Penerbit Suroboyo Luncurkan Buku “Coretan Guru Desa”

ilustrasi, bukan sampulnya lho ya

Selain Balada Pencatat Kitab  karya Rio F. Rachman, tahun ini Penerbit Suroboyo yang terafiliasi dengan www.suroboyo.id merilis pula sebuah kumpulan artikel pendidikan dan karakter. Ditulis oleh seorang guru muda asal Lamongan bernama, Nur Kholis Huda M.Pd. Buku tersebut, sudah bisa dipesan di email ini. Istilahnya, pre order, lewat email suroboyomail@gmail.com

Berikut ini sedikit resensi yang merupakan kata pengantar penerbit di buku tersebut.

Menggali Problematika Pendidikan Nasional

 Membaca Coretan Guru Desa, Kumpulan Artikel Pendidikan dan Karakter adalah menyesap wawasan tentang isu pendidikan kekinian. Termasuk di dalamnya, soal pendidikan karakter yang mutlak diperlukan generasi penerus di negeri ini. Penulisnya, Nur Kholis Huda, lulusan Universitas Negeri Surabaya yang melanjutan studi magister pendidikan di Universitas Kanjuruhan Malang, adalah seorang guru yang jeli. Paling tidak, dia mampu mengamati problematika pendidikan sekaligus merekamnya. Yang kemudian dituangkan dalam dua puluh satu artikel.

Lelaki kelahiran Lamongan ini bercerita tentang banyak hal. Antara lain tentang program Guru Pembelajar yang sempat dicetuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan, namun seperti “malu-malu kucing” diterapkan kala kementerian itu dipimpin Muhadjir Effendy. Dari sini dapat terlihat, sistem pendidikan yang “based on person”, bukan bersandar pada tujuan yang jelas.

Ada pula soal Uji Kompetensi Guru (UKG), Pendidikan Profesi Guru (PPG), Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dan beragam visi maupun konsep teknis pendidikan di Indonesia. Meskipun berdomisili di Lamongan, Jawa Timur, Kholis mengambil perspektif nasional dalam tiap tulisannya. Yang berarti, elemen yang digali kompatibel bagi masyarakat secara umum, atau paling tidak, bagi kalangan guru dan tenaga kependidikan.

Bertolak dari sana, dapat disimpulkan pula kalau Kholis bukan hanya guru yang sibuk mengajar. Dia juga peduli pada lingkungan tempat dia berkarya. Tak jarang, artikelnya kritis dan berani. Tak hanya “menantang” sistem pendidikan yang mbingungi, dia juga menawarkan solusi atau pandangan alternatif. Jadi, pemikiran yang disuguhkan tidak terkesan rasan-rasan belaka. Meski memang, seorang guru sudah sepatutnya menjadi pemecah persoalan. Jangan malah sekadar jadi beban kas negara yang suka menggosip tentang tunjangan yang tak lekas turun.

Yang tak kalah menarik, guru di SDN Jetis III Lamongan ini juga mencuplik banyak fenonema masyarakat. Khususnya, yang berkaitan dengan anak-anak atau para siswa sekolah. Contohnya, seputar gadget atau gawai, dan game online yang lagi ngehits di era modern ini. Guru, dituntut kreatif untuk menjadi pendidik yang disukai. Bukan hanya menjelma seorang penceramah yang berbicara tentang itu-itu melulu. Ya, pengajar bukanlah kaset yang diutar dalam tape recorder. Karena, guru harus mampu mencetak pemuda-pemudi calon pemimpin bangsa. Menghadapi tantang zaman, para pendidik wajib inovatif. Tidak boleh selalu berkutat pada model pendidikan yang stagnan.

Otokritik semacam kalimat-kalimat di atas juga sesekali dilontarkan dalam sejumlah artikel. Artinya, Kholis berupaya adil untuk berpendapat. Semua pihak memiliki peran sentral dalam pembangunan pendidikan Indonesia.

Tentu masih ada banyak topik lain yang ditelaah secara singkat, namun padat, di buku ini. Misalnya, soal pro dan kontra wacana full day school dari pemerintah, pentingnya kesantunan dalam berbahasa, nasib Guru Tidak Tetap (GTT), ancaman kejahatan seksual pada anak, kriminalisasi guru, dan lain sebagainya. Yang jelas, Kholis berupaya menyampaikan gagasannya seproporsional mungkin. Akhir kata, selamat membaca. Semoga bermanfaat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here