Ngaso #4: Jangan Terpancing

Di langgar yang biasanya dijadikan jujukan Cak Ri sembahyang selama bulan puasa ini, tiap 15 hari terakhir Ramadan, menyelenggarakan kuliah subuh. Sebenarnya, mata Cak Ri ngantuk. Mau pulang. Atau paling tidak, mau tidur sambil mendengarkan ceramah pasca sholat wajib tersebut.

Namun, entah mengapa, topik ceramah waktu itu cukup menarik. Seputar perselisihan di kalangan orang Islam dan masyarakat. Semua perselisihan itu, kata Ustadz, menjadi gempar di dunia maya: media sosial.

Jujur saja, Cak Ri kurang paham tentang media sosial. Dia punya akun Facebook, Friendster dan Twitter, tapi sudah lama tidak update. Maka itu, dia tertarik mengkonfirmasi atau mendiskusikan ini dengan Ning Tin, istrinya. Maklum, Ning Tin suka main online shop. Pedagang. Tapi kadang, belanja juga.

Begitu pulang, Ning Tin baru saja menidurkan Jojo. Bocah lincah yang masih delapan bulan itu. “Memangnya iya ya, di facebook itu debat kusir tentang agama masih terjadi? Tadi Pak ustadz waktu kuliah shubuh bilang, sesama muslim saling menyerang. Bahkan, di bulan puasa,” tanya Cak Ri sambil tiduran di lantai beralas tikar daun pandan.

“Ya, biasalah, Mas. Adu argumen seperti itu lumrah di media sosial. Aku sendiri tidak terlau menghiraukan. Yang aku hiraukan cuma barang daganganku. Lha wong mikir barang dagangan saja aku sudah bingung. Kenapa harus mikirno pikirane orang lain,” seloroh Ning Tin.

Cak Ri menceritakan, ustadz bilang kalau perselisihan itu tidak baik. Apalagi, kalau saling menjelekkan. Maka itu, perlu menahan diri. Lebih-lebih, saat ini tergolong bulan Ramadan yang penuh rahmat. “Untung saja aku tidak aktif di media sosial. Jadi, tidak ikut-ikutan rasan-rasan,” ungkap Cak Ri.

“Alhamdulillah. Jadi, Mas tidak usah sibuk-sibuk melakukan hal yang tidak berguna,” sahut Ning Tin. “Kata ustadz, hidup ini mudah, asal kita tidak mudah terpancing,” timpal Cak Ri.

Kalau orang tidak mudah terpancing emosi, dia akan menjadi orang yang ramah. Kalau orang tidak mudah terpancing menggunjing, dia akan punya banyak kawan. Kalau orang tidak mudah terpancing ikut-ikutan pada hal yang tidak berguna, dia akan fokus menggapai mimpi. Kalau orang tidak mudah terpancing informasi yang menyesatkan, dia akan gampang menebarkan kabar membahagiakan.

“Yang paling mungkin memancing hal-hal itu adalah lingkungan kita. Baik di dunia nyata, maupun di dunia maya,” ungkap Cak Ri kemudian. “Mas kok jadi ndalil panjang begini?” Ning Tin yang duduk di atas kursi goyang tua tiba-tiba heran.

“Bukannya aku sok berceramah, aku cuma sedang kepikiran dengan omongan ustadz tadi. Karena dia juga ngomong, gara-gara ocehan di media sosial, sesama teman bisa saling bertengkar sengit. Ini kan tidak baik. Makanya, aku bersyukur, tidak aktif di media sosial,” kata Cak Ri.

Selang sekejap, Jojo merengek. Ning Tin nyaris melompat untuk menuju kamar. Dia lalu neteki Jojo dengan harapan anak tersebut masih bisa terus merem.

Pada bulan puasa ini, Ning Tin kesulitan berpuasa. Karena Jojo lagi butuh-butuhnya asupan ASI. Maklum, dia ASI eksklusif dan belum banyak makan makanan/minuman yang lain.

Tapi, untuk memenuhi kebutuhannya itu, Ning Tin memasak sendiri. Tidak perlu beli di warteg. Ehm, beli di warung nasi pun sebenarnya tidak mengapa. Karena, sejumlah warung di sekitar pemukiman buka seperti biasa. Hanya ditutupi pakai selambu. Ya, kebetulan di Surabaya memang tidak ada larangan warung buka di bulan Ramadan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here