Ngaso #2: Poligami

Malam itu, habis isya, setelah Jojo tidur angkler, Cak Ri minta izin istri untuk cangkruk di warkop depan gang masuk kampung. Dalihnya, untuk silaturahmi dengan para tetangga. Cak Ri sendiri sebenarnya mengaku, seduhan kopi paling nikmat itu ya buatan Ning Tin.

Tapi, apa boleh dikata, salah satu bentuk sosialisasi di Surabaya adalah cangkrukan ndik warkop. “Iyo, Mas. Tapi, ojok karo nggudo-nggudo arek kost-kostan sing sliweran lho ya,” pesan Ning Tin.

Topik perbicangan di warkop ternyata sexy. Yakni, soal Kaji Kasan yang berniat kawin lagi. Bah! Jadilah dia bebini dua sebentar lagi! Entah mengapa, beberapa bapak-bapak di sana khidmat benar berdiskusi soal ini.

“Alasan beliyau kawin lagi, untuk menolong janda. Persoalannya, janda yang ditolong itu masih muda banget. Dua puluh delapan tahun! Biar nggak ditolong pun, janda itu pasti bisa menolong diri sendiri,” kata Wak Kopleh berapi-api. Tampaknya, dia cemburu dengan Kaji Kasan si bakul rongsokan yang berhasil menaklukan hati janda jelita.

“Masalahnya, Kajah Kasan, istri pertama beliyau, tidak setuju. Ya iyalah, siapa yang sepakat mau dimadu?!” seru Cak Gonggong seraya menyeruput teh anget. Dia baru sakit tipes. Jadi, prei dulu minum kopi.

Cak Ri lalu ikut nyerocos. Bahwa, banyak orang mengambinghitamkan sunah rosul untuk Poligami. Padahal tidak sesederhana itu. Bayangkan, apakah dengan poligami, istri, Ibu suami, dan Ibunya istri, tidak tersakiti?

Nah, menyakiti tiga orang itu, jelas haram!

Jadi, tidak logis kalau untuk mengejar yang sunah, suami melakukan yang haram. Istilahnya, “pangkat” poligami itu lebih rendah daripada “pangkat” bakti pada Ibu dan mertua. Bahkan, lebih rendah daripada “pangkat” menjaga perasaan istri.

“Saya yakin, tidak hanya Ibu mertua, ayah mertua pun ogah kalau anaknya dimadu,” ungkap Cak Ri lalu nyucup kopi hitam yang katanya asli dari Lampung.

Tak sampai disitu, Cak Ri kembali sok mengobok-obok hukum agama-sosial tentang Poligami. Dia menyitir ungkapan yang pernah dia ketahui beberapa waktu silam. Ada kalimat berbunyi: lebih baik punya istri dua tapi bahagia, daripada punya satu istri tapi bertengkar. Ini ngaco!

Pertama, kalau punya istri satu saja cek-cok terus, bagaimana kalau punya istri dua. Kedua, kalau logikanya soal bahagia atau tidak bahagia dari perspektif agama, boleh dong kalau ada ungkapan begini: lebih baik puasa sehari sebulan tapi bahagia dan khusyuk, daripada puasa sebulan penuh tapi tidak bahagia dan tidak khusyuk.

Kalau sudah begitu, imbuh Cak Ri, tidak ada unsur pembelajaran di dalam masing-masing ibadah. Semua bakal jadi runyam bila diteruskan.

“Yang ngaco kamu, Cak Ri. Apa hubungan ungkapan-ungkapan tadi?” seloroh Mas Jo, pemilik warkop. “Mbuhlah, pokoke ngunu. Poligami iku ruwet. Ojok digampang-gampangno,” singkat Cak Ri.

***

Sesampai di rumah. Cak Ri ngobrol dengan istrinya terkait topik Poligami yang baru dibicarakan bapak-bapak di warkop. Betapa terkejutnya dia mendengar omongan Ning Tin, “Sampean boleh kok Poligami,” ujarnya datar.

“Sampean pancen bojo calon penghuni surga. Tapi, justru keikhlasanmu itu yang membuat aku tidak akan menikah lagi,” sahut Cak Ri.

“Asline ngene, lho. Aku yakin sampean gak bakal Poligami. Lha, perempuan sehat mana yang sudi. Pekerjaanmu masih serabutan. Wajahmu, seandainya bukan ciptaan tuhan, pasti akan banyak yang buang muka saat berpandangan dengan sampean.”

“Nah, sampean harus bersyukur sudah punya istri. Punya anak yang cantik. Seperti halnya, aku yang selalu bersyukur meski dapat suami kayak sampean,” ketus Ning Tin seraya masuk kamar dan bobok dekat Jojo.

Sejak saat itu, Cak Ri tidak pernah membicarakan perkara Poligami dengan Ning Tin.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here