Pertanyaan yang Jangan Disampaikan Pas Reuni di Resepsi Pernikahan

Sekumpulan orang lagi reuni saat mantenan. Maaf, manten wedok pas ketepakan gak melu foto.

Berita Surabaya – Ketahuilah, tidak hanya pertanyaan “Kapan Nikah?” yang tak pantas disampaikan pada acara reuni resepsi manten. Ada banyak pertanyaan lain.

Ya, memang pertanyaan “Kapan Nikah?” itu menokoh hingga ulu hati, lambung asam, ginjal empedu. Sebab,  penanya adalah seorang yang ingkar bahwa privasi adalah intim. Harus dilindungi. Dan, ente cawe-cawe? Sungguh teganya…

Lihatlah sekeliling, ada berapa kawan jomblo yang tidak datang pas resepsi manten kawanmu. Kenapa? Karena mereka takut terteror pertanyaan busuk itu!

Reuni pas resepsi manten, khususnya antar kawan-kawan kuliah, adalah wadah yang kultus, sakral, dan terpuji. Tahanlah diri untuk tidak berbasa-basi yang kelewat basi.

Berikut, pertanyaan basa-basi yang super duper basi dan harus dihindari itu. Ya, kita harus menghindarinya, agar terbebas dari godaan syaiton yang nista! Mudah-mudahan.

  1. Skripsi/Tesismu sampai mana?

Wes, Rek. Konco kuliah pengen ketemu rencang-rencang biar tambah semangat. Dapat inspirasi. Bukan untuk bertemu “dosen bayangan” yang sok tanya-tanya tugas akhir.

Kecuali, kamu benar-benar pengen bantu. Tesismu sampai bab berapa? Kubantu sisanya ya. Joss! Itu bukan basa-basi, melainkan, kerja kongkret!

  1. Saiki kerjo nang ndi?

Ya Allahhu ya Muhammad ya Abu Bakrin ya Siddiq ya Umar Utsman wa Ali, Siti Fatimah binti Rosuli.

Entah mengapa, saya merasa sulit menjawab pertanyaan ini. Dan saya yakin, sesama manusia yang sekadar punya pekerjaan kurang jelas, kurang kongkret seperti saya, muak dengan pertanyaan ini.

Opo o seh kudu takok ngene. Nek kerjoanku elek, lhak aku isin. Nek aku hanya buruh-pesuruh, aku lhak yon ngenes njawabe. Iya, aku ini sensitif, Rek. S-E-N-S-I-T-I-F.

Pernah saya menjawab dengan jawaban yang tak apik-apikno. Begini:

“Hey yo, kerjo neng ndi saiki. Jare wes metu seko Jawa Pos, ya?”

“Saiki frilen”

“Frilen opo”

“Yo, sik di dunia tulis menulis”

“Nulis opo?”

“Nulis buku”

“Buku opo?”

“Yo, kadang buku profil perusahaan, kadang biografi orang,”

“Orang koyok opo iku maksude?”

TENG TONG!

Dan, saya jelaskan pun secara detail, pertanyaan yang tidak penting dan jawaban yang tidak akan mengubah nasib dunia akan tercipta dan merangsek ke mana-mana.

Ngene lho, Rek. Di manten, lebih baik takok yang ringan-ringan. Koyok tho (anggap saja ini di manten yang hidangannya prasmanan).

“Yo, wes mangan?”

“Alhamdulillah. Wes ping telu,”

“Waduh, aku lagek pisan iki. Sing enak sing endi iki?”

“Enak kabeh. Entekno ae. Eman buwuhmu!”

“Meneng-menengan ae. Aku gak buwuh kok,”

Hening. Tapi, obrolan seperti itu justru menyenangkan. Tidak membuat tekanan.

  1. Bojomu/awakmu wes isi (hamil, Red)?

Rek, nduwe bayek, iku urusan napsi-napsi. Gak usah melu ngurusi. Meskipun tidak sedikit orang yang meteng sik baru rabi, cukup banyak pula yang sudah lama menikah tapi belum hamil. Ada banyak faktor Yang Mempengaruhi. Mulai karena memang KB, sampai karena belum diberi Tuhan.

Jangan pula tanya tentang anaklah. Do’akan saja, supaya keturunan kita semua sholeh dan sholehah. Ngkuk nek ngomong soal anak, delokan ta, koen lhak nyeritakno anakmu sing pinter, lucu, nggemesno, nomor satu dewe!

Wes ta lah, kabeh wong tuwo pasti menganggap anaknya paling baik. Gak usah dipamer-pamerno, justru kethok alay, lho.

  1. Saiki Manggon Neng Ndi?

Pertanyaan tentang tempat tinggal hanya boleh disampaikan kalau kita memang mau mampir. Jadi, bukan sekadar basa-basi.

Karena, tidak semua orang punya rumah yang representatif. Sehingga, njawabnya jadi males. Tidak semua orang yang sudah menikah nyaman saat ditanya tentang rumah, sementara rumahnya masih ngontrak, dan penanya sudah nyicil rumah di pinggir Sidoarjo. Apalagi, kalau yang ditanya ternyata masih numpang mertua.

Terteror, Rek, terteror, ngertio!

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here