Ngaso #3: Teraweh Ngebut

tenaga kerja asing

Habis pulang teraweh, Cak Ri mampir warkop. Mau ngopi sebentar barang setengah jam. Baru pulang dan ngaji barang sejuz. Seperti biasa, tujuan cangkruk Cak Ri di warkop depan pemukiman hanyalah agar bisa bersosialisasi. Sebab, selama beberapa hari Ramadan ini, dia tidak sempat berjumpa dengan kawan-kawannya. Kebanyakan waktu dihabiskannya di rumah. Tidur!

“Cak Ri, sampean sembahyang di langgar mana? Kok lambat sekali. Jam delapan baru rampung. Di tempatku, setengah delapan sudah selesai, sak kultume,” Wak Kopleh membuka percakapan. “Hembooook. Sholat pirang raka’at itu, Wak?” Cak Ri kontan terperanjat. ”Dua puluh tiga. Joss gak?!” sahut lawan bicaranya yang sudah nyaris kepala enam itu. “Syukur sampean gak kena encok, Wak,” sambut Cak Ri lalu duduk santai tanpa memesan minum.

Saragun, seorang non Islam yang sedang ikut cangkruk tiba-tiba ikut nimbrung. Dia bilang, kadang merasa aneh dengan orang-orang yang beribadah ngebut-ngebutan. Balap-balapan. Setahu dia, seperti yang didengarnya di televisi yang kalau bulan puasa nyaris “full AC” menayangkan acara Islam, bulan ini penuh barokah dan ampunan. “Kalau saya dapat bulan istimewa kayak gitu, saya akan full ibadah. Tidak mau lekas selesai. Tidak mau pasang gas pol. Santai saja. Dinikmati,” kata dia yang justru terdengar menggurui di telinga Wak Kopleh.

Agak kesal, Wak Kopleh langsung mengeluarkan jurus skak. “Lha Gun, kenapa ente gak pindah agama saja. Biar dapat bulan istimewa?!” seloroh dia lantas makan tempe menjes. “Soalnya, saya belum yakin dengan agama sampean. Sedangkan agama itu kan soal kepercayaan. Tidak bisa dipaksakan. Kadang, kita merasa sesuatu itu baik. Tapi untuk melakukannya, memasukinya, kita butuh keyakinan,” papar Saragun.

Wak Kopleh ogah terlalu ikut campur dengan agama Saragun. Di sisi lain, dia tidak menganggap Saragun layak berkomentar tentang teraweh. Lha wong dia sendiri tidak pernah teraweh. Tidak pernah tahu rasanya teraweh dua puluh tiga raka’at. Ya, tapi sekali lagi, Wak Kopleh tidak mau memperdebatkannya dengan Saragun.

Lhah dalah, malah Cak Gonggong yang kemudian nyeletuk. “Wak Kopleh. Sampean kan sudah tua. Seharusnya, kalau sholat itu yang khusyuk. Yang tumakninah. Benar kata Saragun. Teraweh itu harus dinikmati. Sampean mau jalan sebelas raka’at, atau dua puluh tiga, terserah. Tapi kudu tenang. Jangan kayak olahraga senam pakai lagu heavy metal begitu,” dia lantas minum kopi susu khas warkop Mas Jo. “Ingat teraweh itu hanya setahun sekali. Sebulan penuh. Manfaatkanlah. Jangan cepat-cepatan!,” imbuhnya lagi.

Kali ini, Wak Kopleh dibuat emosi. Bukan apa-apa, Cak Gonggong yang saat itu memakai celana pendek, diyakininya tidak ikut teraweh. Lha lapo ikut-ikutan nyocot soal ibadah khas Ramadan yang satu ini. “Hei Nggong! Kamu lho sepanjang hari tidur. Buka puasa di warkop gak pakai sholat magrib. Sampai isya rampung, sampai orang-orang pulang teraweh, masih di sini menemani Mas Jo ngudek kopi. Nah, kenapa kamu ndalil soal teraweh ke saya? Gak salah urat otakmu?!” sergah Wak Kopleh.

Melihat kondisi mulai memanas, Cak Ri mengelus pundak Wak Kopleh. Kuatir orang tua itu kenak darah tinggi atau serangan jantung. “Sudah, Wak. Tidak usah ngotot. Gimana kalau kita tadarus saja di langgar tempat saya teraweh tadi. Di sana, banyak camilannya. Tidak pakai speaker atas. Jadi, kalau suara kita elek, tidak terdengar orang banyak. Santai di sana, baca Al Qur’an, diselingi minum kopi. Kebetulan, takmirnya menyiapkan kopi aceh buat orang-orang yang tadarus sampai jam 12,” kata Cak Ri yang mulai berniat membatalkan tadarus di rumah.

Wak Kopleh menerima ajakannya. Setelah saling bersalaman dengan Saragun, Cak Gonggong, dan Mas Jo, mereka yang masih berkopiah dan sarung itu menuju langgar.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here