Om Telolet Om!

sumber: http://www.slidegossip.com/2016/12/asal-mula-arti-dan-pengertian-istilah.html
Dulur-dulur, peno kabeh sudah pada kena demam“telolet!” belum?
Nek peno kabeh wis terjangkit wabah Telolet, aku mah apa atuh yang hanya bisa ngelus sirah sambil berkata…paringi sabar, Gusti Allah.
Fenomena telolet menjadi viral di tengah-tengah isu masuknya tenaga kerja asal Cina secara terselubung alias ilegal ke Indonesia, kasus penodaan kitab suci oleh Koh Ahok, dan sampai kisah Roti yang Diboikot terlupakan…ternyata cek akehe yo serbaneka hal-hal yang layak sampai tidak layak diperbincangkan di negara ini menyebar begitu cepat dan alhamdulillah beberapa lapisan masyarakat masih ada waktu buat ngreken hal sepele namun menghibur ini.
Berawal dari anak-anak kecil di daerah Jawa Tengah yang sabar menanti bus lewat sambil memberi kode agar pak sopir membunyikan klaksonnya yang bernada unik….sambil berteriak “Om, telolet om!”. dan begitu pak sopir men-telolet-kan klakson, mereka akan bersorak kegirangan.
Sakjane yo dulur, klakson berbunyi telolet iki wis suwe onok nangndi-nangndi khususnya di Surabaya. Dari jaman SMA saya sudah akrab dengan bunyi klakson antik ini. Malah yang menggunakan bukan bus, tapi angkutan umum alias bemo, rek! Mangkane waktu fenomena telolet ini ramai dibicarakan, saya dan teman-teman yang sudah lama ngerti jadi bertanya-tanya…Opone seh sing menarik?
 
Sebagai orang yang berkutat di dunia anak kecil setiap harinya, saya merasa kasihan pada anak-anak kecil jaman sekarang. Ada nggak sih, lur yang mengamati bagaimana kehidupan mereka saat ini begitu berbeda dengan jaman cilikane awak dhewe mbiyen?
Dulu, anak-anak seusia mereka sudah sangat bahagia dulinan kelereng, layangan di lapangan, umbulan gambar, patil lele, engkle, dan macam-macam permainan yang bisa dimainkan sesudah pulang sekolah bareng teman-teman sekampung, sekomplek, atau apalah nama pemukimannya. Kadang sampai menjelang maghrib belum pulang gara-gara dulinan bal-balan….baru buyar kalau sudah dicari oleh emak atau bapak masing-masing. Wis kan, ngono ae cukup bahagia. Sebahagia ngeliat gebetan berangkat ngaji lewat di depan rumah. Yo gak?  (Sing ngomong gak bahagia yo iku deritamu, salahe pas cilikanmu gak moktuwuk2no dulinan! Hahahaha!)
Lha bayangno ae, dulur…jika anak-anak kita untuk mendapatkan kebahagiaan saja harus ke pinggir jalan dulu sambil membawa kertas bertuliskan OM, TELOLET OM! demi sebuah bunyi klakson antik pak sopir bus. Iyo nek sopir busnya berbaik hati meluluskan request telolet. Lha nek pas pak sopir’e galau, lagi bad mood, pun terus nggak mau mencet telolet…gimana coba? Opo yo gak nelongso atine anak-anak kita tadi yang sudah dengan sabar menanti sebuah jawaban….eh sebuah telolet.
Di luar nelongso-nya hati anak-anak kita, satu hal yang mesti kita takutkan adalah…peno gak wedi ta anak peno ketabrak gara-gara cuma pengen ngrungokno telolet iki mau terus berdiri-berdiri dengan lengah. Walaupun kondisinya di pinggir jalan, tapi kita sudah tahu sendiri ya, bagaimana perilaku pengendara masa kini yang matanya kadang bithor. Wis minggir pun kadang sek disasak ae.
 
