang dengan kasih tak sampai dalam dada, yang mesti tunduk pada jalur hidup. Sekali lagi, ini mungkin cerita klise. Tapi, bumbu-bumbu dalam fiksi yang diracik Rio, bakal membaurkan suasana yang berbeda. Karena toh, kadang yang klise itu juga menyentuh. Sering kali, yang biasa-biasa saja, justru mengena.

Yang tak kalah tercium pekat dalam kumpulan ini adalah topik kematian. Terlebih, pada “Kematian Terhormat”. Rio berkisah tentang seorang yang sudah siap mati dalam kondisi paling buruk. Walau yang perlu digarisbawahi pula, kejelekan badan ketika maut mencabut nyawa, yang digambarkan di cerita sebagai: tubuh penuh darah, bukanlah jaminan bahwa yang bersangkutan juga buruk perilaku di akhir hidup.

Setting masjid

Di sengaja atau tidak, sejumlah cerita pendek mengambil setting rumah ibadah umat Islam alias masjid. Bila ditelusuri, riwayat tempat tinggal Rio memang tidak pernah jauh dari masjid. Hal ini menjadi bukti bahwa profil dan pengalaman pribadi seseorang bakal sangat mempengaruhi karya-karyanya. Meski sekali lagi, bisa jadi dia tidak sengaja atau imbas diliputi konstruksi alam bawah sadar.

“Tatkala saya mengumpulkan cerpen-cerpen saya, barulah saya sadar, ada banyak masjid di sana,” urai Rio dalam sebuah diskusi sastra di Sampang November 2016 silam.

Ketika bermukim di Kotawaringin Timur, kediaman penulis berada di kisaran radius seratus meter dengan sebuah masjid dan sebuah surau. Dia mengaku kerap menyambangi masjid atau surau itu, secara bergantian, waktu magrib, isya dan shubuh.               Saat pindah ke Trenggalek pun demikian. Dia kerap ke surau yang tak jauh dari tempat bermukimnya.

Terlebih kala sudah menetap di Surabaya. Baik rumah kakek, maupun rumah Ibu tempat dia nunut, tepat berada di muka masjid. Dan tidak seperti orang yang suka kagum dengan rumah di hadapan masjid dengan bilang “Enak, ya, punya rumah di muka masjid”, tapi toh saat adzan dan berada di sana dia ogah-ogahan berangkat, Rio tergolong menyimpan tanggungjawab untuk rutin ke masjid. Meskipun, sering kali telat atau jadi makmum masbuk.

Cerpen-cerpen dengan setting masjid di antaranya, “Ibu Kasih”, “Peri-Peri Mengambil Nyawa Kami”, “Wajah-Wajah Muram”, “Sampah”, “Pensiun”, dan beberapa yang lain. Meski sama bersetting masjid, topik yang dipilih tetap beragam. Di masjid, selalu ada banyak kisah yang tak jarang multitafsir.

Sederhana

Diksi yang dipakai dalam kumpulan cerpen ini, seperti juga pada kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab, dirangkai dengan sederhana, tidak muluk-muluk dan gampang dipahami. Bahasa sehari-hari dengan tidak terlalu banyak majas atau deskripsi panjang.

Kalimat yang lugas ini, mau tak mau, dilekatkan pada profesi yang pernah dianutnya: wartawan. Dan, gaya bahasa di cerpen ini pun tak dapat menghindar dari model reportase. Bagaimana kalimat dikutip, penjelasan setelahnya, maupun deskripsi awal, mengingatkan pada gaya feature dalam media massa tulis.

Terlepas dari itu semua, paling tidak, kumpulan ini menunjukkan kalau karya sastra bisa fleksibel. Tidak inklusif dan seharusnya mampu membaur dan gampang dipahami khalayak. Kecuali, bila penulis sastra sedari awal ingin karyanya dinikmati terbatas bagi kalangan pegiat sastra belaka. —

Baca Juga

Jatidiri dalam Balada Pencatat Kitab

Teguran Buat yang Mendadak Penceramah

Kesederhanaan Kata-Kata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here