Ngaso #11: Olimpiade dan Surat Buat Presiden

Cak Ri dan kawan-kawan di Warkop Mas Jo nestapa. Pasalnya, Olimpiade Rio 2016 tidak disiarkan dengan memuaskan di layar televisi. Mereka tidak paham, apakah di TV berlangganan, tayangan yang dimaksud disiarkan atau tidak. Yang jelas, di TV mereka, pahlawan olahraga Indonesia tidak tampil. Paling tidak, nggak live! Dadine yo nggak asyik!

“Entah kenapa, stasiun-stasiun televisi itu lebih suka menayangkan sinetron cinta-cinta monyet atau lawakan nggilani saja. Duh, kalau begini, hampa hatiku,” Wak Kopleh berseloroh. “Mbuh ya, opo’o kok koyok ngene iki. Saya benar-benar heran. Padahal, tayangan Olimpiade itu inspiratif. Apalagi, ada delegasi Indonesia di sana,” ungkap Mas Jo sambil ngaduk kopi pesenan Saragun.

Meski demikian, kata Mas Jo, mereka tetap harus bersyukur. Sebab, sejumlah televisi masih menayangkan berita seputar Olimpiade. Beberapa surat kabar juga mengirimkan jurnalis dan memberi laporan langsung dari Brazil. “Seaneh-anehnya media massa saat ini, tetap saja kita mesti bersyukur,” papar lelaki asli Malang yang pernah jadi TKI di Korsel tersebut.

Saragun baru saja menerima cangkir kopinya. Dia lalu membaui wedhang panas itu. Matanya merem, menikmati sekali. “Ini kopi Lampung ya, Mas?” tanya Saragun, melenceng dari topik sebelumnya. “Iyo, Gun. Kamu tadi kan bilang, kepengen kopi yang anyar. Nah, setelah kopi Bondowoso, warkop ini sekarang punya kopi Lampung,” Mas Jo nyauri.

“Tanah air kita ini memang luar biasa. Walau saya belum pernah ngincipi kopi Brazil, saya yakin kopi Indonesia tetap jauh lebih enak,” kata Saragun lalu menyeruput sedikit kopi yang masih rodok umup itu.

Sementara itu, Cak Gonggong mengatakan, masyarakat mesti membuat gerakan khusus biar kejadian soal siaran TV tanpa Olimpiade ini tidak terulang. Mungkin, kata dia, bisa dengan menggalang cap jempol darah. “Ini berlebihan memang. Tapi, siapa tahu cara ini manjur,” celetuk dia yang lalu makan ote-ote yang tersedia di meja.

Cak Ri pun angkat bicara. Dia bilang, beberapa jam silam adik iparnya yang bernama Sidul datang ke rumah. Lantas bilang kalau di media sosial protes tentang ini sedang gencar. Para netizen, sebutan bagi masyarakat melek internet, sudah meluncurkan pendapat seperti yang mereka diskusikan.

Mudah-mudahan pemerintah merespon. Lalu, memerintahkan stasiun televisi untuk menyiarkan tayangan bermanfaat kongkret. Yang juga pasti menghibur.

“Ini kan soal nasionalisme,” kata Cak Ri, yang sebelum ke Warkop Mas Jo, sudah lebih dulu menidurkan putri semata wayangnya, Jojo, dengan jalan-jalan pakai sepeda motor matic keliling pemukiman bersama Ning Tin.

“Kalau kita, enaknya, buat gerakan apa, Cak?” Cak Gonggong tampak belum puas dengan penjelasan Cak Ri. “Ehm, bagaimana kalau kita mengirim surat pada presiden yang isinya keluhan tentang ini?!” ringkas Cak Ri.

“Memangnya bisa?” Wak Kopleh nimbrung pertanyaan. “Ya, dicoba saja,” malah Saragun yang njawab.

“Baik. Nanti saya tuliskan. Lalu, saya kirimkan ke alamat Istana Kepresidenan,” urai Cak Ri. “Kira-kira, apa sampai suratmu nanti, Cak?” Mas Jo ikut-ikutan penasaran. “Asalkan pakai prangko, atau dikirim lewat pos kilat, Insya Allah sampai,” sahutnya. “Apakah bakal dibaca?” Cak Gonggong menimpali.

“Kalau soal itu, hanya tuhan yang tahu,” singkat Cak Ri.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here