Ngaso #7: Kota Autopilot

Minggu siang (10/7), Cak Ri kedatangan tamu: adik ipar. Pemuda berusia 22 tahun yang baru dua semester belajar di jurusan ilmu politik itu bernama Sidul. Oleh karena Ning Tin sedang sibuk memberi makan Jojo yang kadang rewel ogah makan, jadilan Cak Ri berbincang berdua saja dengan Sidul di ruang tengah.

Jojo memang kadang males makan. Bayi sembilan bulan itu mesti gelut dulu sama Ibunya sekadar untuk memasukkan seporsi makanan bayi olahan rumah ke perut mungilnya. Ning Tin tampak berusaha keras, sambil menggendong Jojo kesana kemari. Namanya juga bayi, kalau keinginannya yang ogah makan itu dituruti, akhirnya dia bakal kurus dan lapar.

“Cak, tadi malam lihat peresmian Jembatan Suroboyo yang gebyar-gemebyar?” tanya lelaki yang mengenyam pendidikan pondok selama sembilan tahun di Bondowoso tersebut. “Nggak. Kamu kesana?” Cak Ri balik bertanya. “Ya, saya kesana dengan beberapa kawan. Juga, dengan dosen saya,” datar Sidul menjawab.

Tapi, Sidul mengaku tidak kagum dengan kesemarakan tersebut. Apa susahnya buat jembatan? Asal ada uang, jembatan sebesar apapun juga bisa jadi.

Nah, Surabaya punya banyak uang. Kalau hanya buat jembatan dengan hiasan lampu mejikuhibiniu, pasti tidak rumit. “Lima triliunan APBD Surabaya ini, Cak! Lima triliun!,” serunya sambil menampakkan telapak tangan dengan lima jari ke hadapan abang iparnya.

Cak Ri tidak mau larut. Di satu sisi, dia pikir adiknya sudah mulai kritis. Dan, itu bagus. Bu Risma, komandan Pemkot, selama ini tampak begitu terpuji. Namun, bukan berarti dia tidak boleh dikiritik. Asal koreksi itu tidak ngawur, tentu tidak ada salahnya. Di sisi lain, dia pikir adiknya mulai sok pintar.

“Kota ini autopilot, Cak,” sambung Sidul. “Maksudmu?” sergah Cak Ri. Jadi, menurut Sidul, tanpa Bu Risma pun kondisi Surabaya bakal baik. Sebab, tatanan pemerintahan memang sudah bagus. Iklim koruptif di Kota Pahlawan sudah ditekan sedemikian rupa. Kalaupun ada yang “main-main”, semuanya serba cantik. Bagaimanapun juga, warga tetap akan puas dengan pelayanan publik.

Yang menarik, terobosan yang ada selama ini sifatnya sekadar lokal. Tidak ada yang internasional. Rekanan yang modalnya besar, selalu bermasalah. Misalnya, kata Sidul, rekanan Pasar Turi yang bergelimang tanda tanya akan tugas-tugasnya. Atau, rekanan pengelola sampah di LPA Benowo yang kerjanya masih terlalu sering disorot.

Proyek-proyek mercusuar lain, yang sejatinya butuh modal besar, seperti sudah benar-benar mandeg. Contohnya, kata Sidul, pembangunan Trem dan Monorel. Juga, pembangunan Pasar Tunjungan yang hingga sekarang masih wacana.

Kalau bicara tentang kerjasama internasional, mungkin Pemkot punya dalih banyak. Umpamanya, dengan bilang kalau hubungan Surabaya dengan negara-negara lain cukup harmonis. Ya, tapi cuma hubungan yang sifatnya saling kunjung-mengunjungi. Tidak ada yang produktif!

“Pemkot tidak berani mengambil risiko. Terobosan yang diaplikasikan berkutat pada manajemen uang sendiri. Uang kas rakyat Surabaya. Buat ini, buat itu, ya asal ada duit, buat apa saja bisa!” Sidul mulai mendengus nyinyir.

