Ngaso #5: Nriman

tenaga kerja asing

Bagi Cak Ri, hidup itu kudu nriman. Menerima segala yang diberikan Tuhan. Tidak kemaruk. Tidak suka protes, apalagi mengeluh. Apapun itu, diterima sebisa mungkin apa adanya, dengan ikhlas.

Memang, fitrah manusia memiliki hawa nafsu. Dan hawa nafsu, yang konon harus dibakar di neraka ribuan tahun sebelum akhirnya mengakui bahwa dia adalah hamba Tuhan, kerap membuat dirinya kalah. Lalu resah dan sedih pada sebuah keadaan. Namun, dia berupaya situasi itu tidak berlangsung terlalu lama.

Sikap nriman ini berlaku untuk semua kondisi. Misalnya, saat sholat teraweh tadi malam.

Tatkala tarikan nafas imam begitu panjang, suaranya syahdu meliuk-liuk, tenang dan berintonasi pelan, maka itulah tanda bahwa 23 raka’at kali ini akan dilewati lebih lama dari biasanya. Betah-betahkanlah kaki untuk tetap nriman keadaan tersebut. Karena bisa jadi, keikhlasan saat teraweh kali ini yang menolong di padang mahsyar. Di saat tidak ada lagi yang bisa menolong kecuali Tuhan dan catatan amal baik yang tidak seberapa itu.

Pukul 21.00 teraweh di langgar Cak Ri baru selesai. Sebagian jama’ah sambat. Ini rekor. Kata salah satu orang yang sudah bertahun-tahun sholat di sana. Baru kali ini ibadah itu pungkas jam segitu. Pernah, dua tahun yang lalu, diakhiri pada pukul 20.30. Tapi, ceramahnya lucu banget. Orang-orang terhibur dan tersihir lupa dengan waktu. “Ustad iku niat ceramah ta stand up comedy,” celetuk Cak Ri dalam batin.

Lhah ini, sudah sholatnya lama, ceramahnya juga terlalu serius. Tentang kematian lagi. Separo ngeri, separo ngantuk!” ungkap jama’ah itu pada beberapa kawan yang beriringan pulang, termasuk pada Cak Ri.

Cak Ri tidak mau larut ikut rasan-rasan. Lha wong nontok bal-balan 2 x 45 menit plus turun minum saja kuat. Mengapa sholat gak kuat?! Malu sama kucing. Meong meong meong.

Setelah dari masjid, Cak Ri ke rumah sejenak untuk ganti pakaian dan pamit Ning Tin. Dia mau cangkruk di warkop Mas Jo. Di sana, dia juga menemukan orang-orang yang selalu nriman. Koyok tho, Mas Jo.

Dia adalah suami dari satu istri dan ayah dua orang anak. Keluarga kecilnya bermukim di Malang. Sebulan sekali, dia pulang untuk “nyetor” dana belanja dan melepas rindu.

Di Surabaya, dia buka warkop kecil dengan satu karyawan. Penghasilannya tidak terlalu besar. Meski memang, tidak kecil-kecil amat. “Kalau anak dan istri dibawa ke Surabaya, malah repot, Cak. Mosok saya tega nyuruh mereka nginep di warkop kecil ini. Kalau dipaksa ngekost, pengeluaran pasti bengkak banyak. Sudahlah, nggak apa-apa pisah dulu. Mudah-mudahan nanti hidup bisa berubah,” kata dia pada suatu perbincangan.

Dua orang yang selalu bersitegang, Wak Kopleh dan Cak Gonggong, pun sejatinya orang yang nriman. Mereka bukan orang yang sok hebat. Benar, mereka sering berbeda pendapat. Namun, mereka tahu, masing-masing saling membutuhkan. Masing-masing pun harus saling menghormati.

Wak Kopleh dan Cak Gonggong kerap saling hujat dan saling sindir. Tapi, tak pernah ngomong di belakang. Langsung, to the point, nunjuk atau nonjok dari depan. Yang juga menarik, mereka saling menghargai. Tidak pernah merasa yang satu lebih suci atau lebih pintar dari yang lain.

Kawan cangkruk Cak Ri yang lain adalah Saragun. Seorang non muslim yang asyik-asyik saja ngobrol semalam suntuk dengan orang-orang Islam. Padahal, kadang kala, topik perbincangan mereka soal agama.

Saragun menerima teman-teman apa adanya. Dia tidak lantas mencari tempat gumbul anyar. Bahkan bila agamanya disinggung-singgung, Saragun tidak mau tersulut emosi. Toh, kata dia, pemeluk Islam juga sering dibicarakan oleh kawan-kawannya.

“Manusia memeluk atau meyakini suatu agama itu karena keyakinan itu sendiri. Bukan karena agamanya sering dipuji atau dicaci. Tuhan maha pembolak-balik hati. Tidak menutup kemungkinan, suatu saat aku pindah agama, atau kamu pindah agama, bukan?! Tak ada yang tahu tentang masa depan. Maka itu, tidak perlu saling sombong,” ungkap Saragun pada suatu saat.

Cak Ri hanya mengangguk mendengar itu. Dia tidak mau ambil pusing soal perspektif yang dipakai Saragun soal keyakinan. Karena keyakinan itu memang tidak bisa dipaksakan.

Dan malam itu, sesampainya di warkop Mas Jo, kolega-kolega cangkruk Cak Ri sudah berada di sana lebih dulu. “Cak Ri, kali ini kamu tidak perlu membayar wedhang. Saragun ulang tahun. Dia mau syukuran,” sambut Wak Kopleh, Saragun yang ada di sampingnya tersenyum simpul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here