Old Never Die, dari Lansia untuk Lansia

Pemkot Surabaya selalu memberikan pendampingan pada lansia. Salah satunya, berupa pelatihan tata boga.

BERITA SURABAYA – Kenaikan angka harapan hidup di Kota Pahlawan berdampak pada meningkatnya jumlah lansia (manusia lanjut usia). Di satu sisi, fenomena ini merupakan cermin peningkatan derajat dan layanan kesehatan masyarakat. Tapi, di sisi lain, jumlah penduduk lansia kerap membawa berbagai konsekuensi dan persoalan. Khususnya, dari golongan lansia dalam kategori miskin dan terlantar.

Golongan ini sudah barang tentu telah kehilangan masa emas keproduktifan. Ditambah lagi, masalah kesehatan yang sering jadi momok. Fakta menunjukkan, tak jarang ditemukan lansia miskin dan terlantar yang mengidap penyakit berat.

Parahnya, lansia seperti ini umumnya hidup sendiri. Sebab, keluarga atau kerabatnya, yang tentu bukan dari golongan ekonomi kuat, lebih memilih fokus bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri. Kalau sudah begini, kondisi lansia tersebut bakal makin memprihatinkan.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, jumlah warga lanjut usia (sekitar masa pensiun bekerja atau di atas 60 tahun) mencapai 277.658 jiwa. Mereka tersebar di 154 kelurahan dari 31 kecamatan. Di antaranya, sebanyak 40.316 jiwa (14,52%) tergolong miskin. Sedangkan 8.154 jiwa (4,75%), tergolong lansia terlantar.

Berkaca dari kondisi ini, Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya merumuskan program penanganan lansia miskin dan terlantar. Langkah tersebut pasti membutuhkan anggaran dan faktor pendukung lain. Melihat jumlah lansia yang perlu ditangani cukup banyak, faktor pendukung yang mutlak diperlukan pastilah Sumber Daya Manusia (SDM). Staf Dinsos saja, tidak mungkin bisa melakukan tugas pengawalan dan penyaluran bantuan program untuk para lansia sasaran. Harus ada partisipasi publik yang bersifat masif.

Saling Menguatkan

Sejak 2012 lalu, Dinsos melakukan langkah terobosan. Bentuknya, optimalisasi Karang Werdha untuk menangani problem lansia miskin dan terlantar. Perkumpulan lansia di level kelurahan diarahkan untuk berperan aktif meringankan beban lansia di sekitarnya. Apalagi, para lansia di satu wilayah, sejatinya, secara  otomatis termasuk dalam keluarga besar Karang Werdha di daerah tersebut. Maksimalisasi peran Karang Werdha ini merupakan wujud kongkret partisipasi publik dalam program kesejahteraan masyarakat.

Anggota Karang Werdha yang tidak tergolong miskin dan terlantar, diminta membantu warga seusianya yang kurang beruntung. Melalui program ini, semua lansia akan saling menguatkan. Memang, sebagian lansia miskin dan terlantar akan ditempatkan di Griya Werdha milik Pemkot Surabaya. Namun, tentu tidak bisa semuanya. Sebab, kapasitas panti jompo tersebut tidak bakal mencukupi untuk meng-cover seluruh lansia miskin dan terlantar yang ada di Surabaya.

Maka itu, butuh kerjasama dari sesama lansia. Para anggota Karang Werdha yang tidak miskin dan terlantar, diminta mengawal dan mengelola distribusi bantuan berupa pemberian makanan pokok untuk kebutuhan dasar pada lansia miskin dan terlantar. Tidak hanya itu, mereka juga diminta memantau kondisi kesehatan dan kelayakan tempat tinggal lansia kurang beruntung tersebut.

Apabila terdapat aspek-aspek yang kurang memenuhi kelayakan, mereka diperkenankan melaporkan ini ke instansi terkait. Bisa melalui kelurahan atau kecamatan setempat. Setelahnya, Pemkot akan langsung memberi bantuan ke tempat sasaran.

Para lansia yang lebih beruntung juga bisa mengajak lansia miskin dan terlantar untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif. Terutama, aktifitas tambahan yang sudah masuk program Dinsos. Misalnya, program pemberdayaan atau pelatihan memasak/tata boga dan kerajinan tangan. Pemberdayaan semacam ini sudah dimulai setidaknya sejak 2015.

Perhatian yang diberikan satu lansia ke lansia lain tentu akan menjadi motivasi tersendiri. Para lansia miskin dan terlantar akan merasa lebih bersemangat hidup. Terlebih, dalam pendampingannya, Karang Werdha menyuntikkan pesan atau nasehat agar semua anggota menyingkirkan jauh-jauh perasaan putus asa. Ketabahan dan kemampuan menikmati hidup apa adanya merupakan kunci utama kebahagiaan di usia tua.

Kegiatan Bersama

Dinsos selalu berupaya memberikan perhatian pada Karang Werdha dan para lansia secara umum. Tidak hanya bagi mereka yang miskin dan terlantar. Pemberian asupan gizi, program keterampilan, layanan kesehatan, maupun acara-acara sosialisasi antar lansia selalu dijalankan secara simultan.

Nah, dalam sejumlah program yang dilaksanakan Dinsos, semua lansia dari berbagai latar belakang bisa berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. Sudah barang tentu, mereka yang miskin dan terlantar juga bisa bergabung. Dan memang, harus diajak ikut serta. Karang Werdha bertugas untuk memastikan kalau semua anggotanya terlibat.

Dengan cara ini, para lansia yang kurang beruntung akan merasa dirangkul oleh orang-orang seusia. Sudah pasti, komunikasi antar lansia akan berjalan lebih cair dan heart to heart. Kegiatan dengan semangat kebersamaan itu ada beragam bentuknya. Sebagai contoh, acara senam lansia, rekreasi bareng, jambore lansia, konsultasi kesehatan massal, dan lain sebagainya.

Selain Dinsos, program yang belakangan dikenal dengan nama Old Never Die ini juga di-back up oleh dinas kesehatan, lembaga pelayanan sosial/kesehatan, swasta (dan perusahaan yang menyalurkan corporate social responsibility untuk sejumlah item bantuan), media massa, dan masyarakat umum. Tak ayal, semua rangkaian kegiatan di dalamnya tampak rapi dan kokoh.

Terdapat banyak pembelajaran atau nilai moral dari program yang dikawal oleh banyak pihak ini. Antara lain, mengasah jiwa tolong menolong, komitmen, empati, pengorbanan, dan kesadaran untuk selalu bersyukur. Selain itu, partisipasi masyarakat juga digalakkan guna mencapai kesejahteraan sosial.

(dikutip dari buku “Inovasi Pelayanan Publik Kota Surabaya 2014-2015” yang dibuat oleh Bagian Organisasi dan Tata Laksana Pemkot Surabaya, 2016)

Baca Juga

SWAT, Solid Waste Transportation, Efisiensi Pengangkutan Sampah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here