Lantas kenapa sampe anak-anak tadi tertarik pada telolet yang demikian biasa itu? Sedangkan tidak bisa dipungkiri ya, anak jaman sekarang sebagian besar sudah dibekali gadget sejak dini oleh orangtuanya, baik dalam bentuk telepon genggam, tablet, pil, atau puyer. (lhoh!) Mau download permainan apa saja, mulai dari yang nggenah sampe yang ndak nggenah ada semua di Google Playstore atau Apple Store. Tinggal unduh saja. Lha lapo kok dibelani ngadheg nang pinggir embong ngenteni telolet?
Sederhana, lur! Perhatian kita, orangtuanya dan ketersediaan lingkungannya yang kurang.
Saiki yo’opo arep merhatikno anake lha wong emak bapake yo podo dulinan gadget dewe-dewe.
Dari lingkungan pun, mana ada sih lingkungan yang benar-benar ramah memberi ruang buat anak-anak kita bermain dan bersosialisasi dengan normal seperti masa kecil kita dulu? Coba hitung di perkampungan atau komplek mana pun, ada berapa lapangan atau lahan kosong yang bisa dipakai untuk anak-anak bermain bersama? Wis entek lur, lahane. Kalaupun ada itu pun cuma sedikit. paling-paling sebentar lagi sudah dijadikan kaplingan kost-kost an, kontrakan, proyek apartemen, opo paling banter yo dibangun gawe mbuka Alfamart ambek Indomaret. Iyo opo iyo?
Saiki untuk bermain bola saja harus membayar sewa ke lapangan futsal, mau bermain sepatu roda, harus pergi dulu ke taman-taman yang tempatnya memungkinkan buat bersepaturoda dengan mulus. Gak muni gradak-gradak koyok nang dalan aspal kampung, opo maneh aspal’e wis growak-growak.Dijamin cepet legrek sepatu roda’ne. Duh Gusti…melas’e arek cilik generasi saiki. 🙁
Jadi, buat dulur-dulur yang merasa terganggu dengan fenomena telolet ini (Apalagi sudah mewabah di kalangan orang dewasa, sampai melejit hits ke luar negeri…DJ internasional pun sampai membuat remix lagunya)…wis ta lah lur, jarno, babahno. Toh iki hanya intermezzo. Fenomena euphoria sesaat. Paling sedhiluk maneh yo wis hilang.
Masih pada ingat kan dengan permainan Pokemon Go! kapan hari yang menyita banyak perhatian sampai diberitakan mengancam pertahanan keamanan negara? (Yo iku lebay nemen menurutku seh…) Endi saiki suarane cobak sing sek dulinan Pokemon Go!…wis di-uninstall dewe-dewe paling teko gadget’e.
Tidak usah terlalu berlebihan menyikapi segala sesuatu. Lebih baik, pikirno dengan sungguh-sungguh, bagaimana caranya biar anak-anak kita, generasi kita di masa depannya ini, mendapat makanan pikiran dan rohani yang baik. Telolet ini nantinya akan jadi memori sampai mereka dewasa,  bagaimana rasanya bahagia ketika request-an mereka dipenuhi oleh pak sopir bus yang baik hati. Bila perlu anak-anake dikawal pas telolet. Ojok dijarno grudukan karo koncone. Jangan sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi. (baca : ketubruk kendaraan)
Ojok sampe, kita jadi orang yang pandai mengomentari hal remeh tapi lupa mengkoreksi diri sendiri yang sebenarnya juga lebih kurang penggawean karena sek sempet-sempetnya ngurusi hal remeh. Pandai nyacat anake uwong macem-macem, padahal anake dhewe gak keramut baik jasmani dan rohaninya. (Terutama gawe peno sing anake dijarno dulinan nang omahe tonggo karo nggawe kaos singlet dan kathokan pendek, umbelen pisan….ndang diadusi, lur. Ngisin-ngisini. Gak mbois blas!)
Wis sekian aja nggedabrus-ku, lur.
Jauhi narkoba, sayangi keluarga.
Salam telolet!!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here