Resensi Buku: Mereka yang Tak Sibuk dengan Alasan

Buku Miftakhul "Fim" Fahamsyah enak dinikmati sembari ngopi sendiri. Foto: SUROBOYO.id

Hal-hal lokal yang diceritakan Fim di buku ini justru menyiratkan situasi universal manusia: kerelaan berkorban karena begitu peduli dengan sekitar.

Dalam salah satu kuliahnya, sastrawan Budi Darma pernah mengatakan bahwa karya sastra seringkali menceritakan hal-hal lokal. Entah tentang kisah seorang anak pelacur yang mengikuti pelajaran mengarang di sekolahnya, sirkus topeng monyet di salah satu pojok tragis Jakarta, atau cuma buku harian seorang narapidana yang menunggu giliran eksekusi hukuman mati.

Tapi, dalam kelokalan tersebut, sastra bersifat universal. Kisah monyet bernama O dalam novel Eka Kurniawan, misalnya, adalah juga kisah banyak orang. Obsesi besar yang justru mengantarkan si monyet pada tragedi. Begitu juga karya-karya sastra lainnya.

Meski sastra bersifat fiktif, paradigma yang sama bisa kita bawa pada 14 tulisan non fiksi karya jurnalis Jawa Pos sekaligus penulis Miftakhul “Fim” Fahamsyah. Fim meluncurkan buku keduanya yang berjudul Selalu Ada Cahaya Selepas Lorong Gelap. Sebelumnya, buku pertamanya berjudul Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut sudah lebih dulu meluncur ke pasar dan tandas tahun lalu.

Buku keduanya jauh berbeda dibanding buku pertama. Temanya tak lagi soal sepak bola. Tapi bergerak ke arah yang lebih universal: masalah-masalah dalam kehidupan.

Di dalam buku ini, Fim menuliskan sejumlah kisah tentang orang-orang yang ditemuinya di Sidoarjo, Surabaya, dan Medan. Cerita yang dia sajikan dalam format jurnalisme feature itu menceritakan tentang hal-hal lokal.

Di antaranya, tentang guru di sebuah daerah terisolasi di Sidoarjo, tentang warung yang hanya mau dibayar seikhlasnya, dan tukang sapu yang dulu tak bisa menulis kini malah jadi doktor.

Hal-hal lokal yang diceritakan Fim di buku ini justru menyiratkan situasi universal yang dihadapi manusia: pengorbanan karena tingkat kepedulian yang begitu besar dan semangat pantang menyerah.

Ada kisah, misalnya, tentang seorang ibu yang rela meninggalkan rumahnya di tengah kota demi bisa mengajar di sebuah kampung yang dikepung tambak dan sungai. Atau seorang karyawan keluar dari perusahaan multinasional di Singapura hanya agar bisa mengajar di pedalaman Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Dan, untuk berkorban itu, seseorang tak harus menunggu untuk memiliki segalanya.

BACA: Mifta Tawarkan Contoh “Kebaikan” yang Dekat

Di salah satu tulisannya berjudul Pengarang dan Obsesinya, Budi Darma mengatakan bahwa seorang penulis selalu didorong oleh pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya. Pertanyaan itulah yang membuatnya terus menggali apa yang terus berusaha dia jawab hingga kemudian menjadi obsesi.

Dalam buku ini, Fim terobsesi dengan apa yang bolehlah disebut sebagai masyarakat kecil.

Memang, tidak semua tokoh dalam kisah-kisah tersebut hidup dalam keterbatasan. Tapi, poin yang hendak disampaikan Fim memang bukan sejenis “Cinderella Story”. atau cerita “from zero to hero”.

Yang ingin digarisbawahi Fim adalah ada banyak orang-orang biasa tapi dengan kebajikan luar biasa. tanpa pamrih, tanpa ada niat terselubung untuk “pencitraan”.

Jahja Setiawan Tandadjaja, misalnya, bos PT Omega Plastics itu nekat mempekerjakan orang-orang difabel di perusahaannya yang tentu disambut baik kalangan masyarakat yang kerap dianggap tak berdaya tersebut.

Hal serupa bisa kita temui pada kisah Mustika Hikmawati mendirikan Warung Amal di Wonokromo yang hanya minta dibayar Rp 1.500 per porsi. Mustika berasal dari keluarga kaya. Kakaknya pemilik sejumlah lembaga pendidikan dan saudaranya yang lain adalah dosen di Universitas Airlangga.

Meski begitu, orang-orang mapan tersebut toh rela repot. Padahal,  setiap melakukannya, mereka juga dihadang banyak rintangan. Jadi, mereka sebenarnya punya banyak alasan untuk bersikap masa bodoh atau cuek.

Lantas, apa yang menggerakkan orang-orang ini untuk peduli dengan lingkungannya? Tak ada dari mereka yang bisa menjawab pasti. Fim juga tidak mengungkapkannya dengan pasti. Bukan karena dia tak mampu, tapi karena orang-orang ini memang tidak menyibukkan diri pada alasan.

Lagi pula, mereka jelas bingung jika harus menjelaskannya dalam argumentasi alasan yang kerap terjebak pada nilai ukur yang ketegoristis.

Itu jelas bakal membuat kepedulian mereka terasa lebih bersifat matematis daripada sebagai laku hidup. Mereka hanya tahu berbuat baik dan terus melakukannya. Karena itulah, jawabannya tak banyak keluar dari hal-hal yang kerap dicap “klise” seperti nrimo ing pandhum atau rasa kasihan.

Kesadaran tersebut sejatinya merupakan bagian dari “kebijaksanaan orang-orang miskin”. Kebijaksanaan yang mereka temukan sendiri dalam keseharian laku hidupnya. Mereka tak mau banyak berputar pada alasan, tapi menyibukkan diri pada kebaikan-kebaikan. Dan konsisten melakukannya karena ia akan mengantarkannya pada kebaikan yang lain.

BACA: Besok Mifta Luncurkan Buku Kedua

Tapi, siapa yang mau mendengar orang miskin? Dalam Kitab Pengkhotbah 9 :16, Raja Salomo (atau Nabi Sulaiman dalam literatur Islam) mengisahkan tentang lelaki miskin yang mampu menjaga kota dengan kebijaksanaannya. Tapi tak ada yang mengingatnya.

“Kebijaksanaan lebih baik daripada kekuatan. Tapi kebijaksanaan lelaki miskin ini diacuhkan dan kata-katanya tak pernah dianggap,” kata Salomo dalam kitab Perjanjian Lama tersebut.

Memang terdengar murung. Tapi, masih ada orang-orang seperti Fim yang sudi mendengarkan mereka dan menuliskannya. Membawanya muncul ke permukaan agar bisa lebih kita renungkan.

Dengan tebal hanya 100 halaman, buku ini memang tergolong buku yang tandas dalam sekali duduk. Tapi ia tetap memiliki makna yang besar jika kita memperlakukannya seperti petuah Raja Salomo. Membacanya dalam keheningan.

Buku ini membuat kita jadi tak pernah bisa berputus asa pada kemanusiaan.

Tulisan ini dimuat di Ruang Putih Jawa Pos, 5 Juni lalu di rubrik Resensi Buku. Untuk pembelian buku Selalu Ada Cahaya Selepas Lorong Gelap bisa dilakukan di sini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here