Ngaso #9: Tenaga Kerja Asing

tenaga kerja asing

Persoalan tenaga asing di republik ini begitu kompleks. Di satu sisi, mereka kok enak-enakan cari duit di sini sementara banyak orang lokal menganggur?

Di sisi lain, kalau memang tidak boleh, ya tutup pintu saja. Problematika itulah yang dipotret dalam perbincangan di Warkop Mas Jo petang lalu. Selepas Maghrib, Cak Ri, Wak Kopleh, Cak Gonggong, dan Saragun nyangkruk di warkop tak jauh dari rumah mereka tersebut.

“Memang, tidak ada berita Surabaya yang mengungkap tenaga asing yang ngalamak di sini. Tapi isunya, di daerah lain, ada orang luar negeri yang hidup ngawur di sekitar pemukiman penduduk,” urai Cak Gonggong membuka percakapan. Koyok tho, imbuhnya, buang hajat sembarangan. Karena, terbiasa dengan kehidupan tidak bersih selama ini.

Sejatinya, kalau sekadar pipis dan e’ek tidak di jamban, juga kerap dilakukan orang-orang di daerah tersebut. Masalahnya, saat ada migrasi berduyun-duyun ke sana, “setoran” di bumi pun makin sak ndayak. Lhah, terus yok opo, jal!?

“Lagipula, untuk apa negara ini ngimpor orang cina. Masak, di mana-mana cina. Kalau lagi jalan-jalan ke Sutos, saya sudah merasa seperti di Beijing. Karena isinya, cina semua. Pas jalan di Pasar Atum, lebih parah lagi. Saya sampai bisa tiba-tiba pakai bahasa cina kalau lagi sambang sana,” Saragun begitu frontal. “Huss. Jangan rasis begitu, kamu, Gun. Jangan melihat orang dari latar belakangnya. Lihatlah dari tingkah laku dan karakternya. Tidak ada orang yang pernah pesan dilahirkan jadi Cina, Batak, Jawa atau lainnya,” Wak Kopleh ndalil.

Saragun menampik. Dia menyatakan, apa yang dia sampaikan itu adalah cermin di masyarakat. Wak Kopleh bisa saja berdalih normatif. Tapi akar rumput, sudah merasa jengah. “Bagaimanapun juga, perspektif koyok pemikiranmu itu tidak adil,” Wak Kopleh tidak mau kalah.

Sementara Cak Gonggong kembali mengeluhkan tenaga kerja asing di luar pulau yang makin membludak. Kabar itu didapatnya dari televisi. Salah satu stasiun menyiarkan, di sebuah pembakit listrik, jumlah tenaga asing dan tenaga lokal bandingannya tiga musuh satu. Parahnya, tenaga asing itu tidak bisa bahasa Inggris. Apalagi, bahasa Indonesia!

Padahal, kedatangan tenaga asing itu salah satunya bertujuan agar mereka bisa melakukan transfer ilmu. Kalau nggacor sama pribumi saja tidak becus, bagaimana bisa mengajari!? Gosip lain, imbuh Cak Gonggong yang kethok sumpek nemen dengan para imigran itu, mereka bawa identitas palsu.

Mendengar itu semua, Cak Ri angkat bicara dengan sok bijak. “Ini kan hanya soal regulasi. Kita lihat lagi, regulasinya membolehkan atau tidak. Kalau ternyata membolehkan, kita tidak boleh menyetop di tengah jalan. Kita tidak boleh mencla-mencle,” papar dia yang saat ngomong menyaksikan kawan-kawannya nyeruput kopi hitam. Hal itu membuatnya nyusul nyeruput kopi susu yang ada di hadapannya.

Cak Ri lantas melanjutkan, selama ini banyak tenaga Indonesia yang kerja di luar negeri. Kenyataan itu juga mesti dipertimbangkan. “Kalau kita mau rakyat Indonesia diterima dengan baik di negara lain, terimalah orang asing dengan baik. Kira-kira, karmanya seperti itu,” papar dia laksana tukang khotbah.

“Jika mereka nggapleki, itu persoalan lain. Ya, harus ditindak. Berdasarkan apa? Ya, dengan aturan yang sudah ditetapkan,” Mas Jo tiba-tiba menambahkan. Oh iya, dia pernah bilang, pernah merantau ke Korea Selatan selama dua tahun pas zaman dulu masih bujang. Meski kemudian, orang Malang itu akhirnya memilih bukan Warkop di Surabaya saja. Walaupun penghasilan dari negeri Ginseng sebenarnya besar juga.

“Kartu AS-nya ada di pemerintah. Bagaimana mereka menegakkan regulasi. Mengubah regulasi, bila diperlukan. Dan, memberikan pencerahan pada masyarakat tentang bagaimana menyikapi tenaga asing dengan proporsional,” terang dia dengan bahasa bak dosen-dosen di kampus. “Koen kesambet opo, Jo. Omonganmu kok duwur ngono?! Koyok wong iyes ae. Padahal, wong no!” Wak Kopleh berseloroh takjub.

BACA JUGA:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here