Ngaso #18: Pilgub DKI

tenaga kerja asing

Gembar-gembor Pilgub DKI sampai juga ke meja Warkop Mas Jo. Cak Ri Cs terlihat khusyuk membahas tiga calon yang akan berlaga di pesta demokrasi Ibukota itu. “Ini pertandingan antara Cina, Arab, dan Jawa. Saya bukan dari ketiganya. Jadi, saya jadi penonton saja,” derai Saragun membuka percakapan.

Sekilas, omongan dia seperti rasis. Namun, orang-orang di warkop itu tidak terlalu peduli dengan standar kerasisan serupa itu. Lhah, masak nuding orang yang benar-benar Cina sebagai Cina, yang benar-benar Arab sebagai Arab, dan yang benar-benar Jawa sebagai Jawa, dinilai menggangu kedamaian SARA?

“Gun, masio koen wong Cino, koen yo mung dadi penonton. Lha wong peno onok nang Suroboyo!” sergah Cak Gonggong disambut tawa Saragun. Keduanya lantas nyeruput kopi hitam pekat. Konon, bubuk kopi itu aselik dari Arab. Wak Kopleh yang baru naik haji membawanya ke tanah air.

“Tapi, dulur, awak dewe gak boleh apatis dengan yang terjadi di Jakarta. Mereka penduduk Jakarta kan saudara-saudara kita juga. Dan ingat, apapun yang terjadi di sana, gelombangnya pasti terasa ke seantero negeri,” Wak Kopleh ndalil.

Kawan-kawannya menghela nafas hampir berbarengan. Naga-naganya, lelaki paro baya ini mau ngecepret lebih panjang lagi.

Tak salah lagi, Wak Kopleh terus nyerocos. Dia mengatakan, meski tidak punya hak suara, paling tidak orang Surabaya mendoakan dulur-dulur di Jakarta biar dapat pemimpin yang baik. “Kalau kita bilang si A dibackup Taipan properti, si B dibackup Amerika, si C mulutnya kayak comberan dan doyan bohong, lha kan namanya juga politisi!?” Wak Kopleh berkoar.

“Sampean rasis Wak! Ini namanya mengeneralisasi. Sampean menganggap semua politisi busuk!” Cak Ri menimpali. Itu tidak boleh, kata Cak Ri. Karena sama saja menghina semua politisi. Padahal, ada juga politisi yang baik.

“Sebutkan satu saja nama politisi yang baik?” Wak Kopleh menangkis. Cak Ri terdiam. “Mungkin Cak Ri belum bisa jawab, Wak. Namun demikian, Wak Kopleh tetap saja rasis di aspek pengeneralisasian profesi manusia. Itu tidak elok,” Mas Jo nimbrung sambil ngudek kopi salah satu pelanggan.

“Mas Jo, saiki aku takok sampean. Sebutkan satu saja calon gubernur DKI yang benar-benar bersih. Bersih tindakannya, bersih mulutnya, bersih aliran dana pembackupnya, yang paling tidak bisa kita pahami secara logis sumbernya! Tantangan ini tidak hanya untuk Mas Jo, tapi untuk semua yang ada di warkop ini. Kalau ada yang bisa menyebutkan dan jawabannya masuk akal, saya besok motong ayam dua ekor dan saya sajikan di sini gratis!” Wak Kopleh sesumbar sambil menggebrak meja. Duh!

Semua orang di Warkop tak ada yang bisa menanggapi. Riuh rendah suara kendaraan lalu lalang begitu rutin. Pinggiran Surabaya pun tak pernah sepi dari keramaian.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here