“Kamu habis dapat ceramah dari dosenmu, ya?” Cak Ri berucap singkat. Sidul menampik.

Dia justru menjelaskan, tidak perlu ceramah dari dosen untuk tahu hal itu. Hanya dengan melihat sekeliling, seharusnya warga tahu, pembangunan di Surabaya berjalan karena kekuatan duit APBD yang memang dari rakyat. Bukan karena kecerdasan dan inovasi Pemkot.

Gampangnya, pembangunan atau pelebaran jalan raya saja lambat. Jalan Wiyung, tidak tembus-tembus. Padahal, uang Pemkot banyak dan sanggup untuk membangun lekas sampai rampung. Sayangnya, terobosan percepatan lewat kapabilitas persuasif (lobbying) pihak-pihak terkait pembebasan lahan (termasuk pemilik), kata Sidul, tidak terlihat sama sekali. Tajam di satu sisi, tumpul di sisi lain.

“Lho, selama ini Pemkot kan punya banyak terobosan juga. Misalnya, program aplikasi e-Lampid, e-Health, e-Kios, dan lain-lain. Yang semuanya, mayoritas merupakan pengembangan aspek digital atau sistem informasi,” terang Cak Ri. “Halah, buat itu sih asal ada fulus juga lancar, Cak. Ide seperti itu tinggal nyontek. Semua negara maju kan memang meringkas kegiatan dengan teknologi,” entah mengapa Sidul begitu geregetan dengan Pemkot. Sampai tega menghardik.

Malah, sambung Sidul, lihatlah apa yang dihasilkan eksekutif dan legislatif pas kunker ke luar daerah atau ke luar negeri pakai uang rakyat. Kalau hanya normatif, seharusnya belajar lewat mbah google saja. Tidak usah menguntal harta warga di kas daerah. “Semua pejabat itu aji mumpung,” seloroh Sidul.

Cak Ri merasa, adik iparnya mulai banyak omong dan sok tahu. Mungkin gara-gara banyak dapat ilmu dari bangku kuliah. Tapi, belum terlalu sempurna ilmunya, batin Cak Ri, lha kok pongahnya Sidul sudah memuncak benar.

Sidul sebenarnya anak yang baik. Sembilan tahun mondok, dan apabila ditanya tentang satu hukum fikih (misalnya tentang wudhu), dia akan menjelaskannya dengan variasi sumber empat mazhab. Ini menunjukkan, wawasannya luas.

Tapi soal politik-pemerintahan, menurut Cak Ri, Sidul mesti banyak belajar sebelum main tuding. Cak Ri ingin menasehati adik iparnya yang bertubuh agak tambun dan berwarna kulit sawo matang dengan beberapa jerawat hinggap di wajah itu.

Namun, ponsel Sidul tiba-tiba berbunyi. “Siap komandan. Lapan anam. Saya akan sampai lokasi 30 menit lagi, ya,” sahut Sidul pada suara di seberang yang hanya dia yang tahu itu siapa.

Pemuda itu lantas mematut diri untuk pamit. Sebelum dia meninggalkan rumah, lulusan pondok ini bersalaman dengan Cak Ri sambil mencium tangan kakak iparnya.

Cak Ri pun berujar, “Kamu lulusan pondok. Pasti tahu, kalau berprasangka baik lebih utama daripada berprasangka jelek. Kalau tong kosong, selalu nyaring bunyinya,” sementara hanya sunggingan senyum tipis yang terlihat dari bibir Sidul. Jemarinya bergerak-gerak di atas keypad ponsel: mungkin sedang proses menulis SMS. “Assalamualaikum, Cak,” tutup Sidul pada Cak Ri.

Di luar rumah, di tampak celingak-celinguk. Mencari kakak dan keponakannya yang lagi ada di halaman rumah tetangga tak jauh dari tanaman bunga warna-warni. Ning Tin sedang merayu Jojo agar mau makan sambil melihat kembang. Sementara Sidul, setelah menyapa mereka berdua, langsung ngeloyor pergi dengan sepeda motor keluaran 2005 miliknya.

BACA JUGA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here