Ngaso #14: Ojok Salah Gumbul

tenaga kerja asing

Kiranya benar ungkapan, burung dengan bulu yang sama terbang bareng, berkawan dengan pandai besi baju akan bau sangit, berteman dengan tukang parfum badan akan harum. Hal itu disampaikan oleh Wak Kopleh. Satu pesan calon haji yang mau berangkat pakai ONH Plus itu: Ojok Salah Gumbul!

Dia lalu berdalih, salah satu tetangga, tukang buah, utangnya setumpuk. Buat apa? Hanya untuk beli perkakas rumah tangga. Semisal, kulkas dua pintu, televise layar datar, sepeda motor lanang sing gagah, dan langganan TV kabel. Usut punya usut,  temannya di pasar, tukang lontong kupang, juga suka berhutang hingga menggunung. Minjam bank sana, bank sini, teman sana, kawan sini, dan lain sebagainya. Sekadar guna, melampiaskan hasrat sesaat. Beli barang-barang yang tidak produktif.

“Si tuang buah itu salah gumbul. Apalagi, tetangga pas dekat rumahnya, si tukang ledeng, juga suka kredit. Kalau nggak salah, hutangnya sudah sampai Rp 35 juta! Padahal, penghasilan bulanannya cuma Rp 2,5 juta. Jadi serabutan kemana-mana,” ungkap Wak Kopleh yang disambut anggukan kawan-kawannya di Warkop Mas Jo.

“Sampean kok sampai tahu detail jumlah hutang tukang ledeng itu, Wak?” tanya Saragun. “Terakhir, dia hutang sama aku. Ya, aku pinjami. Tidak banyak. Tapi, kemudian aku tanya detail hutangnya berapa. Dan dia mau menjawab,” Wak Kopleh menerangkan.

“Kalau sudah tahu hutangnya banyak, dan bakal sukar melunasi semuanya, kenapa Wak Kopleh mau meminjaminya?” Cak Ri memberondong seraya menyeruput kopi hitam. “Saya ini mau naik haji. Kalau berangkat ke mekkah saja saya bisa bayar, kenapa memberi pinjaman saya ogah? Bisa diseneni Tuhan nanti saya pas sampai ke rumahNya,” Wak Kopleh menjelaskan.

“Bukannya, sampean dapat ONH Plus dari sponsor, Wak?” Cak Gonggong jadi heran. Sebab, beberapa bulan lalu Wak Kopleh bilang, dia dibiayai penyandang dana. “Iya. Tapi, sangunya kan saya bawa sendiri. Mosok, sangu untuk ke Arab saya punya, tapi untuk ngasih hutangan tidak ada,” Wak Kopleh bersuara seakan orang paling berbudi luhur di dunia.

Dia lantas melanjutkan, apa yang dia lakukan, pasti juga dilakukan kawan-kawannya di Warkop Mas Jo. Karena, mereka pasti memiliki perspektif yang hampir sama. “Kalau kalian jadi saya, pasti kalian juga akan ngasih hutang sama si tukang ledeng itu,” ungkap dia. Rekan-rekannya kembali mengangguk ritmis.

“Ya, kita ini juga suka ngerasani. Sama-sama suka ngerasani orang. Nyangkruk, sambil ngerasani. Tapi tidak apa-apa. Mudah-mudahan, rasan-rasan kita, pada suatu saat, akan berubah menjadi diskusi yang solutif,” Mas Jo tiba-tiba berlagak jadi penasehat. Kawan-kawannya kembali mengangguk.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here