Nyangkruk Bareng Ngomong tentang Pendidikan Surabaya

pendidikan surabaya
Suasana guyub dalam pelaksanaan diskusi Forum Komunikasi dan Informasi Diskusi Pendidikan Jawa Timur. Foto: SUROBOYO.id

Berita Surabaya – Keguyuban seluruh elemen masyarakat Kota Pahlawan sudah tidak terbantahkan lagi. Ada begitu banyak bukti yang dapat dilihat dan dirasakan sendiri di tiap lapisan.

Salah satunya, melalui ide pembentukan wadah diskusi non-formal. Yakni, Forum Komunikasi dan Informasi Diskusi Pendidikan Jawa Timur. Memang, selain di lingkup kota, obrolan dan tukar pikiran yang dilaksanakan juga bakal membahas problem di tingkat provinsi.

Drs Suko Widodo MSi, salah satu akademisi Universitas Airlangga yang menjadi salah satu motor penggerak foum, menyatakan, kopi darat bakal rutin berlangsung satu bulan sekali. Meski demikian, mereka sudah memiliki grup WhatsApp yang dapat menjadi ruang rembug online.

“Hasil diskusi akan disampaikan sebagai rekomendasi pada pihak-pihak terkait atau pemangku kebijakan,” kata pakar komunikasi politik ini. .

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi mengungkapkan, bila berbicara soal pendidikan, tidak ada pengkotak-kotakkan tanggung jawab. “Semua pihak mesti ikut berperan. Tidak ada pengecualian,” ujar dosen Universitas Negeri Surabaya tersebut.

Pertemuan pertama perkumpulan ini dilaksanakan pada sekitar bulan Ramadan lalu (Warkop Mbah Tjokro). Sedangkan cangkrukan bareng kedua (d’Kampoeng Sutos) dihelat pada Jum’at (15/7) lalu. Seperti yang sudah diungkapkan di atas, diskusi ini lintas sektor dan/atau pemangku kepentingan. Tak heran, keragaman latar belakang anggota diskusi pun bersifat mutlak.

Pada perjumpaan Jum’at tersebut, tampak perwakilan kampus Surabaya. Seperti, UPN Veteran Jatim, Universitas dr Soetomo (Unitomo), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan tentu saja, dari Universitas Airlangga.

Tampak pula perwakilan LSM di bidang pendidikan, DPRD Surabaya, Dewan Pendidikan Surabaya, Dewan Pendidikan Jawa Timur, dan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Tak ketinggalan, insan pers dan intelektual muda Surabaya lainnya.

“Pertemuan bisa digelar di mana pun. Kami bisa janjian kapan saja,” kata Adit Hananta Utama, salah satu wartawan dari harian Bhirawa.

Segala hal terkait pendidikan yang saat ini terjadi dibahas untuk menghasilkan opsi langkah selanjutnya. Misalnya, tentang bagaimana membuat kurikulum atau konsep pengajaran yang tidak berkutat pada pengetahuan akademik. Namun juga, non-akademik serupa kedewasaan berpikir.

Mengapa? Karena, kemandirian mental dan kekayaan wawasan merupakan faktor-faktor mutlak mencapai cita-cita.

Masa depan pendidikan Indonesia mesti dirumuskan dengan baik. Bukankah negara-negara maju saat ini adalah mereka yang serius membuat strategi pendidikan di masa lampau? Maka itu, gagasan pencetusan forum ini benar-benar bakal membuat Surabaya tambah mbois dan guyub.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here