RESENSI BUKU: Jati Diri dalam Balada Pencatat Kitab Karya Rio F. Rachman

Rio F. Rachman, Anisa Fajriana, dan Umar Fauzi Ballah saat diskusi buku di Sampang bersama Komunitas Stingghil Sampang serta para hadirin yang diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada Minggu lalu (20/11), resensi buku Balada Pencatat Kitab dimuat di Radar Madura. Penulisnya, Anisa Fajriana Oktasari. Yang belum baca dan pengen mbaca, monggo dipirsani neng ngesor iki. Oh iyo, buku ini di hari yang sama, didiskusikan di Sampang, wahai dulur-dulur rahimakumullah. Alhamdulillah, semoga hidup kita semua lancar nggih.

 Jati Diri dalam Balada Pencatat Kitab Karya Rio F. Rachman

Oleh Anisa Fajriana Oktasari*

Membaca Balada Pencatat Kitab karya Rio F. Rachman mengingatkan saya pada pendapat Minderop (2010) dalam buku Psikologi Sastra yang menyatakan bahwa karya akan mencerminkan jiwa seorang pengarang. Hal ini terbukti dari karya-karya Rio F. Rachman yang mencerminkan jati diri, latar belakang pribadi dan kehidupan sehari-hari.

Apabila saya ingin membandingkan cuplikan karya Rio dan pujangga lain misalnya kumpulan puisi karya Tauhed Supratman yang berjudul Rapsodi Mawar dan Gerimis tentu berbeda dalam cara pencarian kata, permainan diksi, pemaknaan, dan gaya penceritaan. Kumpulan puisi karya Rio F. Rachman ini lebih menekankan bahasa yang lugas, langsung pada intinya, mudah difahami dan enak dibaca kaum pemula. Sedangkan, untuk karya Tauhed Supratman menggunakan bahasa majas yang tinggi, permainan kata-kata yang indah, pemaknaan yang mendalam sehingga mengingatkan kita saat membaca karya Kahlil Gibran. Disinilah saya beranggapan bahwa pengarang tercermin dari karyanya.

Lepas dari kedua hal di atas karya-karya Rio F. Rachman yang tergolong pengarang yang masih muda, banyak mengangkat kehidupan sehari-hari contoh dalam penggalan puisi “Kartun” masha dari rusia/seberang negara yang mengklaim paling digdaya//bocah kuat itu/perempuan di tengah hutan/bermain dengan beruang/ditakuti segenap binatang/melata atau terbang/bertaring atau licik/cerdik atau malas//masha sebatang kara/menetap di samping rel kereta//. Cuplikan bait puisi tersebut menjelaskan kisah kartun sehari-hari yang sedang trend pada tahun 2014 “Masha dan Beruang” kartun berasal dari Rusia. Dengan jelas Rio mengisahkan secara kronologis siapa Masha itu sehingga pembaca langsung teringat kartun mana yang dimaksud tanpa berbelit-belit. Kisah puisi ini dilatarbelakangi oleh seorang ponakan Rio F. Rachman yang gemar kartun hal ini terbersit di bait selanjutnya. Keponakanku suka thomas/kartun sepur bisa bicara//. Dalam hal ini hal yang sederhana dapat menjadi inspirasi yang bernilai.

Puisi lain yang menggambarkan kesan dan pesan Rio tentang kehidupan sehari-hari dan kejadian yang sedang populer adalah puisi “Pelangi” dalam bait “kita tidak patut lebay”/pesan motivator yang baru kena kasus. Hal ini mengingatkan kita pada kejadian seorang motivator yang berinisial MG yang baru-baru saja mendapat sebuah kasus dan banyak diperbincangkan di media elektronik.

Latar belakang Rio yang pernah menjadi wartawan banyak terlihat dari gaya penceritaan kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab. Contoh dalam puisi “Masjid” dan “Pasar”. Dalam puisi “Masjid” terdapat bait ada beraneka rupa orang di dalam masjid/misalnya, mereka yang datang pas dua hari raya/jadi panitia zakat dan tukang bagi daging/ para senior dan tak ada yang berani bantah//asyik dapat uang amil/masuk rumah jatah beras setahun sekali//kecipratan beberapa kilo daging/buat sate malam tasrik/sambil karaoke//daging rawon masih sisa sampai seminggu//……esensinya, sesama pengincar daging//. Dalam cuplikan beberapa bait tersebut bisa dikatakan Rio begitu fulgar mengkritik panitia kurban dadakan demi “mengincar daging” dalam cuplikan kutipan di atas.

Sedangkan dalam puisi  “Pasar” sangat gamblang Rio menceritakan kondisi pasar tradisional pada umumnya. Bau keringat kuli dan pedagang membaur/masam campur apek dibaluri aroma ikan, daging, dan sayur-mayur/sampai ke toilet yang tarifnya dua ribuan/dengan pemandangan usang mata mengantuk//ibu rumah tangga belanja sambil mengendong anak/pilih ini dan itu banyak tanya/orang-orang pasar adalah sosialita sejati/lebih kongkret dari gerombolan  syahrini//. Saat membacanya terkadang pembaca juga merasa tergelitik dan merasa ter-ekspos karena tidak dipungkiri bahwa hal ini banyak dialami pembaca. Hal ini terlihat dan tercermin dari cara penceritaannya yang mengidentifikasi Rio berasal dari lulusan sastra Inggris kemudian sempat menjadi wartawan lalu gemar disegala bidang tulis menulis esai dan sastra.

Kisah lain juga tercermin pada puisi “Pengeluh” dan “Pemilin Pagi” yang banyak menceritakan rona kehidupan era sekarang dan dunia metropolitan. Sesuai latar belakang Rio yang hidup di dunia perkotaan, juga tidak menutup kemungkinan Rio juga sempat mebahas pedesaan, bahkan masyarakat madura dalam puisi “Masjid”. Kisah sehari-hari yang cukup beragam, sederhana, dan tidak bertele-tele.

 

*Anisa Fajriana Oktasari, S.S., M.Pd. lahir di Bangkalan, 05 Oktober 1985. Menempuh pendidikan terakhir di Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya. Mengajar sastra Indonesia di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Madura. Email: anisa_fajriana@yahoo.co.id.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here