Pemimpin Harus Bisa Menyesuaikan Diri dengan Kultur Setempat

kepemimpinan dan pemimpin

Wacana kepemimpinan dan pemimpin adalah dua hal yang saling terkait. Seperti botol dan tutupnya. Seperti lelaki dan perempuan. Seperti Zaskia Gothik dan pacarnya. Dan seperti-seperti yang lain.

Sebuah kepemimpinan sangat bergantung pada sosok pemimpin yang ada. Peter Northouse, seperti dikutip di Sagepub, mendefinisikan kepemimpinan atau leadership sebagai sebuah proses yang melibatkan seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain. Tujuannya, memahami dan menyetujui tentang apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara memenuhinya.

Melalui definisi ini, dapat dipilah beberapa konsep mengenai kepemimpinan. Yakni, kepemimpinan adalah sebuah proses, kepemimpinan membutuhkan satu individual pemimpin, kepemimpinan melibatkan sekelompok individual lain yang dipimpin, dan kepemimpinan melibatkan sebuah tujuan bersama yang akan dituju.

Pendefinisian kepemimpinan di atas menjelaskan tentang peran krusial sosok pemimpin untuk tujuan bersama. Namun, kepemimpinan tidaklah sama dan homogen di setiap tempat. Dalam ragam masyarakat, tentunya memiliki banyak varian makna.

Bagi sebuah kelompok masyarakat, konsepsi kepemimpinan dekat dengan sistem yang dianut. Muaranya, kepemimpinan jadi bersifat khusus dengan aturan-aturan yang kaku dan spesifik. Sebagai contoh, kepemimpinan di suatu pemerintahan kerajaan atau suku primitif yang sangat mengutamakan faktor genetik. Seringkali kepemimpinan ini akan didasarkan pada garis keturunan langsung dan gender tertentu.

Dalam tradisi kepemimpinan monarki atau kesukuan, umumnya keturunan laki-laki dalam keluarga kerajaan atau suku yang biasanya akan menjadi calon pemimpin di masa mendatang.

Konsepnya bisa dikembangkan. Misalnya, dalam suatu wilayah yang memiliki kultur keakraban seperti Surabaya, dibutuhkan pemimpin yang tegas dan ceplas- ceplos. Karena, orang Surabaya tidak suka mbulet.

Nah, di Jakarta, yang lagi mau Pilkada, pasti juga punya kultur tertentu. Dalam konteks tulisan ini, bisa ditanyakan, mana calon Gubernur yang pas untuk Ibu Kota yang begitu kompleks dan terus berupaya memutus mata rantai korupsi dan nepotisme itu.

Apakah Ahok yang pede tanpa partai, Yusril yang pintar, Adyhaksa Dault pakar pramuka, atau Ahmad Dhani si jenius musik? Ditanyakan ke siapa? Ya, mbuh. Mungkin, ditanyakan ke hati nurani warga Jakarta masing-masing.

Oh iya, kan bisa saja tiba-tiba Bu Risma masuk bursa. Kapanane, Sekjen PDI P Hasto Kristiyanto kan bilang kalau mereka punya kader kuat dan sudah disiapkan sejak lama. “Apa gunanya partai punya skema kaderisasi, bahkan sekolah khusus, kalau tidak punya calon untuk maju Pilkada,” kira-kira begitu kata beliau di media massa (dengan sedikit polesan editan kutipan biar cantik, Red).

Konon sempat beredar kabar dari sumber A dua (di bawahnya A satu, Red), perempuan kelahiran Kediri itu mau maju Pilkada DKI Jakarta. Tapi, dia pernah bilang nggak, kan?

Lhah, tapi bukannya dulu sekali dia juga bilang gak pengen nyalon jadi wali kota Surabaya didampingi Bambang DH? Terus, dia juga pernah bilang gak tertarik lanjut periode kedua, kan? Entahlah, saya tidak mau ambil pusing dan lebih suka memikirkan bagaimana warkop Pondok Kopi saya di Pondok Tjandra bisa ekspansi dan banyak menguntungkan.

Sementara itu, Bu Ida dan Pak Henry Subiakto (2014) bilang, ada empat sistem kemasyarakatan. Sebagai sebuah negara, konsepsi kepemimpinan politik di Indonesia mengalami beberapa era terkait dengan sistem kemasyarakatan.

Secara garis besar, dua professor Universitas Airlangga tadi membagi era tersebut ke dalam lima sistem kemasyarakatan. Yakni, euforia kemerdekaan, berdaulat, demokrasi terpimpin, orde baru, dan reformasi.

Empat sistem kemasyarakatan di atas menunjukkan bagaimana hubungan kepemimpinan dan pemimpin, dengan masyarakat mengalami pergeseran, perubahan, dan saling mempengaruhi. Membentuk sebuah budaya melalui pergeseran nilai dalam sistem masyarakat dan politik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here