Pasar Ikan Hias Sebagai  Salah Satu Ikon Surabaya

Pasar Ikan Hias di Gunungsari Surabaya

 

Pedagang ikan hias di Kota Surabaya tergolong cukup banyak. Di masa lalu, mereka tersebar dan berjualan di pinggir jalan secara sembarangan. Sebagai contoh, yang ada di sepanjang bantaran kali Brantas, Jalan Irian Barat, Jalan Patua, dan seputaran ruas Jalan Gunungsari. Imbasnya, kemacetan kerap terjadi di ruas tersebut. Apalagi, jalur yang dimaksud tergolong ramai pengendara dan padat lalu lintas. Sementara itu, antusiasme masyarakat akan ikan hias terus berkembang. Membuat para pedagang lama makin besar bisnisnya, dan para pedagang baru  pun bermunculan.

Kondisi ini membuat Pemkot memutar otak. Melalui Dinas Pertanian, eksekutif berinisiatif untuk merelokasi para pedagang ke suatu tempat khusus. Harapannya, kemacetan di sejumlah ruas jalan akibat melubernya pembeli ikan hias dapat teratasi. Para pedagang dan pembeli pun dapat lebih nyaman saat melakukan transaksi.

Tersebutlah Pasar Ikan Hias (PIH) Gunungsari sebagai wadah relokasi tersebut. Tempat ini memiliki keunikan. Yaitu, bukan hanya tempat bertemunya pedagang dan pembeli, melainkan juga, suatu lembaga dengan sistem manajemen tertata di internalnya. Yang bertujuan, memajukan perdagangan ikan hias saat ini dan di masa depan. Tak terkecuali, menghadapi segala tantangan saat perdagangan bebas AFTA dimulai Desember 2015.

Bila dirunut, gagasan pembangunan PIH tak lepas dari aspirasi masyarakat. Khususnya, mereka yang bertempat tinggal di sekitar Pedang Kaki Lima (PK5) ikan hias dan para pemakai jalan di sekitar lokasi tersebut. PK5 ikan hias dianggap mendulang keuntungan dengan cara merugikan orang lain. Di sisi lain, Satpol PP berupaya menertibkan mereka. Namun, oleh karena tuntutan ekonomi, kucing-kucingan antara PK5 pinggir jalan dan korps penegak Perda pun tak terhindarkan.

Pada satu titik, pihak Pemkot melakukan kajian. Salah satu objek bahasan adalah hasil telaah terhadap keinginan PK5 itu sendiri. Sebab ternyata, mereka juga menginginkan tempat permanen yang representatif. Maka itu, Bappeko Surabaya mengambil kebijakan untuk membuat perencanaan tempat pemasaran ikan hias di Gunungsari. Tim Anggaran Pemkot Surabaya mendukung perencanaan tersebut dan mengalokasikannya pada Dinas Pertanian selaku leading sector.

Prospek Bagus

Usaha ikan hias mempunyai prospek pasar yang bagus. Mengingat, jumlah dan jenis ikan yang sangat banyak di Indonesia, baik ikan laut maupun air tawar. Hewan pisces tersebut diminati oleh para penghobinya. Pada bagian lain, PIH sukses membuat pembinaan dan pengawasan peredaran ikan hias lebih mudah. Kalau sudah begini, potensi pengembangannya dapat diukur dan dimaksimalkan dengan lebih gampang.

PIH juga telah menjadi tujuan wisata keluarga sekaligus tempat pembelajaran anak-anak sekolah. Selain itu, memberi kontribusi kongkret terhadap Pendapatan Asli Daerah. Di Indonesia sendiri, PIH yang dikelola secara resmi dan professional jumlahnya belum terlampau banyak. Sehingga, PIH Gunungsari bakal bersumbangsih untuk dipakai pembanding bagi daerah lain yang akan membangun tempat pemasaran ikan hias.

