SUROBOYO.id Beri Pelatihan Menulis untuk Imigran

pelatihan menulis imigran

Berita SurabayaGhulam menuliskan namanya di pojok kanan atas kertas itu saat pelatihan menulis imigran. Beberapa kali dia menerawang ke salah satu sudut kosong ruangan. Suara rekan-rekannya yang ramai di sekitarnya seolah tak sedikitpun mengganggu lamunannya.

Beberapa kalimat coba dia goreskan. Beberapa kali pula dia mencoretnya. Gurat-gurat keraguan terlihat jelas di keningnya. Hingga setengah jam berjalan, kertas yang membisu di meja kursinya masih bertulisan namanya.

“Saya tidak tahu mau menulis apa,” katanya dalam bahasa Inggris terpatah-patah kepada Agung Putu Iskandar dari SUROBOYO.id.

Ghulam adalah salah satu imigran yang tinggal di tempat detensi bagi para pengungsi di Rusun Puspa Agro, Taman, Sidoarjo. Pada 19 Mei itu, dia dan belasan rekan-rekannya mengikuti pelatihan menulis.

International Organization for Migration (IOM), organisasi internasional khusus imigran yang bertugas menangani mereka, mengajak situs media dengan jargon Mbois dan Guyub itu untuk menjadi pembicara.

Agung Putu Iskandar, penulis artikel sepak bola dan pendiri sejumlah situs media lokal, menjadi pembicara. Saat memberi materi tersebut, dia didampingi petugas dari IOM dan satu pengungsi yang bisa berbahasa Persia. Sebab, tidak semua peserta bisa berbahasa Inggris.

“Silakan tulis apakah kalian betah tinggal di Indonesia dan apa saja alasannya,” kata Agung setelah merampungkan paparannya.

Indonesia seperti surga

pelatihan menulis imigran

Sekitar satu jam, jari-jari tua dan kasar Ghulam akhirnya menyelesaikan tulisan empat paragraf tersebut. Dia lantas menyerahkannya kepada Agung.

“Di tempat saya tinggal di Afghanistan, saya tak mungkin bisa bertahan sejauh ini. Saya barangkali sudah mati sejak bertahun-tahun yang lalu,” kata Ghulam kepada mantan wartawan Jawa Pos tersebut.

Ghulam berasal dari Afghanistan. Dia dari suku Hazaras, suku di Afghanistan yang menjadi sasaran pembunuhan sistematis Taliban. “Begitu saya tiba di Indonesia, saya sadar tempat ini adalah surga,” kata lelaki dengan beberapa uban di rambut tersebut.

“Orang-orang di sini selalu menyambut kami dengan baik. Mereka ramah. Mereka tidak melihat dari mana kami berasal dan apa suku kami. Betapa menyenangkan tinggal di sini,” imbuhnya.

Selain dari Afghanistan, para imigran di Puspa Agro berasal dari Irak, suku Rohingya Myanmar, Eritrea, Somalia, dan Syria. Latar belakang mereka beragam. Ada yang berprofesi dokter, guru, penasehat perang, hingga petani.

Bertahun-tahun yang lalu, mereka nekat meninggalkan tanah airnya demi masa depan yang lebih baik. Karena itu, masa tinggal mereka rata-rata cukup lama di Puspa Agro. Mulai 3 sampai 5 tahun. “Saya sudah tiga tahun tinggal di sini,” kata Mahad, pengungsi dari Somalia.

Mereka pergi dengan kapal seadanya. Tujuan utama mereka sebenarnya Australia. Namun, biasanya mereka sudah “dihadang” sejak di wilayah perairan Indonesia. Mereka lantas “ditahan” di Indonesia lebih dulu sambil menunggu suaka dari negeri kangguru tersebut.

Nah, sembari menunggu suaka itulah beberapa dari mereka dirawat IOM. Di Indonesia, mereka tersebar di beberapa wilayah. Di Jakarta khusus untuk pengungsi wanita dan anak-anak sedangkan di Sidoarjo untuk para lelaki dewasa.

Di Puspa Agro, aktivitas mereka cukup banyak. Mereka memiliki perpustakaan sendiri dengan bacaan yang lengkap. Bahkan, mereka bisa “memesan” buku-buku tertentu. Maklum, banyak dari para pengungsi tersebut dari kalangan intelektual.

Imigran Menulis

Situs Mbois dan Guyub SUROBOYO.id mendapat kesempatan untuk memberikan pelatihan menulis kepada mereka. Tujuannya, mereka bisa menyalurkan emosinya dalam tulisan.

“Kita perlu terus merawat harapan mereka. Salah satunya dengan menulis,” kata Agung.

Pelatihan tersebut hanya sehari. Awalnya, lelaki yang akrab dipanggil Aga itu memaparkan tentang alasan mengapa mereka harus menulis. Setelah itu, dia meminta mereka menulis dalam 4 paragraf.

Mereka kemudian diminta kembali menulis soal makanan favorit. Kali ini, mereka dibagi dalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok diminta mengirim penulis terbaiknya untuk presentasi di depan kelas. Kelompok lain lantas memberi nilai.

Tentu saja, ada hadiah bagi penulis terbaik. Mereka yang tulisannya kurang oke juga tetap mendapat hadiah. “Ini memang bukan kompetisi. Tapi perayaan kebahagiaan dan harapan. Biar mereka terus menjaga mimpi mereka meski sangat berat,” kata Agung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here