Guna tercapainya tujuan, PIH Gunungsari melengkapi diri dengan fasilitas yang baik. Bangunan pasar ini dapat menampung 158 pedagang ikan hias. Dengan sarana dan prasarana memadai seperti listrik, air bersih, instalasi IPAL, instalasi penjernih air, lahan parkir, toilet dan kios penjualan makanan dan minuman. Tak ketinggalan, elemen pendukung lain seperti: etalase, aquarium, tabung oksigen, pompa air, serta jenset listrik. Yang menarik, para pedagang bersatu dalam wadah kelembagaan berupa koperasi yang berbadan hukum.

Dalam perjalanannya, PIH ini menampung pedagang grosir ikan hias dari daerah lain (Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kediri dan Mojokerto). Juga, mengkoordinasikan lomba-lomba untuk para penghobi ikan hias. Tak ketinggalan, mempromosikan diri ke sejumlah daerah untuk menjajaki kemungkinan kerja sama antar kawasan.

Manfaat utama yang dihasilkan kegiatan ini adalah terciptanya kondisi perdagangan yang lebih baik. Dengan menempati stand penjualan resmi, para pedagang bisa lebih fokus untuk pengembangan usaha (paling tidak, mereka tidak lagi jengah dan takut diusir Satpol PP). Mereka bisa meningkatkan kualitas pelayanan kepada para konsumen untuk mendapatkan jenis ikan yang diinginkan dengan kondisi lingkungan yang aman dan nyaman.

Para konsumen dapat memarkir kendaraannya di tempat yang telah disediakan. Kemudian, bebas memilih jenis ikan di aneka stand yang tersedia sesuai dengan kemampuan keuangan dan selera masing-masing. Di tempat ini, selain tersedia berbagai jenis ikan hias, konsumen dapat juga memperoleh berbagai kebutuhan sarana kelengkapan untuk pemeliharaan ikan hias.

Di samping itu, konsumen juga bisa memperoleh jasa pembuatan sarana pemeliharaan ikan hias. Dengan demikian, para pedagang bisa mendapatkan keuntungan tidak hanya dari penjualan barang. Namun juga, dari penjualan jasa. Dapat dipastikan pula, melalui koperasi yang sehat, pedagang dapat mengembangkan usaha dengan menggandeng pihak-pihak dari daerah lain.

Penyempurnaan dan pengembangan potensi yang sudah ada terus dilakukan. Baik oleh Pemkot, maupun oleh para pedagang. Harus diakui, pada awalnya, pengelolaan PIH mesti melalui sejumlah halangan. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa level pendidikan dan kemampuan masing-masing pedagang begitu variatif.

Maka itu, dibutuhkan kesabaran, keikhlasan dan keseriusan dalam menata, membina dan mempelajari konsep. Sebagai gambaran, dulunya, para pedagang kurang memahami manajemen dan tidak terbiasa dengan aturan-aturan yang mengikat. Maka itu, perlu pula upaya untuk meyakinkan mereka terhadap aspek kelembagaan yang tersusun rapi. Agar, pedagang ikan hias di PIH Gunungsari lebih siap dalam menghadapi persaingan bebas. Yang semua itu berlandaskan regulasi yang berlaku baik nasional maupun internasional. Seiring berjalannya waktu, pedagang makin paham dan memaklumi pentingnya sinergitas antara elemen masyarakat. Termasuk, dengan Pemkot, swasta, dan lain sebagainya. Hasilnya, hingga sekarang, PIH Gunungsari telah menjadi salah satu ikon Kota Pahlawan dan jujukan studi banding daerah lain.

Terus Dipantau

Pembangunan fisik PIH memakan biaya sekitar Rp 4,4 miliar. Ditambah, Rp 200 juta untuk pengadaan IPAL dan instalasi air bersih. Pelaksanaan pembangunannya sekitar tiga tahun (2009-2011). Sedangkan pengembangan dan pembenahannya terus dilakukan hingga detik ini.

Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi & UMKM sebagai pembina, serta instansi lain sebagai pendukung, terus melakukan pengawasan dan pendampingan. Dengan tujuan, menjaga iklim usaha di sana. Sekaligus, menciptakan situasi yang kondusif, aman, dan tertib. Pemkot secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi periodik bulanan untuk memantau segala aspek detail di tempat tersebut. Kinerja aparatur negara selaku pengawal kebijakan terus dipantau dan dikembangkan agar dapat lebih maksimal memberikan pelayanan. (*)